Kustomfest 2026 Gelar Charity Riding untuk Korban Kebakaran Hutan
Kustomfest 2026 di Jogja hadir 10-11 Oktober dengan charity riding, dukungan pendidikan anak, musik, kuliner, dan tema High Octane.
Pembukaan workshop manajemen pengelolaan limbah domestik anorganik tidak bisa didaur ulang, lingkungan sehat keluarga sehat di Aula Adikarto, Selasa (17/05/2022)./Harian Jogja-Anisatul Umah
Harianjogja.com, KULONPROGO - Kondisi lingkungan menjadi salah satu faktor penyebab anak stunting. Sampah yang banyak dan tidak diolah, menggunung, memunculkan lalat sehingga berdampak pada kesehatan.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengatakan sub optimal health atau kurang optimalnya kesehatan menjadi faktor pertama penyebab stunting.
Dia menjelaskan faktor yang mempercepat penurunan stunting terdiri dari faktor sensitif dan spesifik. Faktor sensitif adalah lingkungan yang bersih dan sehat.
"Jamban baik, air baik, tidak tercemar oleh sampah ini faktor sensitif dan pengaruhnya 70%," ujarnya di Aula Adikarto, Kulonprogo, Selasa (17/05/2022).
Menurutnya, masalah sampah ini akan lebih baik penanganannya dilakukan di hulu. Sampah bisa dikelola di hulu akan menjadi zero residue, sehingga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tidak cepat penuh.
"Dimulai dari hulu, hulunya adalah keluarga rumah tangga," jelasnya.
Faktor stunting yang kedua adalah sub optimal nutrition atau tidak optimalnya nutrisi. Anak yang mengalami stunting kebanyakan tidak mendapatkan makanan yang cukup.
Lalu faktor ketiga adalah sub optimal parenting atau pola asuh yang kurang optimal. Orang tua kerap membuat stres anak dengan memarahi dan menakut-nakuti. Padahal idealnya anak harus digembirakan.
Bupati Kulonprogo Sutedjo mengatakan memilah sampah sejak awal penting dilakukan di tingkat keluarga. Selain itu juga diberdayakan reduce, reuse, recycle atau 3R.
"Ketika lingkungan sehat, keluarga sejahtera, kan kita berharap bahwa sampah juga membawa kesejahteraan sehingga 3R itu menjadi dukungan besar. Harapan di tingkat keluarga, kami membina dari sisi keluarga," tuturnya.
Apabila sampah dikelola dengan baik, maka lingkungan akan menjadi bersih. Sehingga menghasilkan generasi yang baik dan juga menjadi langkah penanganan.
Dia menjelaskan di Kulonprogo penanganan stunting tidak hanya ketika seorang bayi lahir lalu diberi nutrisi dan makanan yang cukup. Persiapan sudah dilakukan sejak calon orang tua akan menikah.
"Ibarat orang yang bertani tidak hanya sekedar memelihara tanaman yang tumbuh, tapi sejak pengolahan tanah, sejak dari calon anak dan calon ibu, calon suami dan calon istri," ucapnya.
Dia menyampaikan, sejak awal Kulonprogo telah bekerjasama dengan Kementerian Agama menyiapkan calon ibu dan calon ayah sebelum menikah. Selama tiga tahun berjalan angka stunting sudah berhasil diturunkan.
"Jadi target nasional angka 14%, target yang harus dicapai. Ini di Kulonprogo sudah 12%. Terendah di DIY," tuturnya.
Pernikahan dini di Kulonprogo menurutnya juga sudah mulai turun sekitar 30%. Dari mulanya ada 120 kasus turun menjadi 80 kasus. Menurutnya pernikahan dini juga akan berdampak pada kualitas yang diturunkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kustomfest 2026 di Jogja hadir 10-11 Oktober dengan charity riding, dukungan pendidikan anak, musik, kuliner, dan tema High Octane.
Ombudsman RI mengungkap dugaan pungli Rp150.000 per minggu di Lapas Cibinong. Lima pejabat struktural lapas kemudian dinonaktifkan.
Pemprov Jateng memperluas program Satu OPD Satu Desa Dampingan yang kini menjangkau 641 desa untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan.
Rusia memperingatkan NATO bahwa aktivitas militer di sekitar Kaliningrad meningkatkan risiko konflik bersenjata langsung.
Dinsos PPPA Kulonprogo menemukan pensiunan ASN menerima bansos. Penerima yang tidak layak diminta sadar dan dapat diganti sesuai kondisi.
Dinkes Bantul memastikan belum ada temuan influenza A hingga 29 September 2026 meski terdapat laporan 24 kasus di DIY.