Suguhkan Alat Pendeteksi Sampah Plastik untuk Tangani Masalah Laut

Prototype pendeteksi sampah yang sudah dibuat - Ist
18 Agustus 2021 22:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Sampah plastik menjadi salah satu bentuk ancaman global yang menjadi isu penting karena pencemarannya terus meningkat setiap tahun. Tidak hanya memenuhi daratan, sampah plastik juga sudah mulai mencemari dan memenuhi ekosistem laut.

Akibatnya, produktivitas perikanan dapat menurun dan implikasi dari mikroplastik bisa masuk ke jejaring makanan (food-chain) yang akhirnya dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia.

Karena latar belakang itu, lima mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia (UII) mengangkat topik tersebut dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang mereka ikuti pada 2021 ini. Lima mahasiswa tersebut adalah Pradipta Annisaa Widyatna (Teknik Industri/Fakultas Teknologi Industri), M Dicky Agus Prawira (Teknik Mesin/Fakultas Teknologi Industri), Syafa Thania Prawibowo (Teknik Industri/Fakultas Teknologi Industri), Irvan Aslam Sahl (Teknik Industri/Fakultas Teknologi Industri), dan Kamila Aurellia (Teknik Industri/Fakultas Teknologi Industri).

Di bawah bimbingan dosen Ir. Abdullah ‘Azzam, S.T., M.T, mereka mengangkat judul “Plastic Waste Detectors and Solvents: Inovasi Teknologi Pembersih Sampah Laut Berbasis Fluida Superkritis untuk Menjaga Ekosistem Laut”. Penelitian dilaksanakan pada 1 Juni 2021 lalu.

Lebih lanjut Pradipta Annisaa Widyatna menjelaskan bahwa pembuatan prototipe alat tersebut relevan bagi kebutuhan masyarakat mengingat sampah plastik banyak dihasilkan dari limbah masyarakat. “Maka dari itu pembuatan prototype ini sangatlah penting bagi kebutuhan masyarakat agar dapat membantu mengurangi pencemaran sampah plastik,” kata dia.

M Dicky Agus Prawira menjelaskan cara kerja alat ini. “Alat ini akan mendeteksi sampah yang ada di permukaan laut dengan menggunakan kamera ESP32 Cam. Ketika alat mendeteksi sampah, alat ini akan mendekati sampah tersebut dengan menggunakan motor DC yang terpasang,” tutur dia.

“Ketika sampah sudah dalam jangkauan alatnya, sampah akan masuk ke conveyor yang akan diteruskan ke wadah cairan superkritis untuk dilarutkan,” lanjut Syafa Thania Prawibowo.

Irvan Aslam Sahl menyimpulkan, alat pendeteksi sampah ini dapat diproduksi secara massal, sehingga dapat mengurangi jumlah sampah laut terutama yang ada di Indonesia.

Kamila Aurellia juga menambahkan bahwa alat pendeteksi sampah ini dalam proses penyelesaian nantinya akan memiliki daya tarik tersendiri bagi pemerintah untuk dapat mengurangi permasalahan sampah plastik di laut yang ada saat ini. (ADV)