Jogja Cross Culture, Budaya & Seni dalam Kekuatan Kolaborasi

Para penari beraksi dalam gelaran JCC 2021 yang tayang secara daring di Youtube Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Rabu (10 - 11). (tangkapan layar)
11 November 2021 05:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA–Pemkot Jogja melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) menggelar Jogja Cross Culture (JCC) 2021 bertajuk Story of Jogja. Terbagi dalam tiga segmen pertunjukan, seniman dari 14 kemantren berkolaborasi dengan 14 koreografer muda Kota Jogja. Tiga segmen ini berjudul Jawa Semesta, Kertaning Yogya, dan Yogya Tumuwuh.

Story of Jogja bercerita tentang tonggak-tonggak peristiwa yang menjadi sejarah peradaban di Jogja, dari zaman prasejarah sampai masa pandemi Covid-19. Selain itu, JCC 2021 juga menghadirkan karya seniman lintas komunitas dan disiplin melalui empat karya commission work bertajuk Bang Bintulu, Binar, Oasis, dan Alive. Pentas berlangsung daring melalui Youtube Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Rabu (10/11/2021), pukul 19.45 WIB.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti, JCC 2021 semakin meriah dengan video kompilasi tari dari partisipan luar negeri bertajuk Jogja Journey. Partisipan berasal dari negara Malaysia, Thailand, Hong Kong, Turki, Australia, New Caledonia, Kanada dan Rusia. Para partisipan luar negeri berkolaborasi dengan seniman tari Kota Jogja yang sedang berada di sana.

“Hari ini [saat ini] jika kita berbicara tentang Jogja, maka semestinya kita tidak lagi berbicara tentang satu untai budaya, tetapi sebuah taman, tempat di mana bertebaran ragam aktivitas budaya yang mekar dengan warna-warni sendiri,” kata Yetti, Rabu (10/11/2021).

Tidak hanya sebatas pertunjukan, JCC juga sebagai wadah kolaborasi dan interaksi dengan warga sekitar. Mengusung semangat Gandeng Gendong, gelaran ini melibatkan berbagai komunitas seniman yang ada di Jogja. Gandeng Gendong merupakan perwujudan filosofi gotong royong dari lima eleman yaitu kota, kampung, kampus, komunitas, dan korporat. Gotong royong ini semakin diperkuat dengan keberadaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Puro Pakualaman.

“Titik tekan program ini adalah bagaimana kebudayaan ini hidup dan menghidupi. Gerakan pembinaan dan penguatan budaya di kelompok-kelompok inilah yang sebenarnya menjadi vocal point. Istimewanya, di Kota Jogja terjadi saling silang budaya dan semuanya mampu berkembang dan bersanding. Inilah kemudian menciptakan sebuah melting pot budaya dalam satu kota. Tepat kiranya Kota Jogja menjadi rumah budaya dan menuju kota budaya dunia,” kata Yetti.

JCC sejak awal memang dikonsep menjadi gerakan budaya di seluruh elemen masyarakat. Ada penekanan kesadaran apabila budaya bukanlah sebuah komoditas. “Konsep jalinan ini menyepakati sebuah partnership sebagai perwujudan semangat Gandeng Gendong dalam menjalani misi kota Jogja sebagai Kota Budaya Dunia,” kata Yetti. (ADV)