Pedagang Tuna Netra Kini Bisa Jualan Tetap di Pasar Ngasem
Pedagang tuna netra Gilang Rizki kini mendapat tempat berjualan di Pasar Ngasem setelah sempat ditegur karena berjualan secara asongan.
Ilustrasi angin kencang./JIBI
Harianjogja.com, JOGJA - Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY) bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja melakukan kajian risiko bencana di wilayah setempat. Hasil kajian mengungkap terdapat tujuh jenis bencana di wilayah itu dengan tingkat bahaya yang berbeda-beda.
Tim Pusat Studi Manajemen Bencana UPNVY, Wiratama menjelaskan, tujuh jenis bencana itu adalah banjir, letusan gunung api dalam hal ini muntahan lahar hujan, wabah penyakit, cuaca ekstrem, kegagalan teknologi, kekeringan dan gempa bumi. Empat jenis bencana yakni banjir, wabah penyakit, cuaca ekstrem dan gempa bumi masuk dalam klasifikasi bahaya tinggi sementara kekeringan dengan jenis sedang dan letusan gunung api rendah.
"Karena Jogja itu hanya 45 kelurahan jadi kami survei semua tidak pakai sampel. Kami kumpulkan semua data di lapangan dan kemudian diolah," kata dia, Kamis (2/6/2022).
BACA JUGA: Mahasiswi UNISA Pembuat Konten TikTok Viral soal Pasang Kateter Pasien Pria Dijatuhi Sanksi
Menurut dia, metode pengkajian peta risiko bencana itu dibagi menjadi tiga bentuk yaitu peta ancaman, peta kerentanan dan peta kapasitas. Ketiganya kemudian disatukan dan dianalisis overlay untuk mendapatkan peta risiko bencana di Kota Jogja. Sementara untuk metode pengkajian tiap-tiap jenis bencana dilakukan dengan cara menggabungkan data dari berbagai instansi dan berbagai komponen untuk mengetahui tingkat klasifikasi bahayanya.
"Secara umum kami melihat bahwa indeks ketangguhan daerah (IKD) Jogja itu sedang dalam melakukan mitigasi bencana," ungkapnya.
Pihaknya juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada BPBD Kota Jogja diantaranya dengan membentuk forum pengurangan risiko bencana (FPRB), mengevaluasi dan memperkuat Kampung Tangguh Bencana (KTB) dan Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana). "Termasuk sumber daya manusianya. Karena bisa direview lagi di masing-masing wilayah apakah kerentanan bencana tertentu itu masih ada di wilayah setempat," ujarnya.
Perwakilan Pusdalops BPBD Kota Jogja, Suyatman menyampaikan, penyusunan kajian risiko bencana itu telah dimulai sejak Maret lalu dan proses dilakukan selama 60 hari kalender. Kajian risiko bencana itu nantinya akan dijadikan dasar untuk menjadi kebijakan dalam penanganan dan juga mitigasi kebencanaan di Jogja.
"Data yang diambil merupakan kejadian yang sebelumnya telah terjadi di suatu wilayah kemudian diolah kembali," katanya.
Peta risiko yang sebelumnya telah ada juga dijadikan rujukan untuk diperbaharui. "Dari hasil kajian ini nanti akan disusun dokumen rencana penanggulangan bencana yang memuat program dan kebijakan untuk mewujudkan penanggulangan bencana di Jogja," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pedagang tuna netra Gilang Rizki kini mendapat tempat berjualan di Pasar Ngasem setelah sempat ditegur karena berjualan secara asongan.
Pelajari cara membuat gambar dan mengedit foto dengan Gemini AI menggunakan prompt yang tepat agar hasil visual lebih akurat dan menarik.
Coba 4 gerakan olahraga ringan setelah bangun tidur selama 5–10 menit untuk membantu tubuh lebih bugar, lentur, dan siap beraktivitas.
Jadwal KRL Solo Jogja terbaru hari ini Rabu 29 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Tugu Jogja.
AS melarang impor robot humanoid dan inverter baru asal Tiongkok demi melindungi keamanan nasional serta infrastruktur AI domestik.
Jadwal salat Jogja Rabu 29 Juli 2026 untuk Kota Jogja, Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul berdasarkan Kemenag.