Menguatkan Nilai Adiluhung di Tengah Arus Digitalisasi

Sarasehan Penguatan Nilai-Nilai Kesetiakawanan Sosial melalui Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa Mewujudkan Kesejahteraan Sosial, yang digelar Dinsos DIY di Kalurahan Sindumartani, Selasa (19/10). (Harian Jogja - Lugas Subarkah)
21 Oktober 2021 07:07 WIB Media Digital Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Mengembalikan nilai-nilai adiluhung masyarakat Jawa di tengah budaya digitalisasi, Dinas Sosial DIY menggelar sarasehan bertajuk Penguatan Nilai-Nilai Kesetiakawanan Sosial melalui Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa Mewujudkan Kesejahteraan Sosial. Sarasehan digelar di Kalurahan Sindumartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman, Selasa (19/10).

Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih menjelaskan seiring dengan masifnya digitalisasi masyarakat, nguri-uri kabudayan Jawi yang perlahan memudar perlu dikuatkan. “Baik etika, perilaku. Orang jogja punya nilai filosofi yang begitu dalam,” ujarnya.

Penguatan nilai adiluhung ini menurutnya bisa dimulai dari unit masyarakat paling kecil yakni keluarga. Ia mencontohkan pada zaman dahulu, orang tua tidak perlu sampai memarahi anak dengan kata-kata, melainkan hanya diam, dan anak sudah menyadari kesalahannya. Namun hal itu tidak berlaku sekarang, karena anak lebih banyak bermain gadget dan kadang tidak mendengarkan orang tua.

Ia berharap meski terus mengikuti perkembangan zaman, masyarakat tetap memegang nilai-nilai adiluhung. Hal ini juga berlaku dalam konteks penerimaan bantuan sosial. Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, masyarakat Jawa semestinya memiliki rasa untuk memprioritaskan penerimaan bantuan sosial kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Dinas Sosial DIY pun terus memperbarui pemindaian data.

Namun di samping itu, masyarakat bersama perangkat kalurahan diharapkan bisa melakukan kontrol sosial dalam penyaluran bantuan sosial. “Kontrol sosial harus bekerja. [Agar bisa mengukur] yang itu sudah enggak pas, yang ini yang pas. Masyarakat Sindumartani harapannya [pada] 2022 sejahtera berbudaya,” katanya.

Rasa Cerdas Orang Jawa

Dalam sarasehan ini, Guru Besar UNY, Suwarno menjadi pemateri utama. Ia menjelaskan dalam masyarakat Jawa, perlu diperhatikan tata basa dan tata krama. Tata basa yakni terkait dengan bahasa yang diucapkan sementara tata krama terkait dengan tindakan yang diperbuat.

Adapun rasa cerdas orang Jawa digambarkan dalam tingkatan bangunan joglo, yakni dupak bujang, esem mantri, semu bupati dan yang tertinggi sasmito narendro. “Dalam tingkatan tertinggi, orang sudah tahu apa yang dikarepake [diinginkan] tanpa diomongkan,” ujarnya.

Lurah Sindumartani, Anang Zamroni, berharap sarasehan ini menjadi sesuatu yang berguna untuk mewujudkan kesejahteraan sosial khususnya untuk masyarakat Sindumartani, dengan memantik kembali nilai-nilai adiluhung yang telah luntur.

“Restorasi seolah rusak didandani. Ditata kembali menjadi keadaan yang baik sebagaimana sebelumnya. Penting kita hayati, pahami, bagaimana nilai nilai kesetiakawanan sosial. Rasa kesetiakawanan pada masyarakat beda dengan zaman dulu,” ungkapnya.

Restorasi sosial perlu dilakukan terus-menerus sehingga nilai-nilai dapat terbentuk kembali. Kegiatan ini menjadi awal koordinasi Kalurahan Sindumartani dengan Dinsos DIY.

Pemerintah Kalurahan Sindumartani siap mendukung program Manunggal Raharja agar kesejahteraan melalui bantuan sosial tepat sasaran dan tepat manfaat. (ADV)