Advertisement
FKY 2022 Bertema Mengelola Air dan Tanah, Disbud DIY Akomodasi Potensi Budaya

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY menggelar sosialisasi penyelenggaraan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2022 pada organisasi perangkat daerah (OPD) lain dan disbud di tingkat kabupaten serta kota di DIY, Rabu (7/9/2022). Mengusung tema Mengelola Air dan Tanah, Disbud DIY berharap FKY dapat mengakomodasi nilai dan potensi budaya di DIY.
Kepala Seksi Seni Disbud DIY Aryanto Hendro dalam pembukan kegiatan tersebut menyebut FKY akan digelar di beberapa lokasi dan dibuka pada Senin (12/9/2022) di Teras Malioboro. “Harapannya nanti bisa dibantu oleh OPD dan lembaga-lembaga lain agar gelaran ini dapat sukses,” ujarnya, Rabu pagi.
Advertisement
Hendro menyebut FKY bukan hanya milik Disbud DIY atau Pemda DIY, tetapi milik bersama masyarakat DIY. “FKY jadi penanda penting pagelaran seni dan budaya di DIY. Ini menjadi tugas bersama kita untuk menyukseskan dan memeriahkannya,” kata dia.
FKY yang pertama kali digelar pada 1980, menurut Hendro, mencoba untuk selalu mengangkat nilai-nilai dan potensi budaya yang ada di DIY. "FKY jadi tanda penting bagi keistimewaan DIY, sebagai bentuk penegasan eksistensi untuk terus menjaga keistimewaan DIY,” ujar dia.
Ketua FKY Doni Maulistya menyebut tema FKY kali ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi berbagai cara pemaknaan dan pendalaman berbagai praktik kebudayaan. “FKY dapat memperdalam pembicaraan terkait air dan tanah, baik yang sudah berdaya hingga belum berdaya,” jelasnya, Rabu.
BACA JUGA: Bansos BBM untuk Warga Jogja Akan Disalurkan Lewat Aplikasi
Perubahan dari festival seni ke festival kebudayaan, menurut Doni, terjadi pada 2019 untuk melebarkan fokus FKY. “Sekup kebudayan tentu lebih luas, sehingga fokus kami bukan lagi pada panggung tapi perekaman praktik kebudayaan dengan saling mengunjungi pusat-pusat kebudayaan yang ada termasuk komunitas di dalamnya,” ujarnya.
Kunjungan dari satu komunitas ke komunitas lain tersebut, lanjut Doni, diharapkan dapat jadi wahana pertukaran nilai dan potensi budaya yang ada. “Sehingga sirkulasi kekayaan kebudayaan yang ada dapat terjadi dengan merata dan tidak terpusat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Korban Gempa di Myanmar Terperangkap Enam Hari, Diselamatkan Tim SAR Malaysia
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Sempat Jadi Pintu Masuk, Exit Tol Tamanmartani Dialihkan Jadi Pintu Keluar Kembali
- Ribuan Orang Padati Pantai Parangtritis, Mayoritas Rombongan Keluarga
- Dishub Kota Jogja Pasang APILL Portable, Ini Lokasinya
- Setelah Lebaran, Mobilitas Warga DIY untuk Silaturahmi
- Mau ke Malioboro? Parkir di Gor Amongraga, Ada Shuttle Bus Siap Mengantar
Advertisement
Advertisement