Alun-Alun Kraton Jogja Dijual, Sultan: Istana Negara Juga Bisa Dijual

Alun-Alun Kraton Jogja dijual di Metaverse. - Antara
06 Januari 2022 18:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Gubernur DIY Sri Sultan HB X menanggapi penjualan Alun-Alun Kraton Jogja hingga Kepatihan di Metaverse situs Next Earth. Sultan meresponsnya dengan proporsional dan mengibaratkan aktivitas virtual itu seperti mainan Monopoli tempat kita bisa membeli hotel fiktif.

“Pernah main Monopoli enggak? Main monopoli nek nganggo dadu kae [pakai dadu], dapat [poin] sekian, naik bisa turun, nanti begitu melewati tertentu punya duit kertas di Monopoli itu, isa tuku omah [bisa untuk beli rumah permainan], isa tuku hotel kan [untuk beli hotel fiktif], ha iyo pada lah [dengan  kasus penjualan Alun-Alun Kraton di Next Earth],” kata Sultan Kamis.

BACA JUGA: Mengenal Metaverse, Dunia Virtual yang Memperjualbelikan Alun-Alun Utara Jogja untuk Investasi

Sultan mengatakan berbagai lokasi virtual itu bisa dijual tak terkecuali Istana Negara. Namun, itu bukan transaksi fisik yang sebenarnya.

“Nah itu, istana negara saja kan sudah dijual. Nanti bisa untuk keramaian dan sebagainya tetapi virtual semua, bukan transaksi fisik, tidak, ya main monopoli lah. Kalau ngerti main Monopoli, ya kuwi lah. Seperti hotel kan mung barang cilik warnanya merah di monopoli,” katanya.

Alun-Alun Utara Jogja viral atau menjadi perbincangan netizen karena dijual di Metaverse. Alun-Alun Utara dilego di situs Next Earth. Publik belum mengenal dekat Metaverse, yang digadang-gadang menjadi lingkungan masa depan netizen.

CEO Facebook Mark Zuckerberg menggambarkan Metaverse sebagai "lingkungan virtual" yang bisa kita masuki sehingga seolah-olah kita berada di dalamnya. Metaverse jauh lebih canggih ketimbang semua medsos yang ada saat ini yang hanya memberi kesempatan kepada pengguna untuk melihat di layar. 

Metaverse mulai populer karena Zuckerberg. Pada 28 Oktober 2021, Zuckerberg mengganti nama perusahaannya dari Facebook menjadi Meta. Satu hari kemudian, Zuckerberg mengungkapkan rencananya membangun jagad virtual masa depan lengkap yang dilengkapi dengan apa yang disebut "rasa kehadiran". Lingkungan itu disebut Metaverse, istilah dalam novel fiksi ilmiah Snow Crash karya Neal Stephenson.

Metaverse adalah realitas virtual tiga dimensi (3D) yang menggabungkan teknologi artificial intelligence (AI), augmented reality (AR), dan virtual reality (VR). Tampilan di dalamnya tiga dimensi sehingga mirip realitas sehari-hari yang kita temui, tempat semua orang dapat bertemu, bekerja, berbelanja, dan bermain. Metaverse dimasuki menggunakan kacamata augmented reality, aplikasi smartphone, hingga sarung tangan khusus agar Anda merasakan sensasi kehadiran seperti di dunia nyata.

"Ini adalah evolusi konektivitas berikutnya. Anda menjalani kehidupan virtual Anda dengan cara yang sama seperti Anda menjalani kehidupan fisik Anda," kata analis teknologi, Victoria Petrock, sebagaimana dilansir npr.org.

Di Metaverse, kita dapat melakukan hal-hal yang sudah lazim seperti pergi ke konser virtual, melakukan perjalanan online, melihat atau membuat karya seni, dan mencoba atau membeli pakaian digital. 

BACA JUGA: NFT Disebut sebagai Ladang Baru Pencucian Uang, Bareskrim Turun Tangan

Metaverse juga bisa mengubah cara kerja manusia di masa depan. Di Metaverse, pekerja dapat saling bertemu di kantor virtual.

Facebook telah meluncurkan meeting software untuk perusahaan, dinamai Horizon Workrooms, untuk digunakan dengan headset Oculus VR-nya. Dengan ini, pengguna dapat berpindah di antara dunia virtual yang dibuat oleh perusahaan yang berbeda. 

Selain Facebook, ada beberapa perusahaan lain yang membangun Metaverse masing-masing, termasuk Microsoft dan pembuat chip Nvidia.

"Kami pikir akan ada banyak perusahaan yang membangun dunia dan lingkungan virtual di Metaverse, dengan cara yang sama ada banyak perusahaan yang melakukan sesuatu di world wide web," kata Wakil Presiden Platform Omniverse Nvidia, Richard Kerris.

