Makna Podhang Ngisep Sari, Ikon Gunungkidul yang Berkibar saat HUT RI
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Ilustrasi. /ANTARA FOTO-Aloysius Jarot Nugroho
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Nasib siswa di SD Negeri 2 Tepus, di Dusun Blekonang I, Tepus, Kalurahan Tepus belum ada kepastian hingga sekarang. Pasca-penggusuran gedung sekolah untuk Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), Pemkab belum memberikan solusi berkaitan dengan lokasi baru tempat belajar mengajar.
Sebagai dampaknya, para siswa harus belajar di balai dusun di wilayah tersebut. Anggota DPRD Gunungkidul, Hudi Sutamto mengatakan, kasihan dengan nasib anak-anak di SD Negeri 2 Tepus. Pasalnya, tempat belajar yang digunakan tidak representatif karena hanya menggunakan balai dusun.
“Seharusnya masalah ini sudah selesai sebelum adanya pembongkaran bangunan untuk JJLS. Tapi, hingga sekarang belum ada solusi dan kalau terus dibiarkan yang dirugikan adalah para siswa,” kata Hudi kepada wartawan, Selasa (21/12/2021).
Menurut dia, sikap dari warga dan wali murid jelas dan menginginkan adanya gedung baru sebagai pengganti. Pihak kalurahan juga sudah menyediakan lahan pengganti untuk pembangunan.
BCA JUGA: Info Stok Darah di DIY Selasa, 21 Desember 2021
Adapun opsi regrouping atau penggabungan sekolah ditolak karena sekolah baru yang disediakan jaraknya mencapai empat kilometer. Kondisi ini jelas memunculkan masalah baru bagi para siswa, salah satunya berkaitan dengan akses ke sekolah.
“Jangan sampai ada penelantaran. Jadi, saya harap aspirasi dari warga bisa menjadi pertimbangan,” katanya.
Menurut dia, dinas pendidikan pemuda dan olahraga cenderung memilih regrouping sebagai solusi. Hal ini berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.36/2014 maka SD Negeri 2 Tepus bisa digabung karena jumla total siswa kurang dari 60 anak.
Meski demikian, sambung Hudi, aturan tersebut tidak bisa diterapkan secara kaku. Pasalnya, didalam Undang-Undang Dasar 1945 sudah memuat tujuan yang jelas, salah satunya mencerdaskan kehidupan bangsa. Proses ini bisa dicapai dengan memberikan kemudahan akses pendidikan bagi masyarakat.
“Kasihan anak-anak kalau harus menempuh jarak yang jauh hanya untuk bersekolah. Saya takut kalau regrouping tetap dilakukan, anak-anak mala enggan bersekolah,” katanya.
Pelaksana Tugas Sekretaris Disdikpora Gunungkidul, Kisworo mengatakan, sudah membuat kajian berkaitan dengan kelanjutan SD Negeri 2 Tepus. Adapun hasilnya, sekolah ini memenuhi persyaratan untuk dilakukan regrouping.
Dia tidak menampik ada upaya penggabungan dengan sekolah lain. Meski demikian, ada sejumlah pertimbangan sehingga belum membuat keputusan pasti terkait nasib SD Negeri 2 Tepus.
“Memang ada penolakan dari masyarakat sehingga belum ada putusan final. Hingga sekarang, kami juga masih menunggu balasan nota dinas yang dikirimkan ke sekretariat daerah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Penelitian terbaru ungkap ChatGPT-4 mampu memprediksi kepribadian, pendapatan, hingga pendidikan manusia. Anehnya, pertanyaan berbasis astrologi buatan AI justr
Polda DIY menetapkan tiga tersangka dalam kasus pembubaran paksa ibadah GMS di Sewon, Bantul setelah memeriksa 32 saksi.
Google Drive penuh padahal file sudah dihapus? Penyebabnya bisa karena file di Trash, e-mail Gmail, atau foto Google Photos yang menumpuk. Simak cara mengatasin
Gempa NTT berdampak pada sejumlah fasilitas transportasi. Menhub Dudy Purwagandhi memerintahkan pemeriksaan pelabuhan, terminal, dan bandara.
Tiga kalurahan di Bantul baru memiliki satu pendaftar calon lurah. Jika tak ada tambahan calon, Pilur bisa melawan kotak kosong.