Kebutuhan Peti Mati Melonjak di Tengah Wabah Covid-19

Foto ilustrasi: Petugas pemakaman membawa peti jenazah korban COVID-19 untuk dikuburkan di TPU Pondok Rajeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (29/6/2021). - ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
11 Juli 2021 13:57 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Peningkatan kematian pasien Covid-19 di Bantul telah berdampak pada peningkatan permintaan peti mati di tingkat perajin. Bahkan, perajin peti mati mengaku kewalahan memenuhi target pembuatan.

Seperti yang dialami oleh perajin di Jalan Parangtritis, Canden, Jetis, Bantul, Srini. Selama sepekan terakhir, dirinya bersama dengan suaminya mengaku kewalahan dengan permintaan peti mati yang mengalami peningkatan signifikan.

BACA JUGA : Pesanan Peti Mati Naik 5 Kali Lipat, Perajin Kewalahan

“Sepekan ini permintaan meningkat. Sehari bisa 10 peti. Padahal biasanya, kandang sehari bisa tidak ada yang terjual,” kata Srini, Minggu (11/7/2021).

Oleh karena itu, Srini mengaku pihaknya mengaku sedikit kewalahan dengan adanya peningkatan jumlah permintaan peti mati. Sebab, selama ini, peti mati dibuat oleh suaminya dibantu oleh beberapa tukang. Sedangkan untuk bahan baku berupa papan, diakui Srini saat ini agak sulit.

Padahal, menurut Srini, selama ini peti mati yang dibuat oleh suaminya tersebut dibanderol dengan harga Rp500.000 per peti. Sejauh ini belum ada rencana dari pihaknya meningkatkan banderol peti mati yang dijualnya. 

“Sementara untuk memenuhi permintaan, kami harus memotong kayu sendiri. Karena saat ini cukup sulit untuk bisa mendapatkan blabaknya [papan kayu], untuk itu kami pilih memotong kayu sendiri,” jelas Srini.

BACA JUGA : Begini Kronologi Jenazah Pasien Covid-19 di Bantul 

Peningkatan jumlah kematian di Bantul dalam sebulan terakhir juga diakui oleh Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Bantul, Bambang Purwadi.

Meski tidak memberikan penjelasan secara rinci, terkait angka dan jumlah kematian akibat Covid-19 maupun non-Covid-19, namun Bambang mengakui ada peningkatan permintaan akta kematian selama sebulan terakhir.

“Permintaan akta kematian ada peningkatan sekitar 10 persen pada bulan lalu. Tapi, apakah ini karena Covid-19, saya belum bisa pastikan. Yang jelas memang ada peningkatan permintaan akta kematian di tempat kami,” jelasnya. 

Sementara Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Bantul, Sri Wahyu Joko Santosa mengatakan dalam sepekan terakhir angka kematian Covid-19 masih cukup tinggi, yakni kisaran angka 10 kasus per harinya. Oki-panggilan akrab Sri Wahyu Joko Santosa memerkirakan tingginya angka kematian disebabkan karena progresivitas penularan virus yang tinggi.

“Ya, karena tingginya progresivitas penularannya. Di mana, semakin cepat mudah menular dan semakin tinggi keganasannya," jelasnya.