Kisah Pilu Mahasiswa Indekos Meninggal Akibat Covid-19

Ilustrasi. - Freepik
22 Juli 2021 09:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Rara, (bukan nama sebenarnya) masih memendam duka. Lepas sepekan, Aji (nama samaran) teman kuliah Rara telah tiada. Anak indekos yang malang itu akhirnya gugur usai berjuang melawan virus Corona. Berikut kisahnya.

Rara, 25 dan Aji, 28 indekos di satu kalurahan, Sinduadi, Mlati, Sleman. Hanya beda dusun. Rara di wilayah Pogung sementara Aji di Kutu Dukuh. Karena sama-sama perantau dari Jakarta dan menimba ilmu di kampus yang sama, keduanyapun menjadi sahabat baik.

Sebulan terakhir, Aji, Rara dan teman-temanya sibuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Bersama teman-teman satu kelompok lainnya, Aji dan Rara seperti berpacu dengan waktu. Mengejar deadline jadwal persidangan, syarat sebelum diwisuda.

BACA JUGA : 200 Mahasiswa di Jogja Dikerahkan Jadi Sukarelawan

Sampai akhirnya, petaka datang pada awal Juli 2021, saat Aji mulai menunjukkan gejala Covid-19. Usai menjalani swab pada Senin (5/7/2021) Aji dinyatakan terpapar Covid-19. Tak ada pilihan, Aji harus melakukan isolasi mandiri (Isoman).

Ibu kos mengizinkan Aji isoman di kos dengan sejumlah syarat. Ia memilih kamar kosnya yang mungil sebagai lokasi isoman setelah tahu semua selter penuh dengan pasien. Sebagai anak kos, Aji pun tak sanggup melakukan isoman di hotel dengan rate Rp350.000 per hari.

Isoman di kos justru membuat kondisi kesehatan Aji menurun. Apalagi Aji mengalami anosmia, pusing, nafas sesak serta kehilangan nafsu makan. Tetapi ketika itu saturasi oksigennya masih aman. Meski naik turun.

Rabu (7/7/2021) malam saturasi Aji mulai menurun, 80-an. Nafasnya mulai tersengal. Tak ada oksigen di kosnya. Kondisi semua rumah sakit saat itu masih penuh dengan pasien. Aji pun meminta tolong kepada Rara untuk mencari oksigen.

Rara bersama beberapa teman, termasuk dosen prodinya, mencari informasi IGD di berbagai rumah sakit rujukan. Hasilnya nihil. Ketersediaan oksigen di berbagai tempat pun sama. Karena sudah larut malam, mencari oksigen bagi Rara tentu tak mudah. Apalagi krisis oksigen saat itu masih melanda rumah-rumah sakit rujukan Covid-19 di DIY.

Kemudikan Motor ke Rumah Sakit

Meski melakukan proning, kondisi Aji semakin pagi semakin ngedrop. Kamis (8/7/2021) kala subuh datang, Aji meminta Rara untuk menemaninya ke rumah sakit. RS Sardjito dipilih karena dekat dengan kosnya. Ia sudah tak tahan dengan sesak nafas yang dialami. Kondisi kesehatannya terus memburuk.

Dalam kondisi genting, tanpa pikir panjang Rara menyanggupi permintaan Aji. Setelah sholat subuh, perempuan muda ini membawa sepeda motornya menuju ke kos Aji. Untuk menyelamatkan sahabatnya.

BACA JUGA : Datang ke Sleman, Mahasiswa Harus Kantongi Bukti Sudah

Dengan menahan rasa sakit, Aji menaiki motornya bergerak ke arah RS Sardjito. Di belakangnya, sepeda motor Rara menguntit. Kondisi Rara saat itu sebenarnya masih demam.

Bisa dibayangkan, pasien Covid-19 dengan kondisi ngedrop membawa dirinya sendiri ke rumah sakit. Aji, kata Rara, sebenarnya sudah antri masuk ke selter, dia dijadwal tiga hari (sejak Rabu) masuk selter. Tapi sebelum masuk selter, Aji masuk rumah sakit lebih dulu.

