Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Bantu Cegah Penularan Covid-19 ke Dokter Gigi

Ilustrasi. - Freepik
27 Juli 2021 21:37 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) mencatat, 46 dokter gigi telah meninggal setelah terinfeksi COVID-19. Sementara ribuan lainnya terinfeksi, namun sembuh setelah menjalani perawatan.

Tugas dokter gigi melayani pasien memang beresiko besar terpapar virus dari pasiennya. Posisi dokter yang sangat dekat dan langsung bekerja di mulut pasien menjadi penyebabnya. Apalagi, seperti diketahui, cara penularan virus ini salah satunya adalah melalui aerosol dari mulut seseorang.

Untuk mengurangi potensi penularan itu, sekelompok mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada, mencoba mengkreasikan alat pendukung praktik bagi dokter gigi. Mereka menyebut alat ini sebagai Aeroject.

Aerosol sendiri adalah partikel padat atau cair yang sangat kecil dan ringan, sehingga dapat tersuspensi mengapung di udara. Ketika bekerja, dokter gigi menggunakan alat bertekanan udara tinggi maupun alat putar berkecepatan tinggi.

“Nah, alat itu juga bisa menimbulkan semprotan air, sehingga akan menghasilkan aerosol ketika berkontak dengan cairan di rongga mulut pasien,” kata Aini Hasibah Ningtyas, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UGM yang juga ketua tim penelitian ini.

Secara rinci, Aini menjelaskan, cairan rongga mulut pasien baik itu air liur, darah, maupun cairan gusi ketika "ditembak" atau berkontak dengan air bertekanan tinggi dari alat dokter gigi akan terpecah. Proses ini menimbulkan partikel cair yang sangat kecil dan ringan serta dapat mengapung atau melayang di udara, yang disebut sebagai aerosol. Secara mudah, ilustrasi mengenai aerosol adalah semacam bola kecil, yang di dalamnya dapat termuat virus.

“Karena virus COVID-19 ini menempel di organ pernapasan, termasuk orofaring dan nasofaring, maka sangat mungkin ikut terbawa oleh aerosol yang terhambur saat dokter gigi berpraktik melayani pasien,” lanjut Aini.

Selain Aini, tim mahasiswa ini terdiri dari Kholid Ibnu Falah (Fakultas Teknik), Selcaria Istna Datau (Fakultas Kedokteran Gigi), dan Defit Tri Hantoro (Fakultas Teknik). Sedangkan dosen pendamping mereka adalah drg. Nur Rahman Ahmad Seno Aji, M.DSc., Sp.Perio.

Aeroject yang dikembangkan tim mahasiswa ini memiliki fungsi ganda, yaitu dapat menyedot aerosol yang tercipta saat perawatan serta dapat pula menyedot saliva. Oleh karena itulah alat kami sangat penting demi mencegah penularan Covid-19 pada saat dokter gigi melakukan perawatan pada pasien.

BACA JUGA: Jogja Bakal Lakukan Tracing Digital Covid-19, Begini Mekanismenya?

Keberadaannya semakin penting, karena di Indonesia masih banyak klinik praktik dokter gigi yang belum dilengkapi alat penyedot aerosol, karena terkait dengan ketersediaan dan aksesibilitas.

“Hal ini menyebabkan pembatasan tindakan dokter gigi yang kemudian berujung pada tidak optimalnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk masyarakat selama pandemi,” tambah anggota tim peneliti yang lain, Selcaria Istna.

Tim ini masuk dalam Program Kreatifitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM-KC) dari UGM yang lolos pendanaan Kemendikbud tahun 2021 ini. Penelitian mereka berjudul “AEROJECT: Inovasi Alat Penyedot Aerosol Terintegrasi Sistem Saliva Suction Dental Unit untuk Membantu Praktik Dokter Gigi di Masa Pandemi”.

Tim ini meyakini, alat yang mereka kembangkan akan bermanfaat bagi klinisi, yaitu dapat menjadi alat baru yang memudahkan praktik dokter gigi selama masa pandemi. Dengan demikian, bagi masyarakat kehadiran alat ini diharapkan dapat memberikan rasa aman untuk pergi ke dokter gigi selama masa pandemi seperti sekarang ini.

Dalam praktiknya, sebelum pasien melakukan perawatan, terdapat screening untuk mengetahui apakah dia terinfeksi COVID atau tidak. Namun, tetap masih ada kemungkinan infeksi dari pasien yang tidak sadar bahwa dirinya adalah Orang Tanpa Gejala (OTG).

“Itulah alasan utama pembuatan alat kami, yaitu meningkatkan keamanan dokter gigi pada saat berpraktik,” tambah Selcaria Istna. (*)