Richard mengatakan Metaverse harus diperluas sehingga pengguna dapat berteleportasi ke dunia yang berbeda dengan cara yang sama seperti netizen dapat berpindah dari satu halaman web ke halaman web lain.

Platform game Roblox, pemain besar di Metaverse, merancang Metaverse sebagai tempat orang-orang dapat berkumpul bersama dalam jutaan pengalaman 3D untuk belajar, bekerja, bermain, berkreasi, dan bersosialisasi. 

Metaverse lain yang cukup populer dirancang Next Earth. Next Earth dirancang untuk menciptakan Bumi virtual. Proyek ini dibangun menggunakan blockchain dan terintegrasi langsung dengan NFT, DeFi, dan DAO. Blockchain, seperti kita tahu, adalah teknologi yang mendasari perkembangan mata uang kripto seperti bitcoin, ethereum, atau bentuk aset kripto lain.

Next Earth adalah Metaverse yang beroperasi pada blockchain Ethereum dengan jaringan Polygon. Pengguna bisa memiliki aset real estate virtual berdasarkan lahan yang terdapat di Bumi. Next Earth memiliki ratusan ribu lahan NFT dan dijalankan tanpa perantara.

Next Earth membuat replika Bumi dan memberi kesempatan investor untuk memperdagangkan tanah virtual menggunakan mata uang kripto. Lahan virtual ini menjadi investasi menggiurkan. Pengguna bisa menjual kembali Next Earth NFT Land dengan harga yang lebih tinggi untuk meraup keuntungan. Inilah yang terjadi pada Alun-Alun Utara Jogja yang dijual di Next Earth.

Sebagaimana dilansir Suara.com, Eka Haryanta, warga Srimartani Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, yang sering bermain game virtual mengaku melihat Alun-Alun Utara dijual dalam situs Next Earth oleh pemilik akun Yofhiant sebesar 240 United States Dollar Tether (USDT). USDT adalah mata uang kripto dengan nilai per aset setara US$1.

BACA JUGA: Alun-Alun Utara Jogja Dijual dengan Mata Uang Kripto

Pakar teknologi informasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ridi Ferdiana menilai pembelian tanah virtual di Metaverse berpeluang menjadi wahana investasi yang menjanjikan di masa mendatang.

“Jika dibandingkan dengan kenaikan tanah di kondisi nyata tentu ini sangat menjanjikan, tetapi apakah memang aman dan ada peminat yang bersedia membeli? Itu cerita yang berbeda,” kata Ridi Ferdiana sebagaimana dilansir Antara, Kamis.

Menurut Ridi, potensi itu sangat besar mengingat terus berkembangnya para pengguna Metaverse.

Seiring perkembangan itu, berbagai lokasi menarik seperti universitas, situs sejarah dan budaya, hingga point of interest lain diperjualbelikan dalam bentuk tanah virtual.

“Kenaikan [nilai tanah virtual] yang dijanjikan juga menjanjikan,” ucap dia.

Ia mencontohkan lokasi lahan virtual Universitas Gadjah Mada yang sebelumnya bernilai 0.1 USDT (mata uang Crypto) di Next Earth saat ini naik pesat menjadi 382,64 USDT atau melesat 282%.

Sejumlah lahan virtual yang tepat berada di peta digital lokasi sejumlah kawasan atau aset penting di DIY juga telah terjual senilai mata uang kripto.

Misalnya Kompleks Gedung Agung Yogyakarta terjual senilai 36,84 USDT, Kompleks Museum Benteng Vredeburg terjual 15,17 USDT, serta Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY juga telah terjual senilai 6,19 USDT.

Lahan virtual di lokasi Alun-Alun Utara juga terjual 244.51 USDT dan Kepatihan atau Kantor Gubernur DIY terjual 17.39 USDT.

Menurut Ridi, tidak menutup kemungkinan di masa mendatang akan muncul bisnis kredit kepemilikan lahan atau aset virtual layaknya sistem kredit kepemilikan rumah (KPR).

“Konsep KPR akan sangat mungkin terjadi di sini tetapi bukan mencicil tetapi memiliki sebagian kecil dari landmark yang ada misalnya satu per 10 gedung UGM,” kata dia.

Ia mengatakan keamanan aset virtual yang ada di Next Earth didasarkan pada konsep teknologi blockchain.

Layaknya membeli kendaraan dengan kepemilikan buku kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB) yang tercatat, menurut dia, membeli tanah virtual akan memiliki kepemilikan berupa non fungible token (NFT) yang mencegah aset disalin dan diperbanyak.

“Legalisasi aset virtual saat ini memang belum diatur sepenuhnya. Tetapi mengacu pada statemen bank sentral Indonesia, uang kripto adalah komoditas digital yang perlu dikaji kredibilitasnya,” kata dia.