Pricing Strategy untuk Menaikkan Daya Saing IKM

Kepala Disperindag DIY, Aris Riyanta (ist - tangkapan layar)
02 Oktober 2021 07:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA–Penentuan harga produk menjadi salah satu langkah penting dalam dunia usaha. Agar harga yang dikeluarkan bisa tepat dan meningkat daya saing, maka perlu adanya pricing strategy. Meski penentuan harga merupakan hal yang susah, namun strateginya bisa dipelajari.

Hal ini disampaikan oleh Owner PT. Indo Risakti, Windu Sinaga dalam diskusi daring yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY dengan tema Pricing Strategy.

Sebelum menentukan harga, ada satu langkah yang perlu diperhatikan. Menurut Windu, perlu mencari identitas dan segmen pasar dari produk kita. Layaknya setiap orang yang berbeda satu dengan lainnya, maka produk juga perlu memiliki perbedaan. Saat ada perbedaan, maka produk kita bisa gampang terlihat oleh pembeli.

“Kenapa harus berbeda? Ketika ada yang melihat dan unik serta berbeda, akan langsung tertangkap mata,” kata Windu, Jumat (1/10).

Pembeda merupakan cara agar bisa menonjol di ribuan produk yang sama. Sebagai contoh, apabila Anda menjual batik, ada banyak orang juga yang menjual batik di luar sana. Bahkan ada yang menjual lebih dulu dengan produk yang sejenis.

“Untuk menjadi berbeda, bisa dengan cara menjadi unik dan kreatif, banyak pilihan, ide kreatif, jadi yang pertama, atau keunikan proses produksinya,” kata Windu.

Menurut dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Bayu Aji Aritejo, perlu adanya kesimbangan harga yang menguntungkan penjual dan pembeli.

Dalam menentukan harga, perlu memperhatikan segala biaya, baik biaya pokok maupun lainnya. Selain biaya bahan baku, ada pula biaya listrik, sewa tempat produksi, transportasi, gaji pegawai, dan sebagainya. Semua itu perlu diperhatikan.

 

“Pertimbangan kedua dalam menentukan harga yaitu segmen, target, pasar, dan positioning merek. Pertimbangan ketiga terkait harga jual pesaing. Perlu untuk dilihat apa kelebihan produk kita dan apa kekurangan yang kita tawarkan,” kata Bayu. “Tidak harus lebih murah, tapi juga bisa lebih mahal dari harga pesaing.”

Pertimbangan berikutnya tentang sensitifitas harga konsumen. Sementara pertimbangan terakhir terkait persepsi pembeli atas nilai produk.

“Pembeli bisa berpikir dengan harga tersebut, apakah wajar atau terlalu murah atau terlalu mahal. Kadang harga murah justru tidak dibeli. Justru kadang yang mahal malah dibeli. Ini terjadi ketika pembeli mempersepsikan bahwa harga itu berbanding lurus dengan kualitas,” kata Bayu.

Seri Pelatihan

Pelatihan Pricing Strategy ini diberikan kepada para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) yang ada di DIY. Ini merupakan bagian dari seri pelatihan dengan total 12 tema. Pricing Strategy merupakan pelatihan ke-8.

Menurut Kepala Disperindag DIY, Aris Riyanta, pelatihan ini sebagai upaya pelayanan kepada IKM di masa pandemi. Pricing Strategy mempunyai manfaat yang sangat tinggi. Salah satunya dalam meningkatkan daya saing.

“Misi dari Disperindag DIY untuk meningkatnya jumlah industri pengolahan, termasuk adalah kualitas dan produktifitasnya. Selain itu, adapula upaya meningkatkan nilai tambah perdagangan, baik dalam negeri maupun ekspor. Meski dalam kondisi pandemi, ekspor DIY semakin meningkat,” katanya. (ADV)