Pantau Pelaksanaan PTM, Ini Rekomendasi LO DIY Cegah Klaster Covid-19 di Sekolah

Ilustrasi. - ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
25 September 2021 09:57 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Lembaga Ombudsman Daerah Istimewa Yogyakarta (LO DIY) merekomendasikan sejumlah hal kepada sekolah yang tengah menjalani uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di masa penerapan PPKM level 3. Sejumlah hal itu menurut lembaga tersebut perlu dilakukan oleh sekolah guna upaya antisipasi dan mencegah timbulnya klaster sekolah yang belakangan mulai marak.

"Kami mulai lakukan pemantauan sejak 20 September lalu dan ada sejumlah catatan yang kami minta dilakukan oleh sekolah di Kota Jogja. Salah satunya adalah pedoman terkait dengan penyelenggaraan ASPD yang lalu, itu bisa digunakan sebagai acuan. Itu kan sukses dan minim temuan kasus Covid-19, oleh karenanya dengan PTM terbatas ini tinggal mengadopsi sistem itu saja," kata Wakil Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Swasta, Abdullah Abidin, Jumat (24/9/2021).

Abdullah menyebut, dari pantauan yang dilakukan sejak awal mula diselenggarakannya uji coba PTM itu, pihaknya menemui pelbagai hal di beberapa sekolah. Untuk itu dia meminta agar sekolah menerapkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh pihaknya agar kasus Covid-19 di sekolah bisa diantisipasi.

Baca juga: Soal 41 Klaster Sekolah di DIY, Begini Klarifikasi Disdikpora

"Pertama adalah pencatatan secara manual terkait dengan kondisi suhu tubuh murid. Ini penting sekali dilakukan agar mengetahui murid itu ketika masuk ke sekolah berada dalam kondisi yang sehat yakni di bahwa 37 derajat," ujarnya.

Kemudian soal tempat duduk murid yang tidak boleh berpindah-pindah. Murid yang menempati bangku di dalam kelas tertentu mesti sudah terdata dan wajib diisi oleh murid tersebut. Jika sekolah menerapkan mekanisme PTM bergantian antar murid, satu meja yang biasanya diisi oleh dua murid bisa diisi secara bergantian di sisi kanan dan kiri, sterilisasi terhadap peralatan kelas juga wajib dilakukan. Hal ini akan memudahkan pihak sekolah dan tim Satgas Covid-19 jika sewaktu-waktu terjadi temuan kasus.

"Sekolah juga wajib menerapkan pembelajaran campur yakni secara PTM dan daring. Artinya ketika ada orang tua tidak setuju PTM, itu jangan malah muridnya didiskriminasikan. Perlu diakomodiasi dengan sistem dua mekanisme pembelajaran tadi. Jadi sekolah tetap memberi fasilitas yang sama kepada murid yang PTM maupun yang tidak. Jadi haknya sama antara yang setuju dan tidak," kata Abdullah.

Baca juga: Begini Skenario Ganjil Genap di Malioboro

Selanjutnya adalah soal sif. Menurut dia, sekolah yang melakukan uji coba tidak perlu menerapkan jam belajar PTM dalam beberapa gelombang atau sif yang banyak. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Jogja juga telah meminta agar sistem PTM hanya digelar satu sif. Hal ini juga agar meminimalisir potensi kerumunan ketika pergantian sif dan kendala keterlambatan orang tua saat menjemput.

"Kerja sama antara komite satgas dengan lingkungan juga harus dilakukan, sehingga ketika ada sesuatu cepat diantisipasi. Misalnya satgas juga bisa mengkondisikan proses penjemputan murid agar kondusif dan tidak melanggar aturan. Karena memang rawan apalagi antara orang tua dan murid sudah lama tidak bertemu kan bisa saja bersalaman atau cipika-cipiki. Makanya satgas punya peran mengontrol, kalau terpapar kan bisa tertular kemana-mana," ungkap dia.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi menyebut pihaknya tetap waspada dengan kemungkinan terjadinya klaster Covid-19 di sekolah yang telah mulai menerapkan uji coba PTM. Pengetatan prosedur dilakukan saat siswa masuk sekolah, penjemputan maupun saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) digelar. Tak hanya itu, Heroe juga mengimbau agar pengawasan juga dilakukan saat murid berada di luar kelas.

"Kadang-kadang yang abai hanya memperhatikan yang ada di kelas, harus diantisipasi apa yang tidak terjadi di kelas apa yang terjadi saat antar jemput ini. Nah makanya sejak awal kami antisipasi anak-anak masuk tidak diperbolehkan ngobrol di luar kelas," ujarnya.

Menurut Heroe, vaksinasi kepada pelajar tidak jadi jaminan klaster sekolah tidak muncul. Namun, vaksinasi bisa menjadi salah satu upaya pencegahan Covid-19 jika diikuti dengan penerapan protokol kesehatan yang amat ketat.

"Kuncinya itu sebenarnya tidak hanya semata-mata vaksin, tetapi menyangkut ketika dia masuk ke sekolah sampai dia duduk dan waktu lamanya di sekolah. Dan pulang dan dijemput itu kuncinya," kata Heroe.