HUT Ke-17, STAR FM Perkuat Transformasi Jadi Media Multiplatform
STAR FM merayakan HUT ke-17 dengan tema LIM17LESS Beyond the Wave sebagai komitmen bertransformasi menjadi media multiplatform.
Ilustrasi kesehatan jiwa/JIBI
Harianjogja.com, SLEMAN - Kemudahan yang bisa didapat di banyak sektor saat ini, berdampak pada tingkat ketahanan remaja menghadapi masalah menjadi rendah. Hal ini berpotensi membuat remaja gampang stres.
Ketua Program Studi S1 Psikologi Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Annisa Warastri mengatakan remaja atau mahasiswa sekarang terlahir dalam kondisi yang serba mudah diakses dengan teknologi. Dia menganggap kemudahan ini membuat banyak remaja tidak kuat menghadapi masalah atau kesulitan yang muncul.
"Zaman sekarang misalnya, nyari buku kuliah gampang banget, googling jadi. Zaman dulu enggak ada Internet, masih jarang pakai ponsel. Dulu sebelum ada wifi pakai router, anak-anak zaman sekarang ponsel aja sudah smartphone semua," kata Annisa, Selasa (25/10/2022).
Dengan kemudahan tersebut, mereka jadi memble ketika diberikan sedikit tambahan beban. Padahal ketika mereka sudah bekerja, kesulitan lebih kompleks dari mencari pekerjaan.
BACA JUGA: BCS, Brajamusti dan Paserbumi Diskusi Satu Meja, Ini yang Dibahas..
Belum lagi gaya hidup mewah yang semuanya mempertimbangkan komentar teman dan orang lain. Menurut Annisa, mahasiswa lebih mendengar ucapan teman daripada orang tua.
Hal ini berpotensi membuat mahasiswa memiliki ukuran gaya hidup seperti yang dilakukan teman-temannya. Sementara kemampuan orang berbeda-beda.
Kemudahan juga berpengaruh pada tingkat usia orang dianggap remaja. Di Indonesia, umur remaja sampai 18 tahun. Sementara di beberapa negara lain, seseorang yang berumur 18 tahun sudah harus cari uang sendiri.
"[Kalau di negara] Kita enggak, sampai menikah masih tinggal sama orang tua,” katanya. “Ini kenapa anak-anak generasi sekarang lebih rapuh, karena kemudahan yang mereka dapatkan ini tidak sejalan dengan tingkat kesulitan yang mereka hadapi, akan jauh lebih kompleks," ujar dia.
Meski permasalahan ini sudah terlihat, tetapi dia belum memiliki solusi yang sekiranya cocok. Namun, dia menerapkan di kampusnya, setiap masalah yang terjadi di kehidupan nyata, akan diajarkan juga di kampus. Harapannya, mahasiswa memiliki gambaran kesulitan yang mungkin muncul serta gambaran solusinya, terutama setelah lulus.
"Mereka akan saya buat seolah-olah mereka sudah lulus, saya enggak peduli dengan kemudahan yang mereka dapatkan. Saya ajari anak-anak cara selesaikan masalah dengan mandiri dan sehat," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
STAR FM merayakan HUT ke-17 dengan tema LIM17LESS Beyond the Wave sebagai komitmen bertransformasi menjadi media multiplatform.
Pengalihan aset dan bisnis senilai total Rp85,7 triliun memperkuat InfraNexia dalam mengembangkan lebih dari 90% aset jaringan Telkom
DPRD Jogja mendorong retribusi sampah event insidentil segera diterapkan untuk mencegah masyarakat membayar layanan sampah dua kali.
Koops TNI Habema mengevakuasi warga dari Distrik Ugimba, Intan Jaya, Papua Tengah, menggunakan dua helikopter Bell di tengah konflik.
FKY 2026 digelar di Sleman pada 13–19 September dengan tema Aksara, melibatkan 850 seniman dan 200 stan UMKM budaya.
Harga telur anjlok di bawah Rp20.000/kg, peternak Jogja rugi hingga Rp6.000/kg dan membagikan lebih dari 1.000 ayam gratis.