Advertisement

Proyek Kelok 18 JJLS Bantul-Gunungkidul Tersendat Tanah Tutupan, Ini Penjelasannya

Ujang Hasanudin
Kamis, 14 Juli 2022 - 20:27 WIB
Budi Cahyana
Proyek Kelok 18 JJLS Bantul-Gunungkidul Tersendat Tanah Tutupan, Ini Penjelasannya Proses pembangunan jembatan yang menghubungkan ruas JJLS perbukitan Rowari di Kalurahan Tepus, Tepus. Foto diambil beberapa waktu lalu. - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Pembangunan Kelok 18 yang menjadi bagian Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) penghubung Bantul dan Gunungkidul tersendat tanah tutupan.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Bantul, Supriyanto mengatakan JJLS di Bantul dari Srandakan sampai Kretek atau dari barat ke timur sudah terbangun dan tinggal menyisakan pembangunan Kelok 18 yang masih dalam tahap pembebasan lahan.

BACA JUGA: Sudah Selesai, Kapan Jembatan Kretek II di JJLS Bantul Bisa Dilewati Masyarakat?

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Ia mengatakan sejak 2017 sampai pertengahan 2022, total lahan yang sudah dibebaskan seluas 161.131 meter persegi. Tahun ini, lahan yang dibebaskan ada 43 bidang atau 35.372 meter persegi. Sebagian besar adalah tanah warga dan Sultan Ground (SG). Sementara yang belum beres adalah tanah tutupan.

Menurutnya pembebasan tanah tutupan belum kelar karena warga tetap minta ganti rugi, sementara pemerintah belum memiliki acuan hukum untuk ganti rugi. “Sementara ini kami masih proses pengukuran dan pematokan,” katanya.

BACA JUGA: Wow! Kelok 18 JJLS DIY Akan Dilengkapi Rest Area di Puncak

Sebelumnya, Kepala Desa Parangtritis, Topo mengatakan persoalan tanah tutupan belum selesai karena terkena JJLS. Sementara, tanah yang tidak terkena JJLS rencananya akan dibuatkan sertifikat oleh pemerintah.

Kelok 18, kata dia, melewati tanah tutupan di Grogol X. Lahan tersebut dikelola oleh warga Grogol VII-Grogol X. Topo mengatakan tanah tutupan adalah tanah yang tidak jelas kepemilikannya secara hukum. Tanah tersebut dulunya milik warga dengan bukti Leter C di Kantor Pemerintah Desa. Namun pada 1943 saat Jepang masuk Indonesia diambilnya dan Leter C di Desa dicoret dengan tinta merah. Warga sekitar menamainya tanah tersebut adalah tanah tutupan.

BACA JUGA: JJLS Ditarget Rampung Medio 2024, Ini Tantangan yang Harus Dihadapi Pemerintah

Advertisement

Sampai Jepang keluar dari Indonesia, status tanah tersebut tidak pernah dikembalikan ke warga kemudian diklaim milik pemerintah. Namun ahli waris pemilik lahan sampai sekarang mengelola tanah tutupan tersebut.

Menurut Topo dari 105 hektare tanah tutupan, yang terkena JJLS sekitar 10 hektaran di Dusun Grogol VII dan VIII. Para pengelola lahan tutupan tersebut, kata dia, minta ganti rugi, “Mereka sepakat minta ganti rugi,” kata Topo.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Surat Pemecatan Fredy Sambo Sudah Ditandatangani Presiden Jokowi

News
| Jum'at, 30 September 2022, 19:47 WIB

Advertisement

alt

Hadir Tempat Glamping Baru di Jogja, Arkamaya Sembung Namanya

Wisata
| Jum'at, 30 September 2022, 15:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement