11 Tahun Erupsi 2010, Pemerintah Perlu Lebih Siap

Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY, Rabu (7/1/2021). - ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
28 Oktober 2021 01:37 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-11 tahun lalu, erupsi Gunung Merapi terbesar dalam 100 tahun terakhir terjadi. Diawali dengan luncuran awan panas sejauh 8 km ke arah kali Gendol atau tenggara, erupsi waktu itu menelan ratusan korban nyawa dan ribuan rumah rusak.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan (BPPTKG), Hanik Humaida, menuturkan pada 26 Oktober 2010 pukul 17.02 WIB, awan panas guguran Gunung Merapi meluncur hingga 8 km ke arah kali Gendol, mengawali rangkaian erupsi Merapi 2010.

“Data pemantauan seperti kegempaan, deformasi dan geokimia naik secara signifikan sejak bulan September 2010. Puncak fase erupsi terjadi pada 4-5 November 2010 saat material erupsi terlontar vertikal dengan ketinggian 10 km dan awan panas guguran meluncur 15 km ke arah Kali Gendol,” ujarnya, Rabu (27/10/2021).

Erupsi Merapi tahun 2010 kata dia, merupakan erupsi terbesar sejak 100 tahun terakhir. “Hal ini tentu menjadi pelajaran bagi kita semua untuk terus mempersiapkan dan meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi Gunung Merapi,” katanya.

Saat ini, Gunung Merpai juga sedang dalam fase erupsi terhitung sejak November 2020 lalu. Dengan karakteristik erupsi efusif, aktivitas erupsi menjadi lebih lama dan cenderung landai. Dengan terus memantau data harian, BPPTKG menetapkan kawasan rawan bencana sejauh 5 km dari puncak.

Baca juga: Sepekan PPKM Level 2, Satpol PP Temukan Banyak Kafe Buka hingga Dinihari

Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, menuturkan banyaknya korban pada erupsi 2010 lantaran memang pada waktu itu erupsi Gunung Merapi lebih besar, sehingga material yang dikeluarkan pun lebih banyak dan lebih jauh dari biasanya, hingga mencapai 15 km.

“Ketika itu karena memang erupsi Merapi kurang dari 8 km, maka rencana kontigensi dibuat kurang dari 8 km. Kalau sekarang ini prakiraan yang ada, tipe erupsinya tidak seperti 2010 karena sekarang ada proses pembentukan kubah lava dan proses luncuran jarang sampai 3 km,” katanya.

Menurutnya yang perlu diperhatikan oleh pemerintah sekarang adalah bagaimana menyusun rencana kontigensi dalam kondisi pandemi Covid-19. “Bagaimana ketika erupsi signifikan, orang harus mengungsi, dalam kondisi pandemi,” ujarnya.

Untuk masyarakat sekitar Gunung Merapi menurutnya proses pembelajaran terkait kebencanaan terus terjadi sehingga kesiapan masyarakat pun juga sudah cukup baik. “Harapannya memang itu bisa berjalan terus,” ungkapnya.