Pakar Genetik UGM Sebut Varian Mu Tak Seganas Delta

Ilustrasi - Antara/Novrian Arbi
08 September 2021 14:47 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Selama pandemi Covid-19, telah muncul berbagai varian virus Corona, salah satunya varian Mu atau B1621. Berdasarkan hasil laboratorium, varian terbaru ini tidak seganas varian sebelumnya, yakni varian Delta.

Ketua Pokja Genetik Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Gunadi, menuturkan varian Mu sebagai penyebab Covid-19 tidak lebih ganas dari varian Delta karena Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebutkan varian Mu sebagai kategori Variant of Interest (VoI) atau yang perlu mendapat perhatian.

BACA JUGA: Tak Penuhi Syarat, Banyak Pengunjung Mal di Jogja Ditolak Masuk

Adapun varian Delta masuk kategori Variant of Concern (VoC) atau yang perlu diwaspadai. Meski varian Mu belum terdeteksi di Indonesia, menurutnya perlu diantisipasi pasalnya varian Mu diketahui menyebabkan penurunan kadar antibodi baik karena infeksi ataupun vaksinasi.

“Hasil riset awal menunjukkan varian Mu menyebabkan penurunan kadar antibodi netralisasi baik karena infeksi alamiah maupun vaksinasi, serupa dengan varian Beta. Namun diperlukan penelitian lebih lanjut,” ujarnya, Rabu (8/9/2021).

Sebelum varian Mu belum terdeteksi di Indonesia, pemerintah perlu memperketat pintu masuk ke Indonesia agar tidak sampai menyebar luas seperti varian Delta. Menurutnya, virus Corona terus bermutasi dengan memunculkan varian baru yang memiliki tingkat keganasan dan keparahan yang berbeda apabila terinfeksi.

Namun orang yang sudah pernah terpapar Covid-19 atau orang yang sudah mendapat vaksin dipastikan sudah memiliki kekebalan alami. “Kekebalan alami yang ditimbulkan oleh infeksi alamiah pasti ada, tapi seberapa besar bisa melindungi dari risiko terinfeksi varian lain diperlukan riset lebih lanjut,” ungkapnya.

BACA JUGA: Kulonprogo Sudah Turun Level PPKM, Kapan Objek Wisata Dibuka?

Mengukur kekebalan alami yang sudah terinfeksi walau belum vaksin menurutnya sama halnya mengukur efektivitas vaksin terhadap suatu varian, dengan melakukan riset terlebih dahulu. Namun antisipasi tetap diperlukan dengan melaksanakan protokol kesehatan secara ketat dan percepatan program vaksinasi.

Di samping itu, orang yang sudah divaksinasi akan mampu meminimalkan tingkat keparahan ketika terpapar Covid-19 dengan berbagai varian yang ada.