"Saya sudah tidak berfikir panjang, masuk IGD Sardjito, ngurus administrasi, masuk ke poli Covid-19 tanpa APD, saya tahu resikonya. Dalam pikiran saya waktu itu, bagaimana Aji segera ditangani," cerita Rara kepada Harianjogja.com, Sabtu (17/7).

Sampai di rumah sakit, beruntung, Aji langsung mendapatkan bed di depan bangsal. Ia juga langsung ditangani, dapat oksigen, makan dan minum. Sementara Rara mengurus administrasi pendaftaran di poli Covid.

"Saya melihat, jumlah perawat yang bertugas memang tidak sesuai dengan jumlah pasiennya. Saya bersyukur Aji ada di dalam ruangan dan langsung dapat penanganan," katanya.

Rara juga menghubungi beberapa teman dan keluarga Aji melalui pesan WhatsApp. Ia tak mau pergi dari poli Covid-19 sampai segala kondisi Aji jelas. Setelah beberapa waktu mendapat penanganan medis, kondisi Aji rupanya mulai membaik. Saturasinya mulai normal.

"Di ruangan poli Covid itu, pasien-pasien sebagian besar ada yang menunggui. Tidak semua memang, hanya sebagian saja. Sementara menurut pengamatan saya, jumlah nakes tidak sebanding dengan jumlah pasien," ceritanya.

Setelah bercakap banyak hal dengan Aji dan memenuhi kebutuhannya sementara di RS, menjelang siang Rara pun pamit untuk pulang ke kos. Sebelum ke kos, Rara menjalani swab karena mulai mengalami gejala Covid-19. Hasilnya, Rara pun dinyatakan positif.

Rara pun memutuskan masuk selter. Selain kondisi di kosnya tidak memadai untuk menjalani isoman, Rara khawatir Covid-19 menulari teman-teman kosnya. Di selter, Rara masih berkomunikasi dengan Aji via WhatsApp. Hari pertama, kondisi Aji aman, tidak ada kendala apa-apa.

Kesulitan Makanan

Hari kedua di rumah sakit, Aji memberi kabar melalui chat kalau air minumnya hampir habis. Aji tidak tahu posisi galon. Saat itu di sekitarnya juga tidak ada perawat. Selain haus, Aji juga mengabari Rara kalau lapar. Tapi ia tak doyan makan, seleranya terbayang roti sobek.

Rara pun memesan makanan melalui aplikasi GoFood membeli roti dan minuman untuk Aji. Skenarionya ojol akan menitipkan minuman dan makanan ke satpam, kemudian oleh satpam dititipkan nakes untuk diberikan kepada Aji. Tapi rencana itu buyar.

Sebab, pagi itu satpam belum ada dan nakes yang ada sangat sibuk untuk dititipi makanan. Ojol juga tidak mau ambil risiko untuk masuk ke poli covid. Dua kali Rara mencoba skenario tersebut. Pertama gagal, yang kedua nyaris gagal.

BACA JUGA : KABAR KAMPUS: Cegah Covid-19, PMB Dilakukan Daring

"Akhirnya saya minta ojol itu untuk pergi saja, makanan yang saya pesan saya berikan untuk ojol tersebut. Saya dan teman-teman bingung, gimana caranya mengantar makanan dan minuman untuk Aji," katanya.

Kata Aji, ujar Rara, nyaris tak ada naskes saat itu. Mereka seperti hilang karena bertumbangan. Membaca pesan Aji, Rara mulai panik. Betapa susahnya mengirim makanan dan minuman kepada pasien dalam situasi genting seperti itu.

Di RS, kata Rara, sebenarnya ada air, tetapi tidak semua pasien terkontrol dapat air minum. Jadi pasien memang harus ada yang menunggui dengan risiko terpapar Covid-19. Sementara nakes karena jumlahnya terbatas, hanya mengurus hal-hal yang sangat penting, seperti oksigen, air dan selang infus.

Kiri Kanan Jenazah

"Pada akhirnya, Aji bisa makan roti sobek dan minum setelah ia meminta bantuan salah seorang ibu yang juga sedang menunggu pasien di bangsal. Ibu itu mau mengambil bekal dari tangan ojol," katanya.

