Duh...Pasar Tradisional di Sleman Belum Terapkan SOP PeduliLindungi

Wisatawan melakukan pemindaian menggunakan aplikasi PeduliLindungi saat berwisata di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jumat (17/9/2021). - Harian Jogja/Nina Atmasari
29 September 2021 05:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Meskipun sebagian besar pedagang pasar tradisional di Sleman sudah divaksinasi, namun Pemkab Sleman belum berencana menerapkan standar operasional prosedur (SOP) Peduli Lindungi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Mae Rusmi mengatakan saat ini Disperindag masih konsentrasi menyelesaikan izin operasional kalangan industri dengan SOP PeduliLindungi. "Yang sudah menerapkan SOP PeduliLindungi ini di industri tertentu. Kalau mall semua menerapkan dan supermarket sedang uji coba," kata Mae, Selasa (28/9/2021).

Disinggung soal penerapan SOP yang sama di pasar-pasar tradisional di mana sejumlah daerah memiliki pasar percontohan penerapan SOP PeduliLindungi, Mae mengatakan untuk pasar tradisional di Sleman belum menerapkan SOP tersebut.

"(Penerapan PeduliLindungi), kalau untuk pasar-pasar tradisional belum. Pasar di Sleman pasar umum dan grosir, perlu waktu untuk sosialisasi," katanya.

BACA JUGA: DPR & Pemerintah Sepakati Target Pembangunan 2022

Sekda Sleman Harda Kiswaya mengatakan Pemkab belum menerapkan penggunaan aplikasi PeduliLindungi di lingkungan pemerintahan begitu juga di pasar-pasar tradisional. Alasannya, penggunaan aplikasi tersebut masih menemui sejumlah kendala.

"Misalnya soal jaringan. Ponsel yang tidak support dengan aplikasi PeduliLindungi atau warga yang tidak memiliki Ponsel. Kami tidak akan memukul rata penggunaan aplikasi ini. Apa iya tidak punya aplikasi orang jadi nggak bisa ke pasar?," kata Harda.

Alasan lain yang mendasari argumentasinya adalah capaian vaksinasi di Sleman. Saat ini, lanjut Harda vaksinasi Covid-19 di Sleman sudah mencapai hampir 80% (untuk dosis pertama) dan Pemkab menargetkan 100% pada Oktober mendatang. Dengan capaian tersebut, maka masyarakat Sleman sebagian besar sudah divaksin.

"Sebenarnya ada cara lain yang bisa dilakukan untuk membuktikan warga sudah divaksinasi atau belum, dengan menunjukkan kartu vaksin saja. Termasuk menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan benar. Saya kira itu sudah cukup," ujar Harda.

Hadapi Kendala

Disperindag sebelumnya sudah mengusulkan 35 perusahaan industri bebasis ekspor agar bisa beroperasi penuh saat PPKM Level 3 ini dengan SOP PeduliLindungi. Selain karena sudah memenuhi syarat vaksinasi karyawan di atas 50% dan sarana prasarana protokol kesehatan yang memadai, operasional penuh perusahaan tersebut untuk mengimbangi permintaan buyer.

Pada PPKM Level 4 lalu, di Sleman sudah lima perusahaan industri yang beroperasional penuh karena mengantongi Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI). Kelimanya juga menjalani uji coba pengoperasian SOP PeduliLindungi yang ditunjuk langsung oleh Kementerian Perindustrian.

Kabid Perindustrian Disperindag Sleman Dwi Wulandari mengatakan hasil monitoring ke 35 perusahaan baru sembilan perusahaan yang mendapatkan QR Code untuk menerapkan SOP PeduliLindungi. Dari sembilan perusahaan yang menggunakan SOP PeduliLindungi, baik sektor esensial maupun kritikal masih ditemukan kendala yang dihadapi.

Misalnya tidak semua karyawan memiliki Ponsel yang support dengan aplikasi tersebut. Karyawan yang tidak support dengan aplikasi dikarenakan Ram dan memorynya sangat kecil, sehingga proses update aplikasi sering terganggu. Padahal sering sekali aplikasi Peduli Lindungi minta diupdate.

"Karyawan yang sudah agak sepuh kesusahan menggunakan gadget. Ada juga perusahaan yang masih dalam proses registrasi (penggunaan PeduliLindungi)," katanya.