Tol Jogja-Solo Seksi Trihanggo-Junction Sleman Capai 85 Persen
Progres pembangunan Tol Jogja-Solo ruas Trihanggo-Junction Sleman mencapai 85 persen. Kontraktor mengebut pekerjaan finishing dan menargetkan proyek selesai Okt
Foto Ilustrasi sejumlah petani memanen kedelai./Harian Jogja-Rahmat Jiwandono
Harianjogja.com, BANTUL - Penambahan komoditas kedelai yang bisa dimasukkan dalam Sistem Resi Gudang (SRG) Niten dinilai banyak menimbulkan banyak manfaat bagi petani kedelai. Selain penyimpanan yang lebih aman, dimasukannya komoditas kedelai dalam SRG Niten dapat memudahkan petani dalam mengakses bantuan permodalan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul, Imawan Eko Handriyanto mengungkapkan penambahan komoditas kedelai dalam ke SRG Niten baik bagi petani kedelai Bantul.
"Alhamdulillah, itu adalah fasilitasi bagi petani untuk menyimpan kedelai di sana sekaligus menperoleh resi gudang," katanya Kamis (7/10/2021).
BACA JUGA : Petani di Bantul Tidak Tertarik Tanam Kedelai
Dijelaskan Imawan, resi gudang dapat digunakan petani sebagai agunan untuk memperoleh kredit atau bantuan permodalan dari Bank. "Kalau itu bisa memanfaatkan artinya petani tidak sulit lagi memperoleh permodalan," ucapnya.
"Baik untuk mengembangkan luas lahannya, luas tanamanya atau pun meningkatkan kualitasnya," tambah Imawan.
Dari sisi pasca panen penyimpanan hasil pamem ke Gudang SRG Niten sangat bagus bagi petani. Pasalnya tidak semua petani memiliki gudang yang representatif menyimpa hasil panen, sedangkan Gudang SRG Niten memiliki komponen dan sarana yang jauh lebih kompeten untuk penyimpanan jangka panjang.
Selain itu kemitraan yang dibangun dengan pihak ketiga memungkinkan kedelai dengan kualitas tinggi dapat diserap dan dijual ke perusahaan besar. "Permasalahannya petani kurang minat menanam kedelai, ini supaya petani minat menanam kedelai," ujarnya.
"Adanya sistem resi gudang ini gampang permodalan, gampang penyimpanan. Kualitas juga terjaga, kalau ingin dijual lagi bisa dikeluarkan," imbuhnya.
BACA JUGA : Petani Tak Tertarik, Lahan Tanaman Kedelai Terus Menyusut
Minat yang rendah berbanding terbalik dengan produktivitas kedelai di Bantul. Diterangkan Imawan, wilayah Bantul sebenarnya cocok untuk budidaya tanaman kedelai dengan rata-rata produktivitas 1,8 ton per hektare. "Kita luasnya masih tergantung dari bantuan pemerintah, jadi minat petani karena masih tergantung bantuan dari pemerintah sekarang luasnya 760 hektare target tahun ini," ujarnya.
Kepala Dinas Perdagangan Bantul, Sukrisna Dwi Susanta menjelaskan kedelai sekarang menjadi komoditas yang diresikan setelah beras dan jagung. Tambahan peresian komoditas kedelai berdasarkan Peraturan Meneteri Perdagangan No.14/2021. "Perlu juga sistem resi gudang di Indonesia itu ada tambahan komoditas kedelai. Karena SRG untuk ketahanan pangan, apalagi kedelai hampir tiap hari digunakan untuk produksi tahu tempe," ujarnya.
Dengan kapasitas yang ada, SRG Niten siap menampung ribuan ton hasil panen petani Bantul. "Gudang kita itu cukup menampung 1400 ton untuk tiga komoditas tadi, jagung, beras, dan kedelai," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Progres pembangunan Tol Jogja-Solo ruas Trihanggo-Junction Sleman mencapai 85 persen. Kontraktor mengebut pekerjaan finishing dan menargetkan proyek selesai Okt
Kredit perbankan tumbuh 11,51 persen hingga Mei 2026. Bank Indonesia optimistis pertumbuhan kredit tetap terjaga didukung likuiditas dan permodalan yang kuat.
Proyek kereta gantung Sleman senilai Rp200 miliar masih menunggu persetujuan status lahan sebelum izin pemanfaatan tanah kas desa diproses.
Siswi SMAN 6 Jakarta meninggal dunia usai terjatuh dari motor di Kebayoran Baru. Kabel yang menjorok ke jalan diduga menjadi penyebab kecelakaan.
Parkir bus Senopati tak lagi difungsikan. DPRD Kota Jogja menyoroti akses wisatawan ke Malioboro dan Taman Pintar saat musim libur sekolah.
BPS Bantul mulai Sensus Ekonomi 2026 secara door to door hingga Agustus. Seluruh rumah tangga dan pelaku usaha menjadi sasaran pendataan.