Demi Lalu Lintas, Pohon Perindang di Kota Jogja Dikorbankan

Tugu Jogja. - Harian Jogja/Holy Kartika N.S
13 Desember 2021 16:27 WIB Sirojul Khafid & Jumali Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pemkot Jogja mengorbankan sejumlah pohon perindang untuk mendukung rekayasa lalu lintas agar arus kendaraan lebih lancar.

Terbaru, Pemkot Jogja menebang seluruh pohon yang berada di pembatas Jalan Mayor Suryotomo, Jogja, setelah jalan tersebut dibuat searah.

Menebang pohon untuk memperlancar arus lalu lintas, bukan kali ini saja dilakukan Pemkot Jogja. Beberapa waktu lalu, sejumlah pohon yang berada di sebelah barat Bundaran UGM menuju Mirota Kampus juga ditebang untuk mendukung rekayasa lalu lintas.

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut suhu udara di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta semakin panas, lantaran tingginya laju alih fungsi lahan, selain emisi gas rumah kaca.

Dwikorita mengatakan temperatur rata-rata di Jateng dan DIY mengalami tren kenaikan selama 30 tahun terakhir. Kenaikan tersebut tidak terjadi secara merata. Wilayah daratan tengah mengalami kenaikan lebih tinggi daripada pesisir.

Mengacu pada data Pemerintah Kota Jogja, Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Gudeg baru tercapai sekitar 8,11% dari total luas Kota Jogja. Idealnya, Kota Jogja memiliki 30% RTH dari luasan wilayah. Sebanyak dua per tiga RTH merupakan kontribusi dari pohon perindang yang ada di jalan-jalan. Sementara sisanya berada di RTH permukiman warga.

Kepala Seksi Pertamanan dan Perindang Jalan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Pramu Haryanto mengatakan persentase minimal RTH sebanyak 30% terbagi 20% RTH dari Pemkot, dan 10% dari swasta.

BACA JUGA: Nataru, Kemenhub & TNI-Polri Sediakan Fasilitas Vaksinasi dan Tes Antigen

“RTH di Kota Jogja belum tercapai 20 persen, baru 8,11 persen. Untuk RTH swasta lebih banyak, sudah tercapai sekitar 15 persen,” kata Pramu, Jumat (10/12/2021).

Ke depannya, DLH Kota Jogja berupaya menambah atau memperluas RTH. Saat ini sudah ada sekitar 50 RTH di Kota Jogja, dan setiap kelurahan sudah memiliki RTH. “Tahun depan akan ada penambahan RTH, namun belum tahu berapa,” kata Pramu.
Menurut Pramu, pemenuhan RTH 20% dari Pemkot paling memungkinkan dengan menambah atau memperluas RTH di perkampungan. “Apabila menambah pohon di jalan-jalan cukup sulit,” kata dia.

Pramu mengatakan pohon-pohon perindang yang ditebang akibat proyek renovasi jalan, semuanya sudah diganti. Penggantian penanaman pohon itu, kata dia, tidak selalu di tempat semula. Terlebih penanaman pohon mempertimbangkan lingkungan sekitar. Sering kali penanaman terkendala adanya jaringan listrik, air, dan lainnya.

“Pohon perindang yang dulu ditebang di Mirota Kampus, gantinya di Jalan Simanjuntak, di Kotabaru juga ada. Kalau di Terban, di sisi utara ada jaringannya, jadi enggak mungkin,” kata Pramu.

Adapun pohon-pohon di Jalan Suryotomo, penggantinya ditanam di situ juga. “Dari yang sebelumnya di tengah jalan, penggantinya di sisi kiri dan kanan jalan,” ujarnya.

Saat ini, jumlah pohon perindang jalan yang dikelola DLH Jogja berjumlah 20.000. Belum ada data berapa pohon perindang yang ditebang serta jumlah penggantiannya selama 2021.

Naiknya Suhu Udara
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, mengatakan adanya alih fungsi lahan telah memacu perubahan iklim di DIY. Hal ini tampak dari naiknya suhu udara di DIY. Selain itu, adanya perubahan iklim juga telah menyebabkan cuaca ekstrem seperti hujan es yang biasanya terjadi di Kota Jogja dan Sleman.

"Karena memang sudah ada perubahan iklim, maka harus ada adaptasi dan mitigasi," katanya, Minggu (12/12/2021). Adaptasi yang dimaksud Reni, salah satunya bisa dilakukan oleh petani dengan menanam bibit unggul. Sedangkan mitigasi, bisa dilakukan dengan memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat agar tetap menjaga lingkungan. "Salah satunya menanam pohon. Sebisa mungkin setiap rumah ada pohon," ucapnya.