Kisah Pedagang saat PPKM: Rela Japri Pelanggan hingga Layanan Antar-Jemput

Suti, pemilik rumah makan Setyarasa di Pantai Baron sedang memasak kepiting saus tiram pesanan pelanggan, Kamis (29/7/2021). - Harian Jogja/David Kurniawan.
01 Agustus 2021 09:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Kebijakan PPKM berdampak terhadap aktivitas usaha di kawasan pantai karena ditutupnya destinasi wisata. Meski demikian, Sutini, pemilik rumah makan Setyarasa di Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari tak mau menyerah. Ia pun membuka layanan antar jemput makanan agar usaha tetap berjalan.

Sudah hampir satu bulan kawasan wisata di Gunungkidul ditutup akibat dari pemberlakukan PPKM darurat yang kemudian dilanjutkan dengan PPKM level empat. Kondisi ini pun berdampak terhadap aktivitas di Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari.

BACA JUGA : Terdampak PPKM, Paguyuban Pedagang Malioboro Pasang Bendera Putih

Suasana terlihat sepi. Tak ada riuh canda tawa pengunjung. Suara-suara pedagang kerajinan menawarkan cederamata atau pemilik warung makan yang menawarkan jajanan ke pengunjung juga tak terdengar.

Orang yang hilir mudik di kawasan ini juga bisa dihitung dengan jari. Pemilik warung maupun rumah makan banyak yang tutup. Namun demikian, tidak jauh dari Pos SAR Satlinmas Wilayah I DIY, ada sebuah rumah makan yang tetap beraktivitas, meski lokasi wisata masih tutup.

Terlihat di belakang warung terdapat sepasang suami istri yang sibuk berakitivas. Keduanya merupakan pemilik rumah makan Setyarasa. Sang istri, Sutini sedang memasak. Satu kompor digunakan untuk memasak kepiting saus tiram. Sedangkan satu tungku lainnya digunakan menggoreng ikan jenis Kartomarmo.

Adapun suaminya, Sukino terlihat asyik mencuci ikan dan kepiting yang akan dimasak. Setelah sekitar dua jam berkerja bersama, pasangan ini menyelesaikan pesanan yang masuk pada Kamis (29/7/2021).

BACA JUGA : Kebijakan PPKM Dinilai Memberatkan, Pelaku Wisata di Gunungkidul Minta Solusi

“Alhamdulillah hari ini ada pesanan sebanyak delapan kilogram yang terdiri dari ikan goreng, bakar, peyek teri nasi hingga kepiting saus tiram. Setelah ini akan dikirim pemesan di Kota Wonosari,” kata Sutini kepada Harianjogja.com, Kamis.

Sebelum dipacking ke tempat nasi kotak untuk dirikim ke pelanggan, Sutini menyempatkan diri membuat video aneka masakan laut yang sudah diolah. Menurut dia, video ini akan dijadikan sarana promosi untuk pelanggang-pelanggan lain yang belum membeli.

“Akan dijadikan story WA sehingga pelanggan yang berteman bisa melihat dan membeli masakan saya,” katanya.

Suti, sapaan akrabnya mengakui penutupan destinasi wisata memberikan pengaruh yang besar. Banyak pemilik warung makan yang menutup usahanya karena tidak ada pengunjung yang datang ke lokasi wisata.

“Tapi saya tidak mau karena di rumah saja malah bikin suntuk. Jadi, tetap berjualan secara online dan saya akan mengantar sampai ke tempat pelangan yang kebanyakan berada di Kota Wonosari,” ungkapnya.

Ide jualan online sudah pernah dilakukan pada saat awal-awal corona di tahun. Pada saat wisata boleh buka, aktivitas ini dihentikan karena fokus berjualan di pantai. Akan tetap diberlakukannya PPKM darurat di awal Juli ini membuat jual beli online kembali dihidupkan lagi.

“Di awal-awal saya sempat menghubungi pelanggan agar mau beli. Tapi sekarang, lewat story atau promosi di grup WA sudah banyak yang pesan,” katanya.

BACA JUGA : PPKM Level 4, Beberapa Pasar di Jogja Belum Buka

Suti mengakui lewat jual beli online ini membuat roda perekonomian keluarga tetap bisa berputar. Sebelum perayaan kurban, satu hari bisa mendapatkan pesanan hingga 25 kilogram masakan laut. Namun usai Iduladha ada penurunan yang siginfikan. “Kemungkinan masih punya stok daging. Ini bukan masalah karena seberapa pun hasilnya tetap kami syukuri,” katanya.

Disinggung mengenai harga, Suti tidak mematok ongkos jasa kirim. Bahkan ia mengakui harganya bisa lebih rendah daripada dijual di pantai karena pembelinya rata-rata merupakan pelanggan-pelanggan lama.

Dia mencontohkan, untuk satu kilogram kepiting saus tiram dibandrol Rp120.000. Sedangkan untuk undur-undur (sejenis kepiting) dipatok Rp100.000 per kg, ikan kartomarmo goreng Rp50.000 per kilonya. “Ya kalau di warung bisa lebih mahal karena kepiting bisa dijual Rp150.000 per kilo,” katanya.

Suami Suti, Sukino mengaku bersyukur karena usaha yang dimiliki tetap bisa berjalan meski ada kebijakan penutupan wisata. “Semua harus disyukuri karena setiap usaha pasti ada jalannya. Jadi, seberapa pun hasil yang diperoleh semua harus disyukuri,” katanya.

Meski demikian, ia berharap ada kepastian berkaitan dengan pembukaan destinasi wisata sehingga usaha dapat berjalan seperti biasa. “Mudah-mudahan tidak ada perpanjangan lagi dan wisata bisa kembali dibuka,” ujarnya.