Advertisement

Cegah Kerusakan Bangunan Heritage Jadi Tempat Wisata, Begini Saran Pakar

Sunartono
Minggu, 28 Agustus 2022 - 07:57 WIB
Sirojul Khafid
Cegah Kerusakan Bangunan Heritage Jadi Tempat Wisata, Begini Saran Pakar Candi Borobudur. - JIBI/Rachman

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Banyaknya bangunan cagar budaya memiliki potensi pengembangan bisnis di sektor yang besar. Akan tetapi kerusakan menjadi salah satu dampak yang harus dipikirkan sejak awal oleh pemerintah. Isu ini dibahas dalam Diskusi Sakapari 10 bertajuk Curating The Past, To Build Architecture Business secara daring, Sabtu (27/8/2022).

Pakar Arsitektur Universitas Islam Indonesia, Arif Wismadi, mengatakan pemerintah harus jelas menempatkan bangunan cagar budaya pada tipe bisnis tertentu. Antara lain short head atau jumlah bangunan sedikit dengan popularitas tinggi dan long tail bangunan yang banyak dengan popularitas tidak signifikan. Ia mencontohkan seperti Borobudur merupakan kategori short head karena tidak bisa ditemukan di beberapa negara. Oleh karena pengunjung di Borobudur sangat banyak dampaknya tentu adalah kerusakan.

"Dampaknya yang harus dipikirkan, karena ini berkaitan dengan azas keadilan untuk generasi berikutnya agar tetap bisa menikmati heritage ini. Bisa kita lihat bagaimana ketika Borobudur dibersihkan ada 3.000 permen karet yang menempel, ini yang harus diperhatikan pada bangunan Heritage lain juga," kata Wismadi saat dipantau Harian Jogja lewat YouTube, Minggu (28/8/2022).

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

BACA JUGA: Dukung Pengajuan Sumbu Filosofi, Puluhan Perempuan Bersanggul dan Berkebaya Fashion Show di Malioboro

Arif mengatakan pemerintah saat ini sudah menaikkan harga tiket Borobudur. Hanya saja dengan harga yang relatif tinggi tersebut tidak memberikan jaminan kepada wisatawan mendapatkan nilai layanan berbeda dari tarif tiket sebelum naik. Karena bentuk layanan masih sama dengan sebelumnya. Oleh karena itu, Arif menilai pentingnya konsep experience economy dengan menciptakan pengalaman berkesan bagi pengunjung.

"Ketika ada experince economy harga meningkat namun tidak harus merusak. Seperti di Prambanan misalnya ketika untuk prewedding itu membayar sampai Rp1,7 juta misalnya, ini adalah experience economy. Mungkin bisa kita diskusikan untuk diterapkan di cagar budaya lain dengan konsep hampir sama," katanya

Pakar Heritage Tourism dari University Malaysia, Nangkula Utaberta, menyatakan sebagian besar pakar menilai bahwa ketika bangunan cagar budaya dijadikan tempat wisata maka akan muncul banyak persoalan. Di sisi lain, hampir semua negara mengandalkan wisata untuk menambah pendapatan nasionalnya.

"Sehingga bagaimana proses kurasi terhadap heritage ini bisa dilakukan dengan ketat sebelum ditetapkan sebagai heritage building. Melalui berbagai mekanisme yang mungkin setiap negara akan punya konsep berbeda," katanya.

BACA JUGA: Dulu Diragukan, GeNose C19 UGM Kini Berkembang untuk Deteksi Penyakit Lain

Advertisement

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Pukat UGM Ajak Masyarakat Bersuara Soal RUU Perampasan Aset Negara

News
| Selasa, 04 Oktober 2022, 23:57 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement