Sultan-Ridwan Kamil Tepis Rumor Sejarah Ketidakharmonisan Jawa-Sunda

Gubernur DIY Sri Sultan HB X dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat penandatangan kerja sama antarprovinsi antara Pemda DIY dengan Pemprov Jawa Barat di Resto Rama Shinta Prambanan, Rabu (1/12/2021) - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
02 Desember 2021 21:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Hubungan Jawa-Sunda yang sejak dulu dinarasikan tidak harmonis terus dikikis dengan berbagai bentuk kerja sama. Salah satunya lewat kerja sama seni, budaya dan pariwisata.

Baik Gubernur DIY Sri Sultan HB X maupun Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersepakat untuk melupakan sejarah masa lalu yang menciptakan ketidakharmonisan Jawa-Sunda. Keduanya berkomitmen untuk terus membangun persatuan Bangsa.

Dijelaskan Sultan, ada narasi sejarah yang mengait-ngaitkan hubungan tidak harmonis antara Jawa dengan Sunda. Sultan menduga narasi sejarah dalam perang Bubat yang menyebabkan hubungan antara masyarakat Jawa dan Sunda dinilai tidak akan harmonis hanya dihembuskan oleh Belanda.

"Artinya mungkin [perang Bubat] itu versi Belanda saja, kira-kita kan gitu. Sebab dalam narasi sejarah manuskrip Indonesia kan tidak ada, mungkin juga tidak pernah ada," ungkap Sultan usai penandatangan kerjasama antarprovinsi antara Pemda DIY dengan Pemprov Jawa Barat di Resto Rama Shinta Prambanan, Rabu (1/12/2021).

Menurut Sultan, peristiwa Perang Bubat tersebut dinarasikan terjadi sekitar abad ke-13 atau 700 tahun yang lalu. Padahal saat ini baik Jawa Barat maupun DIY sudah menyatu dalam bingkai NKRI. Artinya, peristiwa itu tidak relevan lagi untuk dipertahankan apalagi menjadi dendam.

"Sejarah yang tidak pasti justru harus ditinggalkan dan menatap masa depan bersama. Jangan menoleh ke belakang terus. Oleh karenanya, kami sepakat memulai membangun hubungan persaudaraan untuk persatuan Bangsa," kata Sultan.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mewujudkan harmonisasi dengan Jawa Barat, Pemda DIY memberikan nama Jalan Arteri menjadi Jalan Pajajaran dan Jalan Siliwangi. Pemberian nama ini sebagai sarana harmonisasi sejarah dan budaya.

BACA JUGA: Pengusaha Pariwasata di Jogja Mohon Wisata Tak Ditutup Saat PPKM Level 3

"Kalau di kami, di Kota Bandung, di belakang Gedung Sate ada nama Jalan Hayam Wuruk dan Majapahit. Ini Penguatan budaya Jawa-Sunda yang secara konkret baru dilakukan di era Sultan HB X setelah ratusan tahun lamanya,” kata Ridwan Kamil.

Pria yang akrab dipanggil Kang Emil ini mengatakan, kesepakatan dan kerja sama yang dilakukan Pemprov Jawa Barat dengan Pemda DIY dapat menjadi contoh untuk persatuan bangsa. Sebab saat ini bangsa Indonesia begitu mudah terlibat perpecahan saudara. "Saat ini kita dapat merasakan atau melihat sering terjadi pertengkaran di ruang-ruang informasi, sehingga terasa begitu bising. Kami perlu melakukan ini untuk menarasikan untuk persatuan bangsa," katanya.

Kang Emil berharap sinergi Jawa dan Sunda ini dapat menjadi penyejuk di situasi bangsa yang sedang dalam situasi banyak membesar-besarkan perbedaan. Dalam kesempatan tersebut, selain dilakukan penandatangan kerjasama, Sultan juga disuguhi atraksi berbagai seni budaya dari Jawa Barat dan Yogyakarta.