Ini Data Jumlah Warga DIY yang Meninggal Saat Isolasi di Rumah

Prosesi pemakaman jenazah Covid-19 yang dilakukan tim pemakaman Satgas Covid-19 Sleman belum lama ini. - Ist/dok PMI Sleman
01 Juli 2021 17:07 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Lonjakan pasien Covid-19 dan kapasitas rumah sakit yang penuh menyebabkan sejumlah warga DIY meninggal saat menjalani isolasi mandiri di rumah.

Tingginya kenaikan kasus Covid-19 di DIY juga berkorelasi terhadap kenaikan pemakaman dengan protokol kesehatan. Bahkan pada 29-30 Juni pukul 08.00 WIB sampai pukul 04.00 WIB relawan Posko Dukungan Operasi Satuan Tugas Covid-19 DIY ada 100 pemakaman dengan protokol kesehatan.

Data tersebut yang meninggal di rumah sakit sebanyak 82 kasus dan meninggal dunia di rumah saat melakukan isolasi mandiri sebanyak 18 orang. Kasus meninggal saat isolasi mandiri di rumah terbanyak dari Gunungkidul tujuh orang, Kulonprogo empat orang, Jogja dan Bantul masing-masing tiga orang, dan Sleman satu orang.

“Kematian di rumah menghitung kita bikin update harian. Sampai hari Minggu nanti Prediksi kami wilayah Kulonprogo dan Gunungkidul dominan kematian di rumah,” kata Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY,Wahyu Pristiawan Buntoro, dalam jumpa pers dengan wartawan melalui Zoom Meeting, Kamis (1/7/2021).

Prstiawan mengaku belum bisa menyebutkan data secara keseluruhan sejak dua pekan terakhir karena data baru akan diperbaharui setiap Sabtu. Namun berdasarkan data Posko Dukungan Operasai Satgas Covid-19 selama Juni 2021 sampai Sabtu (26/6/2021) pukul 23.00 WIB sebanyak 381 orang. Sementara pada Mei 2021 sebanyak 221 orang. Secara keseluruhan sejak Maret 2020 sampai 26 Juni 2021 total pemakaman dengan protokol kesehatan sebanyak 2.313 orang.

Pris-sapaan akrab Wahyu Pristiawan Buntoro mengatakan peningkatan pemakaman dengan protokol kesehatan terlihat sejak dua pekan terakhir di Juni ini atau seiring dengan kenaikan kasus Covid-19, bahkan yang meninggal dunia saat isolasi mandiri (Isoman) di rumah juga tinggi. Namun Pris memastikan tidak semua orang yang dimakamkan adalah sudah terkonfirmasi positif Covid-19. “Ada juga yang masih terduga atau suspect Covid-19,” ujar Pris.

Pris mengaku tidak bermaksud menubrukan data dengan yang dirilis Pemda DIY, namun memang kenyataan demikian sehingga semua pihak perlu mengetahui bahwa pemakaman dengan protokol kesehatan meningkat. Terbukti dalam dua pekan terakhir walaupun belum dinyatakan resmi varian baru virus Corona masuk DIY namun penularannya cukup cepat dan masig.

“Saat makin banyak terpapar terjadi stagnasi di rumah sakit, diperparah krisis oksigen turunlah puskesmas sebagai pintu pertama mana yang perlu dirujuk mana enggak sudah buntu tak mampu lagi rujukan dan apes jadi sasaran masyarakat. Harusnya dirujuk tapi disuruh isolasi mandiri,” kata Pris.

BACA JUGA: Di DKI Jakarta, Anak 12 Tahun ke Atas Sudah Bisa Divaksin Covid-19

Banyaknya yang isolasi mandiri karena terjadi antrean di rumah sakit. Kapastas over dipeparah keterbatasan perlatan pendukung untuk yang isolasi mandiri, akhirnya tidak tertangani maksimal terjadi lonjakan. “Yang jadi kekhawatiran isoman meninggal di rumah,” katanya.

Koordinator Relawan Gunungkidul, Agus Kenyung menambahkan secara data pasti dia tidak tahu, namun mobilitas ambulans yang mengantar pasien Covid-19 akhir-akhir ini cukup tinggi, setidaknya sejak Juni ini. Bahkan beberapa rumah sakit penuh. Bahkan ada dua pasien yang isoman namun karena mengalami perburukan akhirnya meninggal dunia saat sampai rumah sakit.

“Satu malam meninggal di depan rumah sakit. Dia isoman benar-benar sakit diantar ke rumah sakit meninggal dalam satu malam dua orang. Jam 09.00 WIB [Kamis, 1 Juli 2021] ini salah satu desa di Gunungkidul yang isoman di desa meninggal dunia. Padahal malamnya sudah dua kali. Pagi ini harus makamkan satu dan meninggal dunia di rumah atu, satu di rumah sakit, satu di rumah,” papar Agus.