Pakar Medsos Sebut Perundungan Paling Banyak Terjadi di Instagram & Facebook

Ismail Fahmi. - Ist.
24 September 2021 15:07 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pakar Media Sosial (Medsos) Ismail Fahmi mengungkap perundungan terjadi paling banyak di medsos Instagram dan Facebook. Penggunaan internet di Indonesia saat ini masih didominasi untuk hiburan di medsos dan belum mengarah ke produktivitas.

Pakar Media Sosial Ismail Fahmi menjelaskan berdasarkan pengamatannya perundungan di media sosial paling banyak terjadi di Instagram. Kemudian disusul facebook hingga TikTok. Fahmi menambahkan berdasarkan data Microsoft, Indonesia termasuk negara yang paling banyak terkena perundungan. Orang dirundung karena beberapa hal, antara lain penampilan.

“Perundungan paling banyak terjadi di Instagram dan Facebook. Kadang terlalu cantik dibully, terlalu gendut dibully, sudah kondisi sehat atletis masih dibully, serba salah. Pakai baju sederhana dibully katanya sok miskin, pakai baju bagus masih dibully juga katanya sok pamer,” katanya dalam diskusi daring Meningkatkan Literasi Digital dalam Upaya Membangun Daya Saing Bangsa, Kamis (23/9/2021).

Selain penampilan, seseorang kadang dirundung juga karena kemampuan akademik, seperti menghasilkan juara atau karya tertentu. Seringkali masih ada pihak yang tidak berkenan sehingga menjadi objek perundungan.

Dampak yang ditimbulkan akibat perundungan menjadikan korban tidak percaya diri, tidak berani berkomunikasi di ranah sosial, depresi hingga berfikir untuk bunuh diri. Bahkan ada juga yang menghapus akun medsosnya karena menjadi korban perundungan. Selain itu dampak lain adalah enggan masuk kelas bagi pelajar, hingga mengalami persoalan makan tidak teratur.

Baca juga: Menimba Air, Seorang Warga Temukan Mayat di Sumur

“Kadang ada yang menghilang sama sekali di medsos, ada indikasi terkena bully, sehingga harus dibantu. Oleh karena itu penggunaan internet harus diarahkan untuk hal-hal bijak dan bermanfaat,” katanya.

Anggota Komisi I DPR RI Sukamta mengungkap pemanfaatan internet di Indonesia memang belum maksimal untuk menunjang produktivitas. Sebagian besar masyarakat menggunakannya untuk bermedsos, mengakses informasi dan berita serta hiburan. Namun paling banyak untuk medsos, ia mencontohkan pengguna internet dari jenjang pendidikan S1 hingga S3 sebanyak 92% menggunakan internet untuk bermedsos.

“Secara umum ini karena persoalan literasi digital yang rendah, ini juga dipicu oleh rendahnya literasi membaca masyarakat. Sehingga keberadaan internet tidak secara maksimal digunakan untuk hal yang produktif. Tetapi hanya untuk hiburan seperti bermedsos,” katanya.