Advertisement

Leptospirosis Mengganas, Seorang Warga Bantul Meninggal Dunia

Ujang Hasanudin
Senin, 20 Juni 2022 - 13:07 WIB
Bhekti Suryani
Leptospirosis Mengganas, Seorang Warga Bantul Meninggal Dunia Ilustrasi leptospirosis, - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL-Dinas Kesehatan mencatat satu orang diketahui meninggal dunia karena positif terkena penyakit leptospirosis. Sementara puluhan lainnya menjalani perawatan di rumah sakit akibat penyakit yang disebabkan air kencing tikus tersebut.

Kepala Seksi Penyendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul, Abednego Dani Nugroho mengatakan data kasus leptospirosis selama 2022 sampai Mei lalu terdapat 33 kasus, “Positif satu orang di antaranya meninggal dunia,” kata Abednego, saat dihubungi Senin (20/6/2022).

Abednego memaparkan awalnya ada empat orang meninggal dunia yang diduga terkena penyakit leptospirosis, namun dari hasil pemeriksaan laboratorium hanya satu orang yang dinyatakan positif leptospirosis, sementara tiga lainnya tidak terbukti meninggal karena leptospirosis.

Sementara tahun lalu Dinas Kesehatan mencatat ada 42 kasus leptospirosis dengan dua kematian. Menurut Abednego, kematian karena leptospirosis biasanya ada penyakit penyerta yang membahayakan seperti ginjal dan diabetes.

Karena itu pihaknya mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, karena leptospirosis ini merupakan penyakit endemis di Bantul setelah Demam Berdarah Dengue (DBD). Berbeda dengan DBD yang ditularkan oleh nyamuk, penyebab leptospirosis adalah bakteri leptospira yang ditularkan ke manusia  via binatang, utamanya rhodent (binatang pengerat).

“Di Bantul dan Indonesia, paling sering adalah tikus. Leptospira dari cairan tubuh tikus masuk ke manusia lewat luka terbuka,” jelasnya,

BACA JUGA: Ada Cerita tentang Sejarah Rempah di Teras Malioboro I

Adapun gejala yang dirasakan jika tertular leptospirosis, penderita biasanya akan merasakan demam tinggi menggigil, sakit kepala, mual disertai menurunnya nafsu makan, nyeri pada beberapa bagian tubuh serta kulit berbintik merah

Masyarakat dihimbau untuk selalu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selain itu selalu mencuci tangan dan kaki sebelum dan sesudah beraktivitas, utamanya aktivitas yang berdekatan dengan sarang-sarang tikus, seperti sawah, sungai, kandang, atau kebun yang kotor yang bisa dijadikan sarang tikus berkembang biak.

“Rutin membersihkan lingkungan dengan memakai alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan, utamanya saat musim hujan yg berpotensi banjir atau air tergenang,” ujar Abednego.

Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Budi Raharjo, beberapa waktu lalu, menyampaikan bahwa potensi penyakit leptospirosis bisa timbul dari kondisi lingkungan yang tidak bersih. Sebab dengan kondisi lingkungan atau rumah yang kotor sangat mungkin menjadi tempat bersarangnya hewan seperti tikus. Bahkan juga hewan nyamuk yang membawa penyakit Demam Berdarah Dengue.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Top 7 News Harianjogja.com 2 Juli 2022

Top 7 News Harianjogja.com 2 Juli 2022

Jogjapolitan | 12 hours ago

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kena Covid, Korea Utara Salahkan Balon Udara dari Korea Selatan

News
| Sabtu, 02 Juli 2022, 16:27 WIB

Advertisement

alt

7 Makanan Indonesia Favorit Dunia

Wisata
| Sabtu, 02 Juli 2022, 11:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement