Menurut Kraton Jogja, Keliru Jika Anak Memakai Blangkon

Tutorial pemakaian busana adat Sabukwala dan Kencongan. - Tangkapan layar Youtube Kraton Jogja
05 Oktober 2021 16:47 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kraton Jogja merilis tutorial pemakaian busana adat khusus anak-anak. Cara pemakaian busana adat khusus anak perempuan Sabukwala dan khusus laki-laki Kencongan bisa dilihat di akun Youtube Kraton Jogja.

Busana Sabukwala hanya dikenakan oleh anak perempuan sampai mengalami menstruasi. Busana ini terdiri dari jarik/kain, lonthong, dan kebaya bikak. Adapun busana Kencongan yang dipakai anak laki-laki berusia 5-12 tahun terdiri dari jarik/kain, lonthong, kamus timang berwarna hitam polos, dan pranakan telupat biru.

BACA JUGA: Anggota Satpol PP Gunungkidul Langgar Aturan Hajatan di Masa PPKM

Kedua busana ini tidak hanya digunakan oleh putra dalem (putra atau putri Sultan) atau wayah dalem (cucu Sultan), tetapi juga oleh anak-anak abdi dalem yang ikut sowan-marak ke Kraton. Perilisan tutorial ini sebagai cara melestarikan tradisi dan menumbuhkan cinta pada seni budaya, khususnya dalam hal busana.

Menurut Penghageng II Parentah Hageng Kraton Jogja, KPH Yudahadiningrat, Sabukwala dan Kencongan tidak membatasi gerak anak yang biasanya lincah. Dalam perancangannya, teknik dan jenis busana ini sudah disesuaikan dengan aktivitas anak-anak.

“Supaya sebagai seorang anak yang masih suka mainan akan lebih bebas seperti anak-anak lain. Sekarang ini anak-anak kecil kalau sedang ada acara adat tertentu sudah pakai wiron, blangkon, dan keris. Itu keliru, yang benar busana Kencongan, tidak pakai blankon, tidak pakai keris,” kata KPH Yudahadiningrat dalam acara daring Bincang Budaya dan Launching Tutorial Busana Anak, Senin malam (4/10/2021).

KPH Yudahadiningrat mengajak seluruh masyarakat melestarikan budaya yang adiluhung ini. Orang tua dan guru di sekolah bisa menjadi contoh bagi para anak-anak. “Maka dari itu, saya mohon kiranya sekolah-sekolah, di desa-desa, di kemantren-kemantren, dan kabupaten mulai lagi menyebar luaskan busana adat yang benar sesuai dengan pakem kraton,” katanya. “Tidak hanya khusus sowan (berkunjung) ke kraton, tapi juga [untuk kegiatan] sehari-hari misalnya ada nikahan atau hajatan apa saja. Anak-anak sudah diperkenalkan memakai Kencongan, bukan anak kecil justru diberikan blangkon.”

BACA JUGA: Anak Disabilitas di Sleman Disiksa & Diborgol di Depan Tiang Tiap Malam

Penulis buku tentang Busana Adat Kraton Jogja, R.Ay Mari Condronegoro, mengatakan pemakaian Sabukwala dan Kencongan tergolong sederhana. Berbeda dengan busana adat orang dewasa yang banyak lilitan, Sabukwala dan Kencongan hanya memiliki satu lilitan.

“Tidak ribet, tetap nyaman. Sudah diperhitungan oleh pencetusnya, sudah untuk anak-anak,” kata R.Ay Mari Condronegoro.

“Kadang-kadang di desa, anak-anak [memakai pakaian adat jenis dewasa, sehingga] tidak bisa bermain atau lainnya, sehingga merasa tidak nyaman. Bagaimana mau mencintai budaya kalau memakai busana juga tidak nyaman. Dengan Sabukwala dan Kencongan tetap bisa berlari-lari dan bermain.”