RSPS Bantul Raih ISO 27001:2022, Perkuat Keamanan Data Pasien
Sertifikasi ISO 27001:2022 ini menjadi bukti keseriusan RSUD Panembahan Senopati Bantul dalam memberikan layanan yang aman dan profesional
Penyaluran BBM oleh Pertamina Regional Jawa Bagian Tengah./Istimewa-Pertamina
Harianjogja.com, BANTUL—Para petani di Bantul sudah ancang–ancang untuk menggunakan pompa listrik dalam pengairan lahan pertanian ketimbang menggunakan pompa berbahan dasar bahan bakar minyak (BBM) yang terus naik. Selain itu dengan pompa listrik lebih irit daripada pompa BBM.
Saat ini pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi jenis pertalite. Sebelumnya pemerintah juga sudah menaikkan BBM non subsidi jenis pertamax.
Ketua Kelompok Tani Nawungan, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Bantul, Juwari mengatakan total ada 250-an petani di Nawungan. Sebagian sudah menggunakan pompa listrik untuk pengairan lahan bawang merah, “Tapi masih ada sebagian yang menggunakan pompa berbahan BBM,” katanya, saat dihubungi Selasa (23/8/2022).
Menurut Juwari sebenarnya pompa listrik lebih hemat ketimbang pompa berbahan BBM. Ia mencontohkan untuk pengairan lahan bawang merah 1.000 meter persegi hanya membutuhkan biaya pulsa listrik sekitar Rp50.000. Sementara untuk pompa BBM dengan luasan yang sama membutuhkan biaya Rp600.000.
Biasanya petani menggunakan BBM jenis pertalite yang dibeli di pengecer di warung-warung. Juwari mengatakan jika harga BBM kembali naik maka akan sangat memberatkan petani karena biaya pengeluaran akan lebih membengkak.
Saat ini petani mulai beralih ke pompa listrik. Namun persoalannya pompa listrik tidak mudah. Butuh jaringan listrik dan pemasangan listrik yang membutuhkan biaya pemasangan sekitar Rp2,5 juta dan pompa modifikasi listriknya Rp2,5 juta, “Sekarang sudah sekitar 15an petani yang yang mengusulkan pemasangan listrik untuk pengairan,” katanya.
BACA JUGA: Kakek Sekaligus Pemuka Agama di Bantul Diduga Cabuli Anak-Anak yang Jajan di Warungnya
Ia berharap ada bantuan pemerintah untuk pemasangan jaringan listrik. Senada, salah seorang petani di lahan pasir di kawasan Pantai Samas, Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, Sancoko mengatakan meski 50% lebih petani di lahan pasir saat ini telah beralih menggunakan pompa air listrik namun masih banyak petani di lahan pasir yang masih mengandalkan irigasi dengan pompa air BBM, karena lahan pertanian jauh dari jalur kabel listrik PLN.
“Lahan pertanian yang tak jauh dari JJLS memang saat ini sudah menggunakan listrik untuk pompa air namun yang jauh dari jalur kabel listrik PLN masih menggunakan pompa bensin,” katanya. Dengan adanya kenaikan BBM dipastikan menambah biaya pengeluaran.
Menurutnya untuk pompa BBM dalam dua kali siram pagi dan sore menghabiskan dana Rp40.000 biaya pembelian BBM. Namun setelah menggunakan listrik dalam dua kali siram pagi dan sore hanya butuh biaya Rp10.000. Sebenarnya, kata dia, pompa listrik lebih ngirit namun petani terpaksan menggunakan pompa BBM karena belum ada jaringan listrik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah menegaskan visi Presiden Prabowo Subianto mewujudkan anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing pada 2045 melalui berbagai program priorita
IHSG hari ini dibuka melemah ke level 5.884,96 dipicu tekanan saham BBCA, BREN, dan BBRI. Investor masih menanti sentimen ekonomi dan arus modal asing.
Harga cabai rawit merah di PIHPS Nasional mencapai Rp91.650 per kg pada Senin, sementara telur ayam ras dijual Rp29.500 per kg.
SHOW Token mengalokasikan pendanaan US$100 juta untuk industri film Indonesia melalui teknologi blockchain dan memperluas ekosistem ekonomi kreatif.
BPJPH mempercepat sertifikasi halal UMK melalui Program SEHATI untuk memperkuat ekosistem halal nasional dan daya saing wisata halal Indonesia.