Ketar-Ketir Desa wisata Sambut PPKM Level 3

Wisatawan berenang di Blue Lagoon Tirta Budi di Dusun Dalem, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Rabu (24/11/2021) - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
25 November 2021 10:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Pemerintah akan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Level 3 mulai 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022. Berbagai sektor mulai bersiap kena imbas kebijakan itu, salah satunya pariwisata. Lantas, bagaimana dampaknya bagi desa wisata? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Bernadheta Dian Saraswati.

Sinar matahari di separuh hari terasa menyengat, seakan memberi kehangatan setelah semalaman hujan. Air sungai di pemandian Blue Lagoon juga menampakkan hijaunya lagi, segar, dan menyejukkan bagi wisatawan yang datang berenang.

Tak banyak memang wisatawan yang datang siang itu, Rabu (24/11/2021). Namun mereka datang hilir mudik bergantian untuk bisa menikmati keasrian desa wisata yang terletak di Dusun Dalem, Widodomartani, Ngemplak, Sleman itu. Ada yang datang sendirian, dengan teman-temannya, ada pula yang mengajak keluarga.

Ada yang datang langsung berenang, duduk di gazebo, ada yang jajan di warung pinggir sungai, ada pula yang sibuk berswa foto. Mereka tampak asik menikmati hari untuk refreshing di tempat itu barang sebentar.

Meski jumlah pengunjung saat ini belum bisa menyaingi seperti saat sebelum pandemi Covid-19 tetapi pengelola bersyukur, desa wisata dan budaya Blue Lagoon Tirta Budi itu masih menyita perhatian pengunjung. Tidak hanya warga Jogja, mahasiswa luar Jawa juga banyak yang piknik di tempat itu.

Namun rasa bahagia itu belakangan ini berubah menjadi was-was dan takut. Pengelola takut kehilangan wisatawan lagi seperti saat penerapan PPKM Juli 2021 lalu di mana kegiatan wisata Blue Lagoon mati total karena objek wisata harus tutup. “Jelas kami ketar-ketir karena pemerintah memberlakukan PPKM level 3 lagi Natal dan Tahun Baru nanti,” kata Suhadi, Ketua Pengelola Blue Lagoon, Rabu.

Rasanya ingin mengelak tetapi mustahil. Blue Lagoon sedang kembali pulih dari keterpurukan. Masyarakat yang loyo karena kehilangan pekerjaan, kini bisa berkarya di tempat wisata itu lagi. Namun apa daya, semua sektor hanya bisa sandika dhawuh alias manut dengan peraturan pemerintah.

Seperti tak kurang akal, pengelola sudah menyusun strategi saat PPKM level 3 nanti diberlakukan. Pengelola akan mengerahkan karang taruna untuk mencari pasir di sepanjang sungai aliran Blue Lagoon itu. Sebab, pasir biasanya menumpuk saat musim hujan.

Pasir akan dibeli pengelola untuk bahan pembangunan kompleks desa wisata. Biasanya, pasir 1 kol dibeli Rp130.000. “Kita simbiosis mutualisme. Pasirnya kami beli pakai uang hibah dari pemerintah yang digunakan untuk pengembangan desa wisata,” kata Suhadi. Teranyar, Blue Lagoon baru saja menyelesaikan pembangunan pendapa dan akses jalan dengan total Rp245 juta dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Harapannya ke depan, pembangunan-pembangunan seperti itu depan bisa terus bekerja sama dengan warga lagi dalam hal pengadaan material.

Di lain tempat, persiapan menghadapi PPKM level 3 juga dilakukan. Pengelola Desa Wisata Pulesari, Turi, Sleman, Didik Irwanto mengaku sudah menyiapkan tim yang siap menegur wisatawan yang abai terhadap protokol kesehatan. Pulesari memang menyajikan keindahan alam yang sayang dilewatkan. Namun wisatawan yang datang tetap harus memakai masker sekalipun hawa di tempat itu sejuk dan bebas polusi. Mereka yang datang juga wajib cuci tangan sebelum mengikuti kegiatan outbond. Di lapangan terbuka, mereka juga harus berjaga jarak.

“Kita nanti [Natal dan Tahun Baru] tetap buka. Tapi ya itu, pengawasan terhadap prokes lebih teliti dan berani menegur yang pakai maskernya salah atau bahkan lepas masker,” kata Didik. Belasan orang juga sudah diterjunkan dalam tim khusus untuk mengawasi penerapan prokes.

Bagi dia, pariwisata yang mulai bergeliat saat ini harus dipertahankan demi memutar roda perekonomian. Jangan sampai pemberlakuan PPKM level 3 nanti mematikan kembali pendapatan warga.

Jika sebelum pandemi jumlah pengunjung Pulesari bisa mencapai 1.000, saat pandemi ini hanya kisaran 250-400 orang. Namun Didik tetap bersyukur karena ratusan orang yang datang tetap menjadi sumber pendapatan bagi warga di desa wisata itu. “Pada intinya Pulesari tetap buka, hanya sifatnya kami filter pengunjung saja dengan melakukan pencegahan penyebaran Covid-19 secara ketat,” tegas dia. (bernadheta@harianjogja.com)