Epidemiolog: Lonjakan Kasus Covid-19 Tak Semata karena Varian Baru, tapi Abai Prokes

Ilustrasi. - Freepik
29 Juni 2021 12:47 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Indonesia sedang dihadapkan dengan jumlah kasus Covid-19 yang semakin hari semakin tinggi. 

Beberapa daerah hampir semuanya mengalami tren kenaikan kasus covid-19 bahkan beberapa daerah mengalami lonjakan signifikan menebus rekor harian.

Di DIY sendiri, penambahan kasus Covid-19 per Senin (28/6/2021) kemarin sebanyak 859 orang, angka ini merupakan angka tertinggi sejak pandemi Covid-19 melanda DIY pada Maret 2021. Sementara untuk angka kematian juga mencapai rekor tertinggi, yakni 32 orang.

Kenaikan tajam kasus positif Covid-19 ini menurut epidemiolog UGM Bayu Satria Wiratama bukan disebabkan varian baru saja namun karena masyarakat abai akan protokol kesehatan seperti mencuci tangan,memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi. Selain itu pemerintah dinilai masih dalam melaksanakan upaya pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing) dan perawatan (treatment) atau dikenal dengan istilah 3T.

“Kenaikan wajar karena 3T kurang dan masyarakatnya abai sama 5M,” kata Bayu Satria, dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, belum lama ini. 

Baca juga: Varian Baru Ancam Usia 0-18 Tahun, Kampanye Covid-19 Anak Remaja Digencarkan

Menurut dia, kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) perlu dievaluasi apalagi masyarakat semakin abai akan protokol kesehatan. “PPKM mikro harus dievaluasi. Jangan diperpanjang tanpa evaluasi apapun karena kita tidak tahu kendala apa yang menyebabkan gagalnya PPMKM mikro. Selain masalah 3M yang tidak dijalankan masyarakat, ada peran pemerintah yang kurang disana terutama soal lawan hoaks dan orang orang yang suka menyebarkan informasi salah,” tegasnya.

Bayu Satria menilai varian baru bukan 100% penyebab utama dari naiknya kasus Covid-19 di Tanah Air namun kombinasi antara protokol kesehatan yang dilanggar terus menerus melalui pelonggaran disertai varian baru.

Soal munculnya wacana untuk melakukan lockdown untuk menekan laju kenaikan covid-19, Bayu Satrio menyarankan pemerintah pusat dan daerah jangan terburu-buru dalam mengambil suatu kebijakan. Sebab menurutnya apapun kebijakan yang diambil harus dilakukan dengan mempertimbangkan data yang jelas. “Harus ada dasar yang jelas dari data maupun lainnya termasuk aspek epidemiologinya. Yang sering terjadi adalah kebijakan diambil tanpa pertimbangan yang jelas kemudian tidak pernah dievaluasi,” pungkasnya.