Advertisement

Komunitas Ini Gencar Kampanyekan Pangan Sehat dan Adil

Lajeng Padmaratri
Sabtu, 07 Mei 2022 - 08:07 WIB
Arief Junianto
Komunitas Ini Gencar Kampanyekan Pangan Sehat dan Adil Para anggota Slow Food Jogja berfoto bersama. - Instagram @slowfood_yogyakarta

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Komunitas yang bergerak di isu pangan sehat semakin beragam. Di Jogja, ada satu perkumpulan berbasis gerakan yang mempromosikan pangan dan cara memasak lokal serta sehat, yaitu Slow Food Jogja.

Komunitas ini berdiri pada awal 2013. Di Jogja, komunitas ini dibentuk oleh tujuh orang pendiri, yaitu Ell Wisanti, Sjahrial, Endang Prasodjo, Amaliah, Topan Satir, Alm. Boni Telo, dan Alm. Sandra Ariestawati.

Advertisement

BACA JUGA: Kunjungan Wisatawan Membludak, Dispar Jogja Cek Acak Prokes

Pendiriannya memiliki arti penting di Jogja sebagai kota budaya, pendidikan, dan pariwisata. Para pendiri berharap komunitas ini bisa menjadi suatu gerakan pendidikan dalam menciptakan masyarakat Indonesia yang mandiri melalui budaya pangan.

"Slow food sejatinya bukan merupakan gaya hidup, tetapi lebih pada gerakan yang mengajak pada kehidupan berbasis keberagaman budaya pangan lokal setempat yang berprinsip pada good, clean, and fair," terang Amaliah, koordinator Slow Food Jogja kepada Harianjogja.com, belum lama ini.

Dia menjelaskan, gerakan ini muncul sejak 1986 dari kalangan akar rumput yang berpusat di Bra, Italia. Kini, gerakan slow food telah tersebar di 160 negara, salah satunya Indonesia.

Amaliah melanjutkan prinsip good atau baik memiliki makna bahwa makanan selain enak, juga harus baik dan bergizi serta berkelanjutan untuk alam semesta. 

BACA JUGA: Kebun Binatang Besar Ramai, Exotarium Jadi Alternatif

Selanjutnya, prinsip clean atau bersih bermakna bahwa makanan aman bagi manusia sebagai sumber pangan sekaligus aman bagi lingkungan sekitar. Proses mengolah makanan seharusnya tidak merusak lingkungan, alam, maupun makhluk hidup lainnya.

Advertisement

"Kemudian, prinsip fair atau adil, maknanya bahwa makanan dari hulu ke hilir atau farm to fork itu harus memiliki harga yang berkeadilan," imbuhnya.

Amaliah menjelaskan Kota Jogja yang memiliki keberagaman sumber daya manusia dari berbagai suku dan etnis bisa menjadi sentral edukasi slow food

Dia berharap, generasi penerus dari berbagai suku yang perwakilannya ada di Jogja bisa melanjutkan visi gerakan ini melalui kemandirian dan keberagaman pangan. "Karena kami berada di kota yang dijuluki Kota Pendidikan, maka kami mengajak masyarakat menerapkan slow food dengan melakukan pendidikan pangan," kata dia.

Beberapa kegiatannya ialah diskusi mengenai pangan lokal dengan petani dan sejumlah stakeholder, seperti peneliti dan praktisi pangan sehat. Salah satunya ialah pada 2018 lalu, Slow Food Jogja menggelar kegiatan pengenalan beragam jenis pisang lokal dengan “Profesor Pisang” dari Bantul, yaitu Mbah Lasiyo.

Salah Kaprah

Amaliah mengungkapkan gerakan ini masih belum banyak dipahami oleh warga Jogja. Bahkan, masih banyak yang mengira bahwa slow food merupakan metode makan pelan-pelan atau teknik makan yang harus dihayati.

"Padahal, ini adalah gerakan counter dari fast food yang mengedepankan pola makan tinggi lemak, rendah serat, karbo dan gula tinggi. Juga counter atas industrialisasi pola makan yang fokus pada penyeragaman rasa, rupa dan budaya. Masih banyak langkah yang harus kami lakukan," ujarnya.

Sebagai gerakan pangan lokal, Amaliah menegaskan bahwa Slow Food Jogja menempuh langkah berkelanjutan, meskipun yang ditempuh sedikit demi sedikit, untuk mengedukasi masyarakat mengenai pola keberagaman pangan lokal dengan budaya setempat dengan prinsip keadilan.

Ia menambahkan Slow Food Jogja terbuka dengan anggota dari berbagai kalangan. Siapa pun bisa menerapkan gerakan ini lantaran berfokus pada warisan budaya terkait dengan pangan dari setiap daerah.

"Semua orang bisa menjadi anggota asalkan mau berbuat dan memahami bahwa slow food adalah gerakan akar rumput yang tidak mengikat, gerakan cair yang berfokus pada warisan budaya terkait dengan pangan, dan terintegrasi dalam menyuarakan suara pelestarian berkelanjutan," terangnya. 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement