Kisah Guru di Sleman, Rumahnya Jadi Tempat Menginap Menteri Nadiem

Khoiry Nuria Widyaningrum (kanan), bersama keluarga saat menemui media, Rabu (15/9). - Harian Jogja/Lugas Subarkah.
16 September 2021 10:27 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Tidak semua guru memiliki kesempatan menyampaikan aspirasinya kepada pembuat kebijakan pendidikan nomor satu, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim. Hal ini dilakukan oleh Khoiry Nuria Widyaningrum, guru SDN Jetisharjo, di meja makan rumahnya. 

Gudeg yang terhidang pagi itu, Selasa (14/9/2021), di meja makan Khoiry Nuria Widyaningrum mungkin tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Bagaimana tidak, ditemani suami dan kedua orang tuanya, pagi itu perempuan yang akrab disapa Nuri ini sarapan gudeg bersama Nadiem Makarim, yang semalam sebelumnya menginap di rumahnya, di Dusun Plaosan, RT 07, RW 18, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati.

“Karena di sini saya menyediakan gudeg, nah Mas Menteri seneng banget itu. Dia akhirnya memilih makan nasi tapi dengan porsi sedikit terus ambil gudeg sama krecek dan ayam sambil ngobrol ngga terasa dia kayaknya nambah lagi. Sama tempe bacem dipuji enak banget,” ujar perempuan 36 tahun ini saat ditemui media, Rabu (15/9/2021).

Ia mengungkapkan sebenarnya Nadiem sedang menjalani diet dengan tidak makan nasi dan minum manis di pagi hari. Namun ketika Nuri menanyakan kepada tim protokolernya, Nuri bebas menghindangkan makanan seadanya. Sempat bingung, akhirnya ia putuskan untuk menghidangkan gudeg di meja makan pagi itu.

Acara sarapan tersebut berlangsung cukup lama, lantaran berlangsung perbincangan antara Nuri sekeluarga bersama Nadiem, yang membahas tentang pendidikan. Dalam obrolan tersebut, Nuri yang merupakan calon Guru Penggerak ini tak ragu mengutarakan uneg-unegnya sebagai tenaga pendidik kepada Nadiem.

“Saya memberikan masukan banyak. Dan sesuai, bahkan di atas ekspektasi katanya, karena ‘bu Nuri terlalu jujur’ katanya gitu,” ungkapnya.

Beberapa hal yang dibahas diantaranya terkait program Guru Penggerak, evaluasi program Guru Penggerak dan langkah tindak lanjutnya. Menurutnya, setelah adanya diklat Guru Penggerak selama sembilan bulan, harus ada tindak lanjut semisal komunitas yang mewadahi para guru tersebut.

“Saya mengutarakan beberapa masukan, harus ada wadah komunitas kemudian harus ada komunikasi yang intens antara leader-leader kita termasuk yang pengajar fasilitator,” kata dia.

Dalam menanggapi masukannya, menurutnya Nadiem sangat terbuka. Nantinya di setiap angkatan akan selalu diperbaiki. Berdasarkan penjelasan Nadiem, ia menuturkan Guru Penggerak bertujuan untuk menyiapkan kader pemimpin yang siap menjadi kepala sekolah, pengawas atau kepala dinas.

“Jadi alumni guru penggerak itu nanti akan diproyeksikan menjadi kepala sekolah, pengawas dan kepala dinas,” ujarnya.

Kemudian terkait merdeka belajar, Nadiem ingin guru mengembalikan fitrahnya pendidikan, bahwa tidak hanya akademik yang dituntut tapi juga menuntun kodrat dan untuk mencapai kebahagaian dan keselamatan bagi anak didik. “Harus berhamba pada siswa, kepentingan siswa harus nomor satu,” katanya menirukan Nadiem.

Kedatangan Nadiem ke rumahnya sungguh tak terduga. Sebelumnya ia hanya diberi informasi oleh usat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Matematika akan ada tim dari program Guru Penggerak Kemendikbudristek yang akan monitoring evaluasi (monev) ke rumah salah satu Guru Penggerak.

Tim dari P4TK juga mensurvei Nuri dan rumahnya baiuk melalui telfon maupun datang langsung. Dalam survey tersebut Nuri menceritakan banyak hal, termasuk aktivitasnya di berbagai kegiatan sosial seperti dalam pengelolaan desa wisata Kampung Flory yang berlokasi tak jauh dari rumahnya, kemudian di Komunitas Gerakan Sekolah Menyenangkan yang memiliki konsep serupa dengan Merdeka Belajar.

