Prabowo Serahkan Urusan Bonus Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN ke PSSI
Prabowo menyerahkan urusan bonus Timnas Indonesia usai juara FIFA ASEAN Cup 2026 kepada PSSI dan memuji perjuangan skuad Garuda.
Polisi menunjukkan terduga pelaku klitih dan beberapa barang bukti yang diamankan dalam jumpa pers pada Jumat (4/1/2019) di Polsek Ngaglik./Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan
Harianjogja.com, JOGJA--Merebaknya kasus klithih di Jogja ditengarai terjadi karena orang tua membiarkan anak-anaknya keluar malam. Hal itu disampaikan Badan Intelijen Negara (BIN) DIY.
Lembaga ini ikut angkat bicara terkait geger tindak kekerasan jalanan atau lazim disebut klithih di Jogja akhir-akhir ini. Klithih bahkan menjadi trending topic di medsos selama empat hari berturut-turut. BIN menegaskan klithih bukan sengaja didesain.
Kepala BIN DIY Brigjen Pol Andry Wibowo menjelaskan berdasarkan riset yang telah dilakukan di Jakarta, fenomena kejahatan jalanan atau disebut dengan klithih di Jogja merupakan fenomena di perkotaan.
Secara sosial kontrol terhadap anak kian berkurang, mereka biasanya dibiarkan di luar rumah pada malam hari, sehingga perlu penguatan seperti Jaga Warga di Jogja.
BACA JUGA: Siap-siap! Jogja Bakal Kebanjiran Pemudik
Menurutnya kombinasi struktural dan sosial cukup efektif diterapkan di Jakarta Timur. Konsep penanganan itu dinilai tetap relevan menjadi model penanganan klithih di Jogja.
“Kalau riset kami dulu di Jakarta Timur itu memang ada problem dari struktural, dari pemerintah polisi dan sebagainya itu terjadi kekosongan atau gap antara ruang publik dengan kegiatan polisionil di malam hari. Sehingga kami waktu itu kami menambah kekuatan di malam hari dan melakukan kegiatan polisonil pada spot yang rawan terjadinya berbagai kejahatan termasuk remaja,” katanya.
Andry menegaskan kasus klithih yang terjadi di Jogja kemudian sampai trending topic selama berhari-hari di medsos menurutnya bukan by design atau setingan. Ia menilai faktanya memang ada kelompok masyarakat yang berada di jalur kejahatan butuh untuk ditangani melalui pendekatan hukum hingga pembinaan pencegahan kenakalan remaja.
“Saya kira ini bukan by design, artinya memang ada patologi sosial, ada masyarakat yang suka atau tidak suka melakukan perilaku menyimpang seperti penggunaan narkoba, mencuri dan sejenisnya. Ini adalah hasil riset saya, dan waktu itu diterapkan di Jakarta Timur dan waktu itu mengalami penurunan,” ujarnya.
Ia menyatakan siap mendukung Pemda DIY dan Polda DIY melalui berbagai pemikiran penanganan klithih melalui berbagai pengalaman dalam menangani hal yang sama. Terkait kemungkinan adanya kelompok besar di balik klithih di Jogja, masih butuh riset lebih lanjut. Tetapi tindakan yang dilakukan pemuda itu biasanya terinspirasi dari berbagai sumber salah satunya pencarian jati diri pada remaja.
“Misalnya ada kelompok yang jika ingin merekrut anggota harus berani memukul atau menyerang, ini yang harus dicermati juga. Sehingga penguatan kekuatan kepolisian di malam hari melalui patroli, harus berani menegur ketika ada remaja nongkrong, suruh pulang, hubungi orangtuanya,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Prabowo menyerahkan urusan bonus Timnas Indonesia usai juara FIFA ASEAN Cup 2026 kepada PSSI dan memuji perjuangan skuad Garuda.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 8 Oktober 2026 tersedia mulai pagi. Simak jadwal lengkap dari Stasiun Palur hingga Jogja/Tugu.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 8 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap dan tarif KRL Rp8.000.
Awal musim hujan di Bantul diprediksi mundur lebih dari 30 hari. DPRD Bantul menyiapkan posko dan antisipasi kekeringan.
Suzuki e SKY resmi diperkenalkan di Jepang dan dijual mulai 16 November 2026. Mobil listrik mungil ini punya jarak tempuh 310 km dan desainnya tercatat di DJKI.
DPRD DIY meminta BUMD tak hanya mengejar pertumbuhan aset, tetapi juga memperbesar keuntungan dan kontribusi terhadap pendapatan daerah.