Advertisement

Valensi Surya Permana, Jadi Jutawan Muda karena Bebek Beku

Yosef Leon
Sabtu, 17 September 2022 - 13:07 WIB
Arief Junianto
Valensi Surya Permana, Jadi Jutawan Muda karena Bebek Beku Valensi Surya Permana, alumnus SMK 1 Bokpri Jogja yang sukses berkat usaha bebek frozen yang dimulainya sejak pandemi Covid-19 melanda. - Harian Jogja/Sunartono

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA — Pandemi Covid-19 tidak hanya menghasilkan cerita dan kisah duka. Sebagian orang justru menjadikan momentum pagebluk jadi spirit baru untuk bangkit dalam menatap masa depan.

Salah satunya Valensi Surya Permana, alumnus SMK 1 Bokpri Jogja yang sukses dengan usaha bebek beku (frozen) hingga omzetnya mencapai Rp1 miliar per bulan. 

Kisah Valensi dengan usaha bebek frozen-nya dimulai saat pandemi Covid-19 menghantam seluruh sektor kehidupan. Virus yang menyebar dengan cepat membuat aktivitas manusia harus dibatasi. Orang dilarang keluar rumah, aktivitas yang menimbulkan kerumunan dibubarkan, bekerja dan sekolah pun dialihkan secara daring untuk memutus mata rantai sebaran virus. 

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Pertengahan 2020, saat kasus pandemi Covid-19 sedang tinggi-tingginya, Valensi balik ke kampung halamannya di Wonogiri, Jawa Tengah lantaran aktivitas sekolah sepenuhnya dilaksanakan secara daring. Saat itu, dia masih duduk di Kelas XI SMK 1 Bokpri Jogja. Dia mengaku bosan dan bingung dengan perubahan gaya hidup yang tak lagi sama saat sebelum pandemi merebak. 

"Saya bingung dan bosan karena di rumah minim aktivitas, sementara sekolah hanya lewat daring dan otomatis jadi berpikir aktivitas apa yang bisa dimulai," kata Valensi yang sekarang kuliah di salah satu kampus swasta di Jogja.

Pilihannya jatuh untuk membuka usaha menjual bebek beku atau bebek frozen. Hal ini dipilihnya sekaligus untuk membantu keuangan orang tuanya yang juga terdampak pandemi Covid-19. Untuk membuka usaha ini, dia pun dipinjami modal oleh orang tua. Apalagi usaha penjualan bebek frozen saat itu belum banyak di wilayahnya, tentu jadi peluang yang menjanjikan. 

"Karena bingung di rumah mau ngapain trus kepikiran buka bebek frozen. Di Wonogiri memang belum banyak yang buka usaha ini, jadi peluangnya kan besar, juga bisa buat bantu keuangan keluarga," ujarnya. 

Di masa-masa awal membuka usaha, Valensi menjual bebek hasil ternak sendiri. Selang dua bulan kemudian dia memutuskan berhenti menggunakan skema demikian lantaran prosesnya yang rumit dan untung yang tidak seberapa.

Pengeluaran disebutnya jauh lebih banyak untuk mengurus keperluan bebek dan segala macam bentuk perawatannya. Ketika dijual, selisih pendapatan dan pengeluaran tak memenuhi ekspektasi. "Rugi kalau skemanya seperti itu. Pengeluarannya jadi lebih banyak. Setelah dua bulan saya putuskan beli dari peternak lain di Jawa Timur," ungkap dia. 

Advertisement

Bebek yang dipesannya dari peternak Jawa Timur itu dalam kondisi setengah beku. Sekali memesan, dia mengaku bisa mengambil sebanyak 500, 600, sampai 1.000 ekor. Bebek yang sampai dari pengiriman kemudian dimasukkan kembali ke lemari pendingin untuk dibekukan. 

Valensi menyebut, bebek masih menjadi daging konsumsi yang cukup laris di pasaran. Harganya yang terjangkau dan kualitas rasanya yang tak kalau jauh dengan daging lainnya membuat konsumen cukup meminati olahan daging ini.

