Perlu Ada Ronda dalam Mitigasi Tanah Longsor dan Banjir

Camat Semanu Huntoro Purbo Wargono (mengenakan topi) meninjau lokasi banjir yang merendam area persawahan di Dusun Semenu Kidul, Desa Semanu, Kecamatan Semanu, Minggu (8/3/2020). - Istimewa/Dokumen Kecamat Semanu
26 November 2021 06:57 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengumumkan adanya La Nina di Samudera Pasifik pada musim hujan tahun ini. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada pada dampak yang ditimbulkan dari meningkatnya intensitas hujan.

Pakar Iklim dan Bencana UGM, Emilya Nurjani, menjelaskan La Nina adalah fenomena peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian barat sehingga berdampak terjadi pergerakan massa di kawasan tersebut termasuk Indonesia dan Asia Tenggara dengan membawa banyak uap yang menghasilkan hujan dengan intensitas yang lebih tinggi.

Untuk wilayah-wilayah yang rawan memiliki potensi banjir dan longsor semestinya sudah melakukan mitigasi ketika BMKG mengumumkan adanya La Nina. Setiap ada curah hujan lebat, penduduk sudah harus melakukan evakuasi ke tempat yang aman yang sudah disediakan oleh pemerintah setempat.

Menurutnya, diperlukan adanya ronda malam untuk antisipasi banjir dan longsor, terutama jika di daerah tersebut belum memiliki alat alarm bencana. “Perlu ada ronda malam untuk antisipasi banjir dan longsor sehingga cepat diketahui. Tetapi kalau di wilayah tersebut sudah ada alat alarm bencana longsor maka diikuti saja bunyi sirine bencananya,” ujarnya, Kamis (25/11/2021).

Baca juga: Jauh di Bawah UMK, Ini Besar Gaji Guru Honorer di Gunungkidul

Menanggapi kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang akan mengosongkan ratusan waduk dan bendungan untuk menampung hujan dengan cara mengurangi volume air, menurutnya tidak begitu efektif.

Hal ini dikarenakan kondisi banyak waduk dan bendungan sekarang ini posisi ketinggian airnya sudah di titik terendah kecuali waduk-waduk besar. “Apalagi yang mau dibuang? Kalau prinsip saya, volume waduk tidak dibuang semua, tetapi dikurangi per kejadian hujan,” katanya.

Dalam langkah tersebut, dihitung volume angka aman yang harus dipertahankan. Begitu hujan tinggi maka pintu waduk dibuka dan volume dikurangi sedikit demi sedikit menyesuaikan hujan yang masuk.

Adanya La Nina ditambah musim penghujan meningkatkan peluang terjadinya hujan yang cukup tinggi. Menjelang akhir tahun ini, Indonesia diprediksi akan menghadapi La Nina sehingga akan berdampak bagi bencana banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat harus waspada akan dampak bencana tersebut.