Anak Harus Dilindungi dari Dampak Tak Langsung Covid-19

Kepala Centre for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati, memberi paparan dalam webinar Hari Anak Nasional, Jumat (23/7/2021). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
23 Juli 2021 17:27 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Meski memiliki risiko klinis yang lebih kecil, dalam masa pandemi Covid-19 ini anak berpotensi menjadi sumber penularan Covid-19 bagi orang di sekitarnya. Pandemi juga berdampak tidak langsung bagi kesehatan psikologis anak.

Hal ini menjadi pokok pembahasan dalam webinar Harian Jogja dengan tema Lindungi Anak dari Covid-19 untuk Menyelamatkan Generasi Indonesia yang digelar untuk memperingati Hari Anak Nasional, Jumat (23/7/2021).

Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM sekaligus dokter spesialis anak RSUP Dr Sardjito, Mei Neni Sitaresmi, menjelaskan kondisi sekarang jumlah anak terinfeksi Covid-19 makin besar.

“Samopi sekarang 13% proporsi anak yang terinfeksi. Artinya satu di antara delapan orang yang terinfeksi adalah anak anak. Ada lebih dari 360.000 kasus. Meski demikian kematian dibanding usia lanjut lebih kecil, karena anak relatif lebih sehat, tidak ada komorbid misal obesitas, diabetes, hipertensi dan sebagainya,” ujarnya.

Sebesar 70% anak yang terinfeksi tidak disertai gejala. Namun justru hal ini kadang menjadi masalah karena rekognisi orang tua terlambat. Tidak segera diketahuinya anak terinfeksi menyebabkan anak bisa jadi sumber penularan bagi lingkungan.

Dengan semakin penuhnya rumah sakit, orang tua disarankan untuk merawat anak yang terinfeksi di rumah atau isolasi mandiri jika kondisinya gejala ringan atau tidak bergejala. Gejala ringan meliputi batuk, pilek, demam, diare, muntah dan ruam-ruam.

Kepala Centre for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati, mengatakan selain dampak langsung, anak juga mendapatkan dampak tidak langsung dari pandemi. Dalam situasi seperti ini, anak mengalami the longest and the darkest effect of pandemic.

“Anak anak hidupnya masih panjang dan dinamikanya masih banyak. Kita harus waspada kenapa anak tertekan karena mungkin lihat orang tua tertekan, menghindari bahaya yang tak tampak, orang tua kekurangan. Tertunda dalam pemenuhan kesehatan, kebutuhan kesehatan yang pada masa biasa sudah cukup bagus, di masa pandemi ini misal imunisasi mungkin juga tertunda,” katanya.

Anak usia dini yang harus belajar online juga kehilangan masa emasnya, karena hanya belajar di rumah dan tidak mengenal dunia luar. Di samping itu, anak harus melihat hidup yang berat di saat mereka belum memiliki bekal yang cukup, sehingga berdampak pada psikologis anak.

Untuk mengatasinya, diperlukan kerja sama yang bagus antara orang tua dan sekolah. “Anak kuat dan bahagia kalau sekolah dan orang tua kerja sama melewati pandemi. Sekolah jangan cuma mindah pelajaran offline jadi online, tapi harus ada strategi khusus. Bukan jadi penagih tugas seperti debt collector. Ini yang membuat anak kesulitan ikuti sekolah online,” ungkapnya.