Untuk harga jual, dia memberlakukan tarif yang sama kepada konsumen dalam dan luar pulau. Satu kilogram bebek beku dihargai Rp50.000. Namun, ada nominal pemesanan khusus untuk konsumen luar pulau. 

Advertisement

Promosi Riil

Ekpektasi untung besar tentu harus dimulai dengan usaha yang konkret. Setelah berganti mekanisme memperoleh bakan baku, Valensi getol mempromosikan dagangannya ke banyak orang. Ia memulai promosi langsung ke konsumen yang rill seperti warung pinggir jalan, usaha pecel lele dan lain sebagainya.

Usahanya terbukti ampuh. Perlahan-lahan konsumen mulai mengenal usahanya dan pemesanan mengalir deras, bahkan sampai dari luar pulau Jawa. "Saya jualan pertama masuk ke warung-warung. Menawarkan ke mereka. Dulu pertama ke warung makan dan pinggir jalan yang jual pecel lele. Dari mulut ke mulut akhirnya usaha saya berkembang. Saya juga promosi via sosmed. Kalau yang dari luar pulau mereka pesan via Whatsapp terus nanti barang saya kirim via kapal kargo," jelas dia. 

Penjualan bebek frozennya mencapai puncak pada saat omzet mencapai Rp1 miliar per bulan. Saat itu, Valensi mengaku bisa mendapatkan pesanan bebek sampai 30.000 ekor per bulan. Pembelinya kebanyakan dari luar pulau dan sekitaran pulau Jawa. Sementara dari Wonogiri hanya sedikit. Bahkan saat sepi pun penjualannya berkisar di angka hampir 10.000 bebek per bulan. 

Advertisement

"Pas omzet Rp1 miliar itu memang sedang naik-naiknya, saya bisa jual 30.000 bebek sebulan. Itu rekor tertinggi. Pembeli macam-macam ada yang dari luar pulau dan sekitaran Jawa juga banyak. Ada yang ke warung ada juga yang untuk dijual lagi," imbuhnya. 

Sekarang ia telah punya 10 karyawan yang bertugas mengantar, memotong dan mengemas bebek kepada pelanggan. Dia juga tengah membuka cabang baru di wilayah Jogja untuk mengakomodasi konsumen di Kota Pelajar. Sebab, pemesanan dari Jogja juga cukup signifikan dengan tiga sampai empat kali pengantaran selama seminggu. 

"Targetnya bulan ini operasional. Yang mengelola ada karyawan nanti. Pertimbangannya supaya lebih dekat saja, karena kan selama ini pulang balik terus bisa sampai tiga atau empat kali seminggu. Jadi nanti konsumen sudah bisa pesan langsung ke cabang Jogja kalau sudah operasional," jelas Valensi.  

Advertisement

Untung bersih yang diperoleh Valensi juga terbilang fantastis untuk anak muda seusianya. Dalam sebulan ia mengaku bisa mengantongi pendapatan bersih senilai Rp100 juta sampai Rp200 juta. Hanya saja, ia mengaku usaha itu hanya sekedar sampingan, ia memutuskan tetap melanjutkan ke jenjang kuliah meski pendapatan sudah ratusan juta per bulan.

"Cita-citanya mau jadi programmer. Sekarang lanjut kuliah di Jogja. Ini usaha sampingan saja sekaligus bantu orang tua. Kuliah juga sudah bayar sendiri dari hasil usaha. Saya memang sudah niat jadi programmer, jadi diniatkan lagi untuk kuliah," ungkap Valensi. 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

BKKBN DIY Gelar Wisuda Ratusan Lansia

BKKBN DIY Gelar Wisuda Ratusan Lansia

Jogjapolitan | 6 hours ago

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Bercuit Soal Pungutan Cek Fisik Kendaraan, Soleh Solihun Malah Didatangi Polisi

News
| Rabu, 28 September 2022, 02:37 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement