Pintu Masuk Jogja Disekat, Wajib Bawa Kartu Vaksinasi & Hasil Swab

Petugas memeriksa kendaraan yang hendak masuk ke Jogja, di pos Penyekatan Tempel, Sleman Selasa (6/7). - Harian Jogja/Lugas Subarkah.
07 Juli 2021 14:27 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, UMBULHARJO - Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja menyebut, selama pemberlakuan PPKM Darurat di wilayah setempat pemerintah akan fokus pada upaya pengurangan mobilitas warga lewat imbauan di rumah saja. Pengurangan mobilitas warga disebut merupakan salah satu kunci dalam pengendalian Covid-19.

Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengaku telah melakukan pelbagai upaya untuk mengurangi mobilitas warga. Kebijakan seperti penyekatan di sejumlah tempat, mematikan lampu jalan dan patroli rutin dilakukan guna mengurangi mobilitas warga.

"Kami melakukan penyekatan di Jl Solo, Jl Magelang, Wirobrajan, dan Jl Parangtritis. Sekat ini utk menepis kendaraan dari luar kota yang akan masuk ke Jogja. Setidaknya kalau ingin masuk mereka harus menunjukkan kartu vaksinasi, antigen/PCR yang berlaku, KTP dan juga tujuannya. Ini sebagai upaya untuk meredam mobilitas warga," kata Heroe, Rabu (7/7/2021).

BACA JUGA : Cegah Kerumunan, Dishub Sleman Padamkan LPJU

Pemkot Jogja juga berupaya memadamkan lampu jalan di kawasan Malioboro. Sebab tempat itu selama ini kerap memicu kerumunan warga. Sehingga di masa PPKM Darurat, pihaknya memutuskan untuk mencegah timbulnya kerumunan dengan memadamkan lampu jalan.

Hanya saja Heroe mengakui bahwa dalam beberapa hari terakhir masih ada warga dan pedagang yang bandel atau belum tahu terkait dengan aturan di masa PPKM Darurat.

"Dalam hari pertama pelaksanaan masih ditemukan adanya warga yang nongkrong. Meskipun langsung bisa kita bubarkan. Dengan penutupan dan pembatasan akses di Malioboro agar menjadi simbol bahwa kita semua untuk mentaati aturan PPKM Darurat. Dan oleh karena itu, tempat lainnya juga kita lakukan operasi, patroli dan penertiban," imbuhnya.

Dia juga meminta agar di masa PPKM Darurat ini warga bisa menahan diri dan tidak keluar rumah jika tidak perlu. Jargon di rumah lebih baik akan terus digalakkan untuk menyadarkan masyarakat setempat. "Gerakan ini harus bisa menjadi gerakan semua warga," imbuhnya.

BACA JUGA : Sejumlah Ruas Jalan di Yogyakarta Ditutup - Semarang

Heroe menerangkan, upaya dalam melawan pandemi Covid-19 adalah usaha yang berkejaran dengan waktu. Semakin cepat upaya dalam menekan laju mobilitas warga, maka hasil yang diperoleh juga akan semakin optimal lewat penurunan kasus. Begitu pula sebaliknya.

"Sebab kita ini bermain dengan virus dan masa inkubasinya. Maka kami himbau, kepada masyarakat, mari kita percepat upaya kita untuk tinggal di rumah, lebih baik agar pertumbuhan kasus bisa cepat ditekan," katanya.

Kapolresta Jogja, Kombes Pol Purwadi Wahyu Anggoro mengklaim bahwa upaya penyekatan yang dilakukan di sejumlah titik berjalan cukup efektif dalam mencegah mobilitas warga khususnya yang berasal dari luar daerah. "Sangat efektif. Polri juga memberikan imbauan kepada masyarakat bahwa apabila tidak sangat perlu agar tetap di rumah. Terutama malam hari," ungkapnya.

Hanya saja, Purwadi tidak menjelaskan detail mengenai upaya kepolisian dalam menekan mobilitas warga lokal. Dia menyebut bahwa mekanisme dalam mengurangi mobilitas warga lokal sama dengan yang dilakukan kepada warga luar daerah, namun kepada warga lokal tidak dilakukan pengecekan surat.

"Ya. Diutamakan plat luar kota. Tapi prinsipnya sama. Kita mengurangi mobilitas masyarakat," pungkasnya.