Advertisement

Peringatan 100 Hari Meninggalnya Gunawan Maryanto: Mengenal Cindhil dalam Ragam Kesusastraan

Yosef Leon
Selasa, 15 Februari 2022 - 07:27 WIB
Budi Cahyana
Peringatan 100 Hari Meninggalnya Gunawan Maryanto: Mengenal Cindhil dalam Ragam Kesusastraan Dialog sastra memperingati 100 hari berpulangnya Gunawan Maryanto, di TBY, Senin (14/2/2022). - Harian Jogja/Yosef Leon

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kebudayaan DIY melalui Unit Pelaksana Teknis Taman Budaya Yogyakarta (UPT TBY) bersama sejumlah sastrawan menyelenggarakan dialog sastra peringatan 100 hari berpulangnya sastrawan Gunawan Maryanto. Acara yang menghadirkan rekan sejawat dari penyair yang biasa disapa Cindhil itu digelar di ruang seminar TBY pada Senin (14/2/2022).

“Gunawan Maryanto adalah sosok besar dan guru bagi sejumlah kalangan. Karyanya melintas dan tetap relevan dikaji sampai hari ini. Kami berharap, 100 hari berpulangnya Gunawan jadi spirit peringatan yang menular bagi generasi sekarang untuk menjaga dan melestarikan khazanah sastra sebagai bagian dari kerja kebudayaan,” kata Kepala UPT TBY, Diah Tutuko Suryandaru.

BACA JUGA: Serangan Jantung, Aktor Gunawan Maryanto Rapat di Teater Garasi 30 Menit Sebelum Meninggal

Dialog itu dikemas dengan bincang santai dan mengambil tema Aku Berkisar, Antara Mereka, Puisi dan Panggung Itu, dipandu oleh Latief S. Nugraha dengan menghadirkan para pembicara Ugoran Prasad, Ni Made Purnama Sari dan juga Shohifur Ridho'i. Peserta diajak lebih jauh menyelami lautan pikiran Cindhil lewat beragam karya sastranya.

“Membaca buah pikiran Cindhil utamanya pada karya puisinya, kita bisa menilai bahwa untaian diksi dan narasi yang disuguhkan kepada pembaca sungguh kompleks namun sederhana. Cindhil hemat saya adalah sastrawan utuh yang berangkat dari akarnya dalam kerja-kerja kebudayaan,” kata Ni Made Purnama Sari.

Buah pikiran Cindhil pun hadir dalam bentuk lain berupa cerpen, prosa, esai atau naskah drama dengan jumlah belasan baik yang diterbitkan sebagai penulis utama maupun penulis tamu. Kumpulan cerpennya yang cukup menyita perhatian adalah Bon Suwung. Ni Made merujuk pendapat Budi Darma yang menyebut tiga ciri cerpen Gunawan Maryanto. Pertama, cerpen identik dengan puisi. Kedua, cerpen adalah alusi. Ketiga, cerpen identik dengan dunia asing.

"Retorika Gunawan dalam membuat plot dan karakter tokoh mengalir tanpa dikenalkan secara langsung dalam penceritaan cerpennya," kata dia.

Kiprah Cindhil di kesustraaan juga digali melalui aktivitasnya pada seni teater kontemporer. Ugoran Prasad, rekan Cindil saat bergiat di Teater Garasi menyebutkan bahwa, ide lakon teater yang ditulis Gunawan Maryanto kebanyakan muncul dari fenomena dan juga kebiasaan masyarakat lokal khususnya Jawa. Seperti dalam naskah drama Sri yang merupakan karya adaptasi dari dramawan Spanyol, Federico Garcia Lorca.

"Cindhil dalam karya itu mengetengahkan fenomena banyak anak banyak rezeki dalam istilah masyarakat tradisional. Ini mungkin juga didorong latar belakangan pendidikannya yang sempat mengambil studi Sastra Nusantara," ujar Ugoran.

Di lain hal, Shohifur menilai bahwa aspek  panggung dan latar belakangan teaterawan begitu melekat dalam puisi dan juga cerpen Cindhil. Gaya khasnya dalam berturur, mengajak pembaca hanyut dalam rangkaian kata per kata menjadi warna tersendiri dalam cerpen-cerpen Cindhil. "Beliau adalah narator yang lihai, kita bisa melihat dalam Galigi, pembaca merasa nyaman dengan cerpen yang berasa dongeng," ungkap penulis manuskrip puisi berjudul Rokat Perahu Mawar ini.

Advertisement

 

 

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Arkeolog Temukan Gigi Berusia 1,8 Juta Tahun di Georgia

News
| Senin, 03 Oktober 2022, 11:27 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement