Tawuran Telan Korban Jiwa, Polisi Kumpulkan Kepala Sekolah di Bantul

Para tersangka dan barang bukti senjata tajam yang diamankan polisi dari tawuran dua geng pelajar di Bantul - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
11 November 2021 17:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Kepolisian Resor Bantul menggelar pertemuan dengan sejumlah kepala sekolah SMA dan SMK serta komite sekolah di aula SMAN 1 Bantul, Kamis (11/11/2021). Pertemuan dan dialog tersebut membahas sekaligus mencari solusi untuk menghentikan terjadinya kembali tawuran antarpelajar di Bantul.

“Pertemuan ini merupakan upaya jajaran Polres Bantul untuk meningkatkan kemitraan dengan para kepala sekolah dan menyamakan visi dan misi dalam mencari solusi terbaik mencegah tawuran antara geng sekolah,” kata Kapolres Bantul AKBP Ihsan, dikutip dari laman resmi Polres Bantul.

Dalam pertemuan tersebut, Kapolres meminta saran dan masukan serta informasi dari pihak sekolah guna mencegah kejadian tawuran antar geng sekolah terjadi lagi di kemudian hari terutama di wilayah Bantul.

BACA JUGA: Dipastikan Tidak Out dari PSS, Dejan Berterima Kasih kepada Suporter

Dikatakan Ihsan, bahwa pihaknya tidak melarang keberadaan geng sekolah selama melakukan kegiatan positif. Namun apabila melakukan pelanggaran hukum maupun mengganggu ketertiban umum, maka pihaknya akan menindak tegas.

Ihsan berharap permasalahan persoalan tawuran antargeng sekolah dapat diangkat ke forum yang lebih tinggi, seperti Focus Group Discussion (FGD), bahkan Ihsan mengahrapkan adanya peraturan daerah yang khusus menangani persoalan tersebut sehingga semua stakeholder dapat ikut berperan dalam mengatasi permasalahan geng sekolah.

Ihsan juga memerintahkan agar jalinan komunikasi antarapihak sekolah dengan polsek jajaran dapat terus ditingkatkan, “Tujuannya agar segala permasalahan menyangkut geng sekolahan dapat diantisipasi sejak dini dilevel bawah,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Divisi Humas Jogja Police Watch (JCW), Baharuddin Kamba mengecam aksi kekerasan berupa tawuran antargeng pelajar yang mengakibatkan salah satu pelajar di Bantul meninggal dunia.

“JPW juga mendukung pihak kepolisian melakukan penegakan hukum kepada pelaku dugaan kekerasan antargeng tersebut agar menjadi contoh efek jera bagi pelaku yang lainnya. Aksi kekerasan antargeng jelas merusak citra Jogja sebagai kota pelajar,” kata Kamba.

JPW meminta kepada kepolisian untuk mengusut tuntas aksi kekerasan antargeng yang terjadi di Bantul. Selain itu, JPW juga meminta sekolah harus menciptakan lingkungan pendidikan yang memberikan ketenangan, keamanan dan kenyamanan bagi para peserta didik untuk belajar.

Kamba juga miris peristiwa tawuran maut tersebut terjadi saat baru dimulainya pembelajaran tatap muka (PTM) untuk tingkat SMA/SMK atau sederajat. Pihak sekolah, Disdikpora DIY, orangtua dan Komite Sekolah harus segera melakukan evaluasi secara total dan tuntas terhadap aksi kekerasan antargeng pelajar ini.

Jika diperlukan adanya kesepakatan dan komitmen bersama tentang sanksi yang diberikan pihak sekolah terhadap pelajar yang terlibat aksi kekerasan antargeng pelajar, misalnya, pelajar yang terbukti melakukan kekerasan antargeng pelajar termasuk klitih maka dikembalikan kepada orang tua atau wali murid selain proses hukum atau pemidanaan.

Selain itu orang tua juga diminta pro aktif mencegah terjadinya kekerasan antargeng pelajar.