Pemkab Desak Satgas Kalurahan Bawa Pasien Isoman ke Isoter

Foto ilustrasi. - ANTARA FOTO/Aji Styawan\\r\\n
01 September 2021 09:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pemkab Sleman meminta agar Satgas Kalurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas membawa pasien yang menjalani isolasi mandiri (isoman) ke lokasi isolasi terpusat (Isoter).

Selain tingkat keterisian pasien Covid-19 di sejumlah Isoter sedikit, kebijakan tersebut dimaksudkan agar penyebaran Covid-19 tidak terus bertambah. Pasalnya yang dihadapi masyarakat saat ini adalah virus Covid-19 varian delta yang penyebarannya cepat.

"Selain cepat, perkembangan tahapannya juga cepat. Dari OTG atau gejala ringan, bisa langsung ke gejala sedang dan berat," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Cahya Purnama, saat jumpa pers, Selasa (31/8/2021).

Dinkes, kata Cahya, sangat prihatin dengan masih tingginya pasien Covid-19 yang Isoman. Dinkes meminta agar pasien yang Isoman memerhatikan betul keberadaan dan fungsi Isoter. Hal ini bentuk kewaspadaan yang perlu dipahami masyarakat. "Kalau pasien Isoman ini betul-betul bisa membentengi di keluarga dan lingkungan, ada alat saturasi dan sebagainya. Tanpa itu nonsense. Kalau merasa sehat ia akan jalan-jalan," katanya.

Cahya mengatakan, meski kasus positif Covid-19 di Sleman cenderung menurun namun kasus harian yang terjadi masih fluktuatif. Kondisi ini, lanjutnya, harus disadari masyarakat khususnya Satgas Kalurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk segera membawa pasien yang Isoman ke Isoter. Jangan sampai hal ini menjadi bom waktu penambahan kasus Covid-19.

Baca juga: Persiapkan Belajar Tatap Muka, Sleman Genjot Vaksinasi Pelajar

"Apalagi ini kebijakan dari Pusat di mana pasien Covid-19 dirawat di Isoter agar pengawasannya mudah dilakukan. Sekali lagi, kami meminta agar Satgas Kalurahan bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk membawa pasien dari Isoman ke Isoter," ujarnya.

Cahya mengatakan, penambahan kasus harian pasien yang terkonfirmasi positif selama Agustus ini trennya terus menurun jika dibandingkan kasus yang terjadi sepanjang Juli. Di sisi lain, tingkat kesembuhan pasien juga mengalami peningkatan. Hanya 1.033 pasien yang menjalani perawatan di rumah-rumah sakit rujukan Covid-19.

Saat ini, kata Cahya, kasus aktif pasien Covid-19 tercatat 5.115 kasus. Sebagian besar pasien memilih menjalani Isoman dan yang tercatat di Isoter hanya 39 pasien. Baik di Asrama Haji, Rusun Gemawang, Asrama Unisa mapun Asrama UII.

"Tingkat fatalitas atau kematian pasien Covid-19 di Sleman salah satunya akibat pasien yang enggan menjalani isolasi di Isoter. Tingkat fatalitas atau kematian di Sleman masih 4,4 di atas rata-rata nasional. Itu karena keengganan pasien ke Isoter," katanya.

Sekda Sleman Harda Kiswaya mengatakan jika angka kematian pasien Covid-19 di Sleman masih tinggi meskipun kasus positif Covid-19 di Sleman cenderung menurun. "Vaksinasi terus kami geber agar herd immunity segera tercapai dan Sleman bisa turun level," katanya.

Sebelumnya, Koordinator Posko Dekontaminasi Covid-19 BPBD Sleman, Vincentius Lilik Resmiyanto mengatakan jika dibandingkan kasus pemakaman pasien Covid-19 yang meninggal saat menjalani Isoman selama Agustus ini jumlahnya menurun drastis. "Kalau Juli kami catat pasien Isoman yang meninggal sekitar 400an, selama Agustus hanya 96 kasus. Ya turunnya 75 persen kalau bulan ini dibandingkan Juli kemarin," katanya.

Meski di bawah 100 kasus, Lilik tetap menilai kasus kematian pasien Covid-19 yang menjalani Isoman masih tergolong tinggi di tengah rendahnya tingkat keterisian tempat tidur baik di Rumah Sakit rujukan Covid dan fasilitas Isoter yang tersedia di Sleman. "BOR di rumah sakit sudah menurun, saat ini pasien lebih mudah untuk masuk rumah sakit atau ke Isoter," katanya.

Untuk mengantisipasi bertambahnya kasus pasien Isoman yang meninggal dunia, Lilik berharap ada kerjasama semua pihak untuk mendorong pasien ke Isoter. Satgas kalurahan hingga kapanewon, dapat mendorong warganya untuk pindah ke Isoter. "Apalagi yang sudah sepuh-sepuh atau yang punya komorbid. Di Isoter pengawasan kesehatannya bisa lebih mudah," katanya.

Selama Agustus, tim pemakaman baik dari BPBD Sleman, relawan hingga Satgat Pemakaman tinggat kalurahan sudah menguburkan sebanyak 573 jenazah. Dari jumlah tersebut, Posko Dekontaminasi Covid-19 BPBD Sleman hanya memakamkan 85 jenazah. "Lainnya dilakukan oleh relawan dari berbagai organisasi masyarakat dan Satgas Kalurahan," kata Lilik.