Pandemi, Saatnya Terapkan Digital Marketing

Andromeda Sindoro, CEO-Founder Sweet Sundae. - Istimewa
24 September 2021 05:57 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Digital marketing menjadi suatu keharusan bagi sebuah usaha untuk bisa bertahan saat pandemi Covid-19 belum tentu kapan selesainya. Bahkan jika pandemi telah berakhir, pengusaha yang telah menguasai digital marketing akan lebih mudah menguasai konsumen.

Hal itu diungkapkan Andromeda Sindoro, CEO-Founder Sweet Sundae, seusai Webinar Millenials Sociopreneurship: Digital Marketing, Solusi Jitu Membuka Peluang Pasar, Kamis (23/9/2021). Kegiatan yang digelar oleh Mili Production juga menghadirkan narasumber kedua, Rizki Dwi Rahmawan, CEO CV Mekanira Nusantara.

Andromeda menjelaskan digital marketing adalah semua kegiatan penjualan seperti sales, marketing, hingga branding yang didigitalkan. Platform digital tersebut seperti Instagram, Facebook, TikTok, Twitter maupun tools lain yang tidak secara langsung mendukung penjualan tetapi berpengaruh, misalnya market place, kata kunci di Google Trends, hingga aplikasi untuk memantau pergerakan ekonomi.

“Digital marketing ini penting karena membuat perusahaan bisa menjangkau semua orang. Pengalaman saya di Sweet Sundae, sebelum 2020, sebelum pandemi, kami sangat offline, menawarkan es krim dan susu ketok pintu hotel, kafe, katering. Dalam sehari, hanya bisa menjangkau 4-5 customer sebab satu customer perlu dua jam. Itu belum pindah-pindahnya, dan belum tentu closing, baru penawaran. Follow up masih butuh effort. Tapi setelah digital marketing, dalam tiga jam bisa menjangkau 10.000 orang, itu lewat Google Ads, memang tidak semua tapi 100 order saja yang order itu lebih banyak daripada saat offline,” papar Andromeda.

Ia menekankan pentingnya perusahaan melakukan digital marketing meski telah melakukan offline marketing. Jika hanya mempertahankan offline marketing, dua atau tiga tahun ke depan, mereka bisa ketinggalan jaman. “Kalau nunggu pandemi berakhir dan tetap bertahan dengan offline, lama-lama modal akan habis. Sedangkan saat pandemi berakhir, semua perusahaan sudah menerapkan digital marketing, jika kita baru mau memulai, sudah ketinggalan dengan yang lain,” katanya.

Adapun Rizki Dwi Rahmawan dalam paparannya, membagikan tentang pentingnya pengusaha yang memulai usaha untuk berkolaborasi guna memperluas dan meningkatkan penjualan. Ia menyebutnya sebagai support system.

“Kita tidak bisa merencanakan kita akan bertemu dengan siapa. Peluang mendapatkan mitra yang kita butuhkan adalah saat bertemu di ekositem yang tepat, yang mendukung usaha kita. Karenanya, kita harus masuk, kolam yang banyak support system di mana, kita yang harus ikhtiar kesana. Semakin banyak aktualisasi, peluangnya lebih besar,” paparnya.

Kolaborasi ini perlu dilakukan setelah tim inti terbentuk. Ia menyebutkan kolaborasi di antaranya dengan perusahaan yang lebih dulu berdiri, asosiasi, pemerintah hingga nongovernment organization (NGO). Di situlah, pengusaha akan belajar tentang pasar dan menjalin mitra yang lebih luas.