Hadirkan Sistem Pengolahan Air Sisa Wudu

Alat SWPro sebagai penakar air wudhu dan pengolah sisa air wudhu - Ist
21 Agustus 2021 12:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Manusia membutuhkan air bersih untuk keperluan rumah tangga, bekerja, bahkan aktivitas berwudhu bagi umat Muslim. Dalam aktivitas berwudu, menghasilkan sisa air yang terbuang sia-sia, dimana untuk satu kali wudu dapat menghabiskan 1 hingga 3 liter per orang. Dari itu, diperlukan pengolahan sisa air wudu dan sistem penakar jumlah penggunaan air agar dapat efektif dan sebagai solusi ancaman krisis air bersih di Indonesia.

Berangkat dari situ, para mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yakni Azmi Aufa Iftikhar (Teknik Sipil/Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan), Achmad Fachriza Fauzzi Pratama (Teknik Sipil/Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan), Gayuh Ajeng Wandansari (Teknik Lingkungan/Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan), Masruuroh Lissada (Teknik Lingkungan/Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan), dan Tiara Yayang Chairunnisa (Teknik Lingkungan/Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan) mengangkat judul “Sistem Pengolahan Air Sisa Kegiatan Wudhu dan Penakar Jumlah Penggunaan Air Wudu sebagai Solusi Ancaman Krisis Air Bersih di Indonesia” dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang mereka ikuti.

Mereka dibimbing oleh dosen Amarria Dila Sari, S.T., M.Sc dan penelitian dilaksanakan di Jogja pada Juli-Agustus 2021. Azmi Aufa Iftikhar menjelaskan program ini relevan karena inovasi ini dapat menjadi solusi terhadap ancaman krisis air bersih di Indonesia dengan pengelolaan sisa air wudu sebagai media aquaponic dan biopori. Sistem ini juga dilengkapi dengan sensor penakar jumlah penggunakan air wudu sehingga dapat menghemat air.

“Selain itu, hasil dari sistem aquaponic yang merupakan kegiatan sistem pertanian berkelanjutan yang mengombinasikan akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik, memiliki hasil panen berupa sayur organik dan ikan yang dapat menambah uang kas dari musala atau masjid,” jelas dia.

Achmad Fachriza Fauzzi Pratama memaparkan sistem kerja tim ada yang daring dan luring. Kegiatan selama pembuatan alat berupa diskusi daring baik dengan kelompok maupun dengan dosen pembimbing, berdiskusi dengan desainer alatnya, melakukan kerja sama dengan vendor, dan beberapa kegiatan yang diharuskan dalam pelaksanaannya seperti pembuatan laporan kemajuan.

Gayuh Ajeng Wandansari mengatakan karya kelompoknya mendapat komentar dari dosen pembimbing. Isinya dengan kreasi inovasi pengolahan air wudu yang mencakup hulu hingga hilir proses wudhu ini diharapkan akan mengurangi potensi air yang terbuang percuma setelah digunakan untuk berwudhu.

Inovasi di proses hulu dengan penggunaan sensor pengaturan debit aliran air yang digunakan, pemanfaatan kembali air yang digunakan dengan mendesain infrastruktur sedemikian sehingga mengalir tanpa listrik hingga penggunaan biopori dihilirnya diharapkan dapat memaksimalkan penggunaan air wudu dan meminimalkan air terbuang percuma.

“Perlu dikaji lebih lanjut seberapa besar estimasi penghematan yang dihasilkan dari inovasi ini. Misal dapat menghemat 10% saja maka setidaknya ada 220 juta liter air dihemat setiap harinya,” tutur Masruuroh Lissada menirukan komentar dosen.

“Alat SWPro ini diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan terhadap ancaman krisis air bersih di Indonesia dan dapat menambah perekonomian dari mushala atau masjid,” tutup Tiara Yayang Chairunnisa. (ADV)