Target RPJMD DIY Dikejar di Tahun Terakhir, Kemiskinan Jadi Tantangan
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Luncuran awan panas Gunung Merapi menuju hulu Sungai Krasak sekitar pukul 12.44 WIB terlihat dari Kawasan Turi, Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (7/1/2021)./Harian Jogja-Gigih M Hanafi
Harianjogja.com, SLEMAN—Bahaya erupsi Gunung Merapi meluas. Badan Geologi memperbarui rekomendasi bahaya Gunung Merapi menyusul perkembangan aktivitas erupsi dan perubahan topografi di puncak Merapi.
Namun, tidak ada perubahan status dalam pemutakhiran ini. Merapi masih berstatus Siaga.
BACA JUGA: Update Erupsi Merapi: Kubah Lava Terus Tumbuh, Awan Panas & Guguran Lava Teramati
Kepala Badan Geologi, Eko Budi Lelono, menjelaskan perubahan rekomendasi bahaya berada di barat daya meliputi Sungai Bedog, Krasak dan Bebeng. Semula potensi bahayanya hanya sejauh 5 km, kini menjadi 7 km.
“Dengan menggunakan data topografi terbaru, hasil pemodelan menunjukkan apabila kubah lava barat daya longsor secara masif, akan menimbulkan awan panas guguran ke Sungai Bedog, Bebeng, Krasak sejauh maksimal 6,3 km,” ujarnya, Kamis (27/1/2022).
Sementara, rekomendasi bahaya pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km. Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Dengan rekomendasi bahaya terbaru ini, masyarakat diimbau agar tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya tersebut dan mewaspadai ancaman lahar, terutama saat turun hujan di seputar Gunung Merapi.
Hasil analisis data drone dan kamera DSLR menunjukkan kondisi kedua kubah lava dan tebing-tebing puncak sekitarnya masih stabil. Guguran lava atau rockfall (RF) dan awan panas guguran (APG) saat ini bersumber di bagian atas kiri kubah lava barat daya yang merupakan pusat ekstrusi magma saat ini.
Topografi di hulu-hulu sungai sektor barat daya berubah akibat penumpukan material guguran dan awan panas. Berdasarkan data pantauan selama 2021, terjadi guguran lava sebanyak 61.446 kali dan awan panas guguran sebanyak 424 kali.
BACA JUGA: Terus Tumbuh, Wajarkah Volume Kubah Lava Merapi?
Kubah lava tengah kawah dan barat daya terus tumbuh dengan laju rata-rata masing-masing sebesar 5.000 meter kubik per hari dan 10.000 meter kubik per hari. Pada 20 Januari 2022, volume kubah tengah kawah terhitung sebesar 3.007.000 meter kubik dan kubah lava barat daya sebesar 1.670.000 meter kubik.
Intensitas data pemantauan seismik internal (VT dan MP) dan deformasi dalam fase erupsi Merapi ini cukup signifikan, tetapi tidak meningkat secara menerus. Ekstrusi magma diperkirakan masih akan berlangsung dengan tipe erupsi cenderung bersifat efusif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Israel kembali menyerang armada bantuan Gaza di laut internasional. Puluhan kapal disita dan ratusan aktivis ditahan.
Jadwal KRL Solo–Jogja 20 Mei 2026 lengkap semua stasiun dari Palur ke Tugu. Cek jam berangkat terbaru dan tarif Rp8.000.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.