Penanggulangan Bencana Inklusi Butuh Keterlibatan Semua Orang

Lokakarya Inovasi: Identifikasi Permasalahan Penanggulangan Bencana di DIY yang diselenggarakanYakkum Emergency Unit secara daring pada 26 Mei 2021. - Harian Jogja - ist
31 Mei 2021 22:27 WIB Galih Eko Kurniawan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat ada sekitar 900.000 masyarakat Indonesia berasal dari kalangan difabel yang membutuhkan keterlibatan semua orang dalam penanggulangan bencana inklusi.

Hal itu diungkapkan Pelaksana Tugas Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, dalam Lokakarya Inovasi: Identifikasi Permasalahan Penanggulangan Bencana di DIY yang diselenggarakanYakkum Emergency Unit secara daring pada 26 Mei 2021.

“Bencana bersifat multidimensional sehingga memerlukan keterlibatan semua sektor atau kolabotasi pentahelix yang melibatkan semua pihak, pemerintah, media, pakar, lembaga swadaya masyarakat serta organisasi masyarakat yang merupakan elemen penting,” ungkapnya dalam rilis Yakkum Emergency Unit kepada Harian Jogja, Senin (31/5/2021).

Sekretaris Umum Asian Disaster Reduction and Response Network (ADRRN), Takeshi Komino, memaparkan inovasi kemanusiaan merupakan proses berulang guna mengidentifikasi, menyesuaikan dan menyebarkan ide-ide untuk meningkatkan aksi kemanusiaan.

Inovasi tidak sama dengan solusi indah untuk membantu seluruh orang di dunia, ada perbedaan antara inovasi dan penemuan. “Inovasi tidak sama dengan penemuan. Pengetahuan tradisional bisa dipakai untuk menciptakan inovasi berbasis kearifan lokal yang efektif dan tepat sasaran membantu masyarakat di daerah,” paparnya.

Direktur YEU, Sari Mutia Timur, mengatakan Lokakarya Inovasi merupakan rangkaian kegiatan dari ide inovasi aksi inklusi (Ideaksi) Yakkum Emergency Unit untuk mencari ide inovasi-inovasi dari kelompok masyarakat yang inovatif dan inklusif dalam penanggulangan kebencanaan untuk kelompok paling rentan dan difabel.

Lokakarya ini membimbing 15 kelompok inovator lokal DIY yang lolos tahap penyeleksian Kompetisi Ideaksi. Kelompok-kelompok tersebut akan mengikuti empat rangkaian lokakarya selama Mei dan Juni 2021.

Mereka dibimbing untuk menyelesaikan masalah kebencanaan di wilayah secara kreatif, mempertajam solusi melalui proses berulang yang melibatkan kelompok rentan dalam tahap penilaian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.