Curhat

Ia juga menceritakan keluarganya yang unik, yakni keluarga guru. Mulai dari dirinya sendiri, suaminya, kedua orang tuanya, mertuanya, hingga kakek dan neneknya semua adalah pengajar. Sebanyak tiga generasi merupakan guru, bahkan anaknya yang sekarang duduk di bangku kelas 4 SD pun memiliki cita-cita menjadi guru.

Karena tak dijelaskan, Nuri pun tidak menduga jika yang datang dan menginap di rumahnya adalah Nadiem langsung. Pada Senin (13/9) sekira pukul 20.30 WIB, datang rombongan dalam dua mobil di halaman rumahnya. Awalnya hanya beberapa orang berbaju hitam yang turun. Nuri dan suami pun menyambut para tamu ini di depan rumahnya.

Namun setelah orang-orang berbaju hitam itu turun semua, keluar lah dari mobil seorang berpawakan tinggi yang mengenakan sepatu pantofel, celana jeans dan kaos hitam, menurunkan koper. Karena menggunakan masker, Nuri belum begitu mengenali orang ini. Namun setelah semakin mendekat dan berbicara, baru lah disadarinya ternayata yang ia hadapi adalah Nadiem.

“Mas Menteri menanyakan apakah boleh menginap. Sempet nggak percaya. ‘Oh boleh silakan masuk’. Terus dia bawa koper masuk, duduk di sini, ruang tamu. Ngobrol sampai jam 10-an karena memang sudah di-cut harus istirahat jam 10. Karena seharian aktivitas agak padat,” ujarnya.

Suami Nuri, Witanta Kurniawan, mengatakan kesannya selama penyambutan Nadiem malam itu yang menurutnya memiliki etika yang sangat baik. Meski sudah lewat dari jam makannya, Nadiem tetap menyantap pisang dan ketela yang disajikan tuan rumah. Selain itu, Nadiem juga mengambilkan makanan tersebut untuk anak buahnya.

“Saya menilai sosok menteri pemimpin itu jarang yang ngasih ke anak buahnya. Mengambilkan ketela untuk ajudannya. Itu bagi saya beliau masih memikirkan bawahannya semua, jarang itu. Masih menawari. Pisangnya habis dua, ketela habis satu. Padahal jam segitu beliau jarang makan. Lalu kerennya lagi setiap beliau mau apapun itu selalu izin,” ungkapnya.

Jalan-jalan

Setelah tidur cukup dan sarapan bersama di keesokan harinya, kegiatan Mendikbudristek dilanjutkan dengan meninjau Kampung Flory. Kegiatan ini merupakan inisiatif sendiri dari Nuri karena ia terlibat dalam pengelolaan desa wisata ini. Menurutnya Nadiem sangat senang berkunjung ke Kampung Florya, jalan-jalan melihat kuliner di situ.

“Sempet nanem pohon juga Pak Menteri di sana. Dinamai pohon Makarim permintaannya. Pohon Duwet. Lalu dia langsung cabut ke Tamansiswa. Itu udah molor harusnya jam 08.00 WIB, tapi kami ngobrol sampai 08.30 WIB, karena saking senengnya, excited,” kata Nuri.

Ia menceritakan Kampung Flory memiliki konsep wisata pertanian, yang telah dikembangkan sejak 2016 silam. “Membuat konsep desa wisata, kita ajukan dan dikukuhkan oleh Bupati Sri Purnomo. Kemudian berbasis masyarakat, lalu muncul juga kuliner bali ndeso dan muncul outbound. Waktu itu outboundnya pendidikan berkarakter,” ungkapnya.

Pengembangan Kampung Flory menangkap peluang dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dialokasikan untuk kunjungan luar sekolah. Maka dibuatlah konsep trip ke Kampung Flory yang disinkronkan dengan materi pembelajaran sekolah.

“Alhamdulillah booming sampai 2019, omzetnya miliaran outbound itu. Jadi kami sinergikan antara pertanian karena ada kelompok tani sendiri, untuk perbanyakan tanaman, kemudian wisata, sama pendidikan. Prosesnya ngga begitu lama ya sebenarnya kami mengalir aja,” katanya.