40 Ribu Lebih Kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul Aktif Lagi
Lebih dari 40.000 kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul kembali aktif setelah penonaktifan PBI akibat penerapan DTSEN.
Sejumlah pengunjung bermain di kawasan Pantai Wediombo, Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Selasa (11/6/2019). Adanya kenaikan air laut karena gelombang tinggi tidak menyurutkan minat pengunjung untuk menikmati keindahan panorama pantai. /Istimewa/Dokumen SAR Satlinmas Wilayah I DIY
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Penerapan aplikasi Peduli Lindungi di kawasan wisata di Gunungkidul belum sepenuhnya lancar. Sebab, ada lokasi tempat pariwisata yang sinyal telekomunkasinya lemah sehingga aplikasi belum berfungsi maksimal.
Untuk kawasan seperti di Pos Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Baron relative tidak ada masalah. Akses telekomunikasi lancar sehingga pengunjung yang masuk tinggal menunjukkan aplikasi kemudian memindai gawai yang dimiliki ke QR code yang telah disediakan petugas jaga.
Sejumlah pengunjung pun tidak ada kendala berkaitan dengan penggunaan aplikasi Peduli Lindungi. Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Hary Sukmono mengatakan, upaya penggunaan aplikasi Peduli Lindungi sebagai salah satu syarat masuk kawasan wisata terus diusahakan.
Meski demikian, ia mengakui belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan ada lokasi TPR yang sinyal telekomunikasi tidak ada sehingga proses pemindaian tidak berfungsi. “Ya kalau TPR Baron atau JJLS tidak ada masalah, tapi untuk TPR lain seperti Wediombo atau TPR Pule ada kendala masalah sinyal,” katanya.
Hary mengungkapkan untuk mengatasi permasalahan ini terus melakukan koordinasi teknis dengan Dinas Komunikasi dan Informatika selaku Organisasi Perangkat Daerah teknis yang menangani masalah komunikasi. “Sudah kami laporkan berkaitan dengan masalah ini. mudah-mudahan segera ada solusi agar penggunaan aplikasi dapat berjalan dengan baik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lebih dari 40.000 kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul kembali aktif setelah penonaktifan PBI akibat penerapan DTSEN.
Sekolah Rakyat MA 20 Sleman memastikan PWA masih berstatus siswa dan membantah kabar kabur maupun putus sekolah usai kasus celurit.
Krisis migran di perbatasan Spanyol-Maroko menewaskan 67 orang. Gelombang penyeberangan massal diduga dipicu faktor politik dan diplomatik.
Petani di Kapanewon Semin mulai panen tembakau Grompol. Harga daun basah Rp4.500 per kilogram dan tetap dinilai menguntungkan.
Satu bayi kasus penitipan di Pakem masih dirawat BRSPA Dinsos DIY setelah orang tua biologis meminta perpanjangan masa penitipan.
Program Sapa Bantul kembali disalurkan kepada 1.000 KPM melalui warung pangan warga dengan paket sembako bergizi senilai Rp200.000.