Advertisement

Hanya 1,6 Juta Warga Indonesia Bekerja di Sektor Maritim, Ternyata Ini Penyebabnya..

Sunartono
Kamis, 25 Agustus 2022 - 12:37 WIB
Bhekti Suryani
Hanya 1,6 Juta Warga Indonesia Bekerja di Sektor Maritim, Ternyata Ini Penyebabnya.. Kuliah umum yang bertajuk Strategi Keamanan Nasional Menuju Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, Rabu (24/8), di Ruang Seminar, Sekolah Pascasarjana UGM. - Ist/Humas UGM.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Meski dikenal sebagai negara maritim oleh dunia, namun persentase masyarakat Indonesia yang bekerja di sektor ini masih sangat kecil. Bahkan tercatat hanya sekitar 1,6 juta penduduk saja yang menekuni bidang kemaritiman. Kenyataan ini rupanya tidak lepas dari doktrin Belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun. 

Materi ini dibahas dalam kuliah umum bertajuk Strategi Keamanan Nasional Menuju Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, Rabu (24/8), di Ruang Seminar, Sekolah Pascasarjana UGM. 

“Penduduk kita masih tergantung atau berorientasi pada darat, dengan kehidupan laut hanya 0,9 persen saja atau sekitar 1,6 juta penduduk. Ini keyakinan bahwa bangsa agraris itu merupakan upaya Belanda menjajah 350 tahun, sehingga kita sangat sulit untuk lepas dari daratan,” kata Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sesjen Wantannas) Republik Indonesia, Laksdya TNI Harjo Susmoro dalam rilis yang diterima Kamis (25/8/2022). 

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Ia mengatakan pola pikir cenderung ke daratan ini perlahan harus diubah. Caranya dengan mengembangkan budaya maritim secara terus menerus dilakukan, karena hal ini butuh proses selama bertahun-tahun. Karena kekayaan laut Indonesia sangat berlimpah sehingga banyak harapan dan peluang bagi generasi muda untuk terjun. Posisi perairan Indonesia berada di posisi strategis bagi pelayaran dan perdagangan internasional. 

“Perairan Indonesia berada pada posisi silang dan termasuk kita punya 4 dari 9 choke point dunia. Potensinya sangat besar dan ke depan harus dikelola dengan baik,” katanya. 

Harjo menambahkan sebelum penjajahan Belanda, Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang kuat. Pascapenjajahan sebagian besar masyarakat Indonesia bergerak di bidang agraris.“Selama penjajahan  tidak hanya kekayaan alam kita yang dikuras tapi jiwa, semangat dan karakter rakyat yang sebagian besar bahari diubah menjadi agraris,” jelasnya. 

Guna mendukung kembalinya kedaulatan dan kemandirian maritim, diperlukan upaya untuk membangun kembali budaya maritim, menjaga dan mengelola sumber daya laut, prioritas pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim, memperkuat diplomasi maritim, dan kewajiban untuk membangun kekuatan maritim. 

BACA JUGA: Pimpinan Sidang Etik Ferdy Sambo adalah Mantan Kapolda DIY Ahmad Dofiri

Ia menilai maritim itu bisa menjadi media pemersatu bangsa, media perhubungan, media penyedia sumber daya alam, media membangun pengaruh dan media pertahanan dan keamanan. Akan tetapi penguatan kualitas sumber daya manusia dalam membangun pengelolaan sistem keamanan nasional serta memiliki keuletan dan ketangguhan yang tinggi dalam bekerja. 

Advertisement

“SDM kita harus juga ditanamkan jiwa kemandirian untuk lebih bangga pada produk negeri sendiri, mampu memperkuat demokrasi, meningkatkan persatuan nasional dan meningkatkan martabat bangsa di tingkat internasional,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Top 7 News Harianjogja.com Jumat, 7 Oktober 2022

News
| Jum'at, 07 Oktober 2022, 07:09 WIB

Advertisement

alt

Satu-satunya di Kabupaten Magelang, Wisata Arung Jeram Kali Elo Terus Dikembangkan

Wisata
| Kamis, 06 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement