Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan masih bisa terjadi hingga Juli mendatang meski dengan intensitas yang semakin mengecil. Fenomena ini perlu diantisipasi oleh para peternak dan petani dalam menjalankan pertanian dan peternakan.
Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono, menjelaskan masih terjadinya hujan hingga bulan Mei memiliki dampak pada pertanian dan peternakan. “Untuk bawang merah, sebagian kena moler atau terkena jamur,” ujarnya, Senin (23/5/2022).
Kemudian jenis tanaman lainnya yang juga terdampak yakni cabai. Meski tidak semua, sebagian cabai terkena patek. Untuk tanaman buah-buahan, pembungaan menjadi mundur, sehingga dampaknya kemungkinan produksi buah pun mundur.
Sedangkan pada peternakan, fenomena ini berdampak pada kondisi kesehatan ternak khususnya untuk jenis unggas. “Pengaruhnya ke peternakan, terutama karena fluktuasi suhu dan mengganggu unggas. Jadi berdampak ke pertanian dan peternakan,” kata dia.
BACA JUGA: Resmi Tinggalkan Balai Kota, Terima Kasih Haryadi Suyuti-Heroe Poerwadi
Hal senada diungkapkan Ketua Forum Petani Kalasan, Janu Riyanto. Menurutnya bulan Mei yang masih sering terjadi hujan ini berdampak pada jenis tanaman hortikultura. “kalau untuk padi tidak masalah, tapi bila hortikultura seperti cabai, bawang merah dan sayuran lain sangat bermasalah,” katanya.
Dampak pada tanaman hortikultura ini seperti terkena patek dan layu fusarium. Untuk meminimalisir dampak ini maka petani hortikultura perlu mengaplikasikan fungisida. Fungisida juga bisa diaplikasikan pada bawang yang terkena moler.
Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, mengatakan seluruh wilayah DIY akan memasuki awal musim kemarau pada Juni nanti. Meski demikian, potensi hujan bahkan cuaca ekstrem masih memungkinkan terjadi.
Hal ini disebabkan oleh setidaknya dua faktor. Pertama masih hangatnya suhu permukaan laut di sekitar Indonesia khususnya Jawa. “Yang kedua fenomena lanina moderate muncul lagi. Dampaknya terhadap penambahan intensitas curah hujan,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Persib Bandung comeback dan menang 2-1 atas Persijap Jepara pada pekan ketiga Super League 2026/27 lewat gol Thom Haye dan Uilliam Barros.
Pemkot Jogja memperkuat kolaborasi dengan ormas untuk menangani persoalan sampah, budaya, kerukunan, pendidikan, dan generasi muda.
Laba KB Bank menyusut 95,12% menjadi Rp19,02 miliar pada semester I/2026, meski pendapatan bunga bersih tumbuh 36,57%.
Nelayan Pati Haryanto ditemukan meninggal di Pantai Dukuh Widengan setelah empat hari hilang saat berusaha menolong rekannya yang tenggelam.
Pemerintah mengerahkan 64 pesawat dan 54.394 personel untuk menangani karhutla. Hotspot terdeteksi 1.323 titik hingga 19 September 2026.