Ciptakan Lastmen, Solusi Pengolah Sampah Filamen PLA Menjadi Produk Recycle Filamen

Foto Tim Beserta Alat LASTMEN. - Ist
28 Agustus 2021 12:57 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki banyak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu Inovasi UMKM dalam bidang teknologi adalah Jasa 3D printing.

Teknologi 3D printing merupakan suatu proses percetakan bentuk 3 dimensi dengan cara melelehkan bahan filamen dari desain 3D. Bahan filamen yang sering digunakan adalah jenis poly lactid acid atau PLA, namun harga filamen PLA cukup mahal. Proses 3D printing selalu menghasilkan sampah filamen dari support ataupun gagal percetakan.

Sekelompok mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia (UII) kemudian mengangkat masalah itu dalam Program Kreatvitas Mahasiswa (PKM). Tim terdiri dari Vira Prajna Cantika (Ekonomi Islam/Fakultas Ilmu Agama Islam), Yusuf Faishal Mahendra (Teknik Mesin/Fakultas Teknik Industri), Ulfi Sheila Pinasti (Ekonomi Islam/Fakultas Ilmu Agama Islam), Akbar Iftikhor (Teknik Industri/Fakultas Teknik Industri), dan Batasindro (Teknik Elektro/Fakultas Teknik Industri). Mereka mengangkat judul “Alat Ekstruder Solusi Pengolah Sampah Filamen PLA Menjadi Produk Recycle Filamen”.

Vira Prajna mengatakan tim berinisiatif untuk mengolah sampah filamen PLA tersebut menggunakan inovasi dari mesin extruder. Pada umumnya, mesin extruder dapat mengolah biji plastik menjadi filamen 3D printing. Tetapi, mesin extruder tersebut hanya dapat mengolah biji plastik saja dan memiliki harga yang relatif mahal.

“Oleh karena itu, kami menghadirkan alat pengolah sampah filamen menjadi produk recycled filamen sebagai solusi dalam pengolahan sampah filamen menjadi bahan recycled filamen yang dapat digunakan kembali sehingga dapat meningkatkan produktivitas mesin 3D Print,” kata Vira Prajna.

Lebih lanjut Yusuf Faishal Mahendra mengatakan, penelitian ini relevan dengan kebutuhan masyarakat karena alat ini mampu mengolah sampah filamen PLA di Industri 3D Print menjadi produk Filament Recycle. “Hal ini dapat membuat sampah yang tadinya terbuang menjadi bermanfaat lagi,” kata dia.

Ulfi Sheila Pinasti menjelaskan mekanisme kerja dari alat ini adalah diawali dari Motor DC yang akan menggerakan shredder, lalu sampah filamen masuk ke dalam shredder kemudian dihancurkan. Filamen ditampung pada suatu wadah, apabila masih terlalu besar akan dihancurkan ulang oleh shredder.

Sampah filamen yang sudah hancur dan berukuran kecil dimasukan ke dalam hopper/corong. Setelah itu Atur kecepatan dan suhu, kemudian tunggu hingga sensor suhu membaca sesuai input suhu yang diinginkan. PID temperature akan mengendalikan di suhu 175 C. Sampah filamen akan didorong oleh screw. “Pada Proses pelelehan filamen akan diproses dengan menggunakan band heater. Maka Filamen akan keluar melalui nozzle. melewati jalur penampang. Sembari keluar Filamen didinginkan melalui kipas setelah itu Roller akan menggulung filamen yang sudah dingin,” jelas Ulfi.

Akbar Iftikhor mengatakan alat yang diberi nama LASTMEN ini mempunyai potensi untuk mengolah sampah filamen yang sudah terbuang, sehingga dapat digunakan lagi. Hal ini akan meningkatkan produktivitas industri 3D print. Rencananya alat ini akan di promosikan pada investor yang siap memproduksi secara massal.

Sementara itu Batasindro menyampaikan kesimpulan bahwa LASTMEN merupakan inovasi alat pengolah sampah filamen PLA pada UMKM 3D Print. Lastmen terbukti mampu mengolah sampah filamen agar dapat digunakan lagi, sehingga dapat meningkatkan produktivitas UMKM 3D print. “Selain itu alat ini juga menjadi salah satu sumbangsih dalam pengembangan inovasi teknologi. Alat ini sedang dalam pengurusan Hak Kekayaan Industri,” tutup dia. (ADV)