Rara dan teman-temannya lega, namun mereka harus memikirkan bagaimana persediaan makanan dan minuman untuk Aji bisa terjamin. Lewat informasi dari dosennya, akhirnya ada relawan di rumah sakit yang siap membantu Aji.

BACA JUGA : Sebanyak 87 Warga DIY Hari Ini Meninggal Dunia karena Covid-19

Sabtu (10/7/2021) pesan singkat dari Ponsel Rara berbunyi. Aji mengabari kalau pagi itu banyak pasien Covid-19 yang meninggal. Apalagi malam harinya sekitar rumah sakit diguyur hujan, hingga tenda darurat Covid-19 di depan IGD pun digenangi air.

Rara pun mencoba menenangkan Aji. Aji akhirnya tenang. Hingga pada Sabtu malam, suasana kelam sepertinya terus menyelimuti rumah sakit. Aji dikabarkan ngedrop. Saturasi oksigennya turun hingga 60.

Oleh relawan yang dimintai tolong dosen Rara, Aji akhirnya dibawa ke ICU. Nafasnya tersengal-sengal, menahan sakit. Itu sekitar pukul 21.00 WIB. Sesampainya di ICU, Aji masih mengantre. Antrean di ICU saat itu mencapai 18 orang. Panik, bingung menghantui Rara dan teman-temannya.

"Malam hari, Aji sempat balas chat saya kalau saturasinya sudah 92. Kondisinya sementara baik tapi masih menunggu antrean, di depan ICU," kata Rara.

Yang membuat Rara speachless, Aji bilang kalau bed tempat terbaring berdekatan dengan sejumlah jenazah. Jenazah itu merupakan pasien Covid-19 yang menunggu pemulasaraan. Rara coba menyemangati Aji.

"Yang saya khawatirkan adalah mentalnya down karena ada jenazah di sampingnya," ujar Rara.

Hingga Minggu (11/7/2021) siang, Aji masih terbaring tak jauh dari jenazah yang sama seperti malam harinya. Aji masih menunggu antrean ICU, saturasinya masih naik turun. Jelang sore, sekitar pukul 15.00 WIB kondisi Aji mulai kritis. Aji sempat dilaporkan henti napas, namun setelah ditangani oleh nakes, napasnya kembali.

BACA JUGA : 28 Warga Gunungkidul Meninggal karena Covid-19, 7 Diantaranya saat Isoman di Rumah

"Saya kembali berkirim pesan padanya. “Kuat yok bisa yooook!!” meskipun chat saya nggak pernah dibalas. Baru pukul 18.10 WIB saya mendapat kabar, Aji meninggal dunia. Perkiraannya dia meninggal pukul 17.00 WIB," ujar Rara.

Setelah bermusyawarah dengan keluarga Aji di Jakarta, jenazah Aji pun dikebumikan di TPU Madurejo, Prambanan pada Senin (12/7/2021) pagi. Sebab, tak mungkin jenazah dikirim ke Jakarta. Selain pasien Covid-19, mencari ambulan saja saat itu cukup susah.

Diskriminasi

Rara mengakui, ada banyak hal yang dialami anak-anak kos saat menghadapi pandemi Covid-19. Akses informasi terkait layanan Covid-19 yang masih terbatas, pelayanan selter untuk isoman yang tidak memadai hingga diskriminasi.

"Saya berpikir, kondisi ini tidak akan terjadi jika pemerintah lebih tanggap. Jika fasilitas kesehatan memadai, jumlah nakes dan tempat-tempat penting untuk pasien Covid-19 itu mencukupi, maka tidak terjadi seperti yang dialami Aji," katanya.

BACA JUGA : Rekor, 52 Warga DIY Meninggal karena Covid-19

Masalah selter bagi anak-anak kos, kata Rara, seharusnya disediakan di sentra-sentra indekos. Namun di wilayah Pogung dan sekitarnya, tidak ada layanan itu. Padahal di Sinduadi dan wilayah Sleman umumnya, banyak warga, pekerja dan keluarga yang indekos.

"Kalau isoman di kos, jelas tidak memungkinkan. Belum risiko diusir dari kos karena takut tertular. Mau ke selter, aksesnya terbatas. Jadi butuh literasi bagi anak-anak kos agar kasus Aji tidak terjadi lagi," ujarnya.