Situs Buddha Tertinggi di DIY Dibersihkan Secara Spiritual

Marsudi Kusuma bersemedi di atas situs Mintorogo, Kamis (2/9/2021). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
02 September 2021 19:17 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sebagai upaya melestarikan temuan situs cagar budaya di bukit Mintorogo yang diperkirakan candi Buddha tertinggi di wilayah DIY, Kalurahan Gayamharjo bersama warga mengundang pandhita Buddha untuk melakukan pembersihan spiritual situs tersebut supaya memberikan manfaat bagi masyarakat banyak.

Pembersihan spiritual dipimpin oleh pandhita Buddha, Marsudi Kusuma. Lelaki asal Klaten, Jawa Tengah ini memulai pembersihan dengan menaruh kembang dalam air di mangkok dan membakar tiga batang dupa. Selanjutnya ia duduk semedi beberapa menit sebelum pada puncaknya menyiram-nyiramkan air kembang ke sekitar situs.

BACA JUGA: Objek Wisata DIY Masih Akan Tutup meski PPKM Turun ke Level 3

Lokasi situs Mintorogo cukup terpencil. Berada di ketinggian 414 meter dari permukaan laut (MDPL), untuk mengakses situs yang secara administratif berada di Kalurahan Gayamharjo, Kapanewon Prambanan ini, kita harus melewati pemukiman di atas bukit, menyusuri jalan setapak yang bisa dilalui dengan motor dan terakhir jalan kaki sejauh sekitar 100 meter.

Ketua Pengelola Bukit Mintorogo, Brewok, menjelaskan situs ini sebenarnya sudah lama ditemukan dan dianggap sakral oleh warga, sehingga tak jarang dijadikan tempat pertapaan bukan saja dari warga sekitar, namun juga dari masyarakat di berbagai daerah.

“Kalau diketahui candi baru-baru saja. Karena dulu kami hanya curiga kok ada batu aneh. Setelah ada orang arkeologi ke sini menyatakan ini candi buddha. Dibuka wisata religi mulai dari tahun 2013 kalau dari kami pengelola,” ujarnya, Kamis (2/9/2021).

Ia menceritakan mereka yang bertapa ke situs ini harus seizin pengelola. Adapun tujuan dari para pertapa itu kata dia, kebanyakan memiliki harapan untuk bisa hidup tentram. Meski tak dipungkiri ada juga pertapa dengan tujuan tertentu seperti mengharap jabatan.

Karena memang dianggap sakral, berdasarkan pengalaman para pertapa dan warga, di lokasi yang berada di tengah hutan di atas perbukitan ini kerap terjadi hal mistis, seperti kemunculan perempuan mengenakan kemben, lelaki tua berjubah putih hingga harimau putih.

Pegiat cagar budaya yang juga ikut serta dalam pembersihan spiritual ini, Hari Wahyudi, mengatakan situs ini diduga kuat merupakan candi Buddha yang dibangun sekitar abad 8, pada masa kerajaan Mataram kuno. Dengan bentuk stupa tunggal dan terdiri dari susunan batu putih, candi ini memiliki ketinggian dan diameter 7 meter.

“Ada beberapa bagian. Bagian bawah itu batur, prasada, sebagai tempat pemujaan. Dia harus menghormat secara pradaksina atau prasamya, searah jarum jam atau berlawanan jarum jam. Setelah itu bagian atasnya berupa ojip, atau sisi genta yang melingkar, seperti bunga teratai. Lalu di atasnya ada tubuhnya, yang melengkung besar itu. Lalu puncaknya yasti yang lancip,” ungkapnya.

BACA JUGA: Kompleks Balai Kota Jogja Jadi Kawasan Wajib Vaksin dan Masker

Meski demikian, kondisi candi ini sudah tidak utuh sehingga sulit dikenali jika tidak mencermati betul komponen yang masih tersisa. Menurutnya, candi ini sempat mengalami keruntuhan, hingga saat ini batunya banyak tercecer di bawah bukit.

Menurutnya, candi ini merupakan candi dengan lokasi tertinggi di wilayah DIY, karena sejauh sejauh ini candi tertinggi di DIY adalah candi Ijo dengan ketinggian 937 MDPL. Sementara situs tertinggi di Jawa terdapat di Gunung Argopuro, Jawa Timur, dengan ketinggian 3.080 MDPL.