Dinkes Sleman Mulai Antisipasi Munculnya Gelombang Ketiga Covid-19

Ilustrasi. - Freepik
13 Oktober 2021 08:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman terus menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan munculnya gelombang ketiga panularan Covid-19. Selain terus menggenjot kegiatan vaksinasi, Dinkes juga mengingatkan soal protokol kesehatan kepada masyarakat.

Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama mengatakan penularan virus Corona di Sleman saat ini terus melandai. Meski begitu, katanya, Dinkes tetap mewaspadai potensi munculnya gelombang ketiga yang menurut sejumlah pengamat bisa muncul pada akhir tahun ini.

"Strateginya dengan tetap memperkuat prokes, percepatan vaksinasi dengan kegiatan jemput bola, nanti yang melakukan Puskesmas. Selain itu, kami juga selalu mengingatkan masyarakat untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan," kata Cahya, Selasa (12/10/2021).

Cahya mengatakan, penurunan level PPKM memang berdampak pada pelonggaran aktivitas masyarakat. Misalnya banyak daerah sudah membuka kegiatan wisata secara terbatas dan menggelar pembelajaran tatap muka (PTM). Pelonggaran tersebut katanya berdampak pada mobilitas masyarakat.

Baca juga: Covid-19 DIY Tambah 33 Kasus, Positivity Rate 0,44 Persen

"Ini musim-musim yang harus diwaspadai bersama. Tidak hanya Nataru dan Lebaran. Sebab ada mahasiswa yang masuk dan sebagainya karena pergerakan virus akan berbanding lurus dengan pergerakan orangnya," kata Cahya.

Untuk itu, lanjut dia, Dinkes juga selalu mengingatkan Satgas mulai tingkat kapanewon hingga level terbawah untuk selalu mewaspadai potensi gelombang ketiga dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. "Berdasarkan zonasi epidemiologi tingkat kalurahan di Sleman per 10 Oktober 2021 menunjukkan gambaran yang baik," kata Cahya.

Saat ini hanya ada tiga kalurahan yang masuk zona merah. Meliputi, Caturtunggal, Hargobinangun dan Harjobinangun. Zona oranye antara lain Pakembinangun, Purwomartani dan Margorejo. "Yang zona hijau sudah banyak. Sebelumnya zona kuning saat ini sudah banyak yang hijau," ujarnya.

Penghuni Selter Berkurang

Demikian pula jumlah penghuni isolasi terpadu atau selter yang terus berkurang. Misalnya di Asrama Haji hanya ada satu pasien, di Rusunawa Gemawang tak ada pasien, rusunawa UII tidak ada pasien dan asrama Unisa sudah ditutup. "RSDK Covid juga sudah ditutup sementara untuk efesiensi. Untuk SDM nya kami berdayakan untuk kegiatan vaksinasi" kata Cahya.

Kepala RSDKC Respati Tunggul Birowo mengatakan dari kapasitas 50 bed pasien untuk penanganan Covid-19, saat ini tidak ada pasien yang menggunakan layanan di rumah sakit tersebut. "Tidak ada pasien [yang dirawat]. Untuk sementara operasional rumah sakit ini ditutup sementara